Berita Internasional

More on this category »

Pengunjung

Categories

Advertise Box

Kampung Hijrah Residence

Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2022

Senin, 22 Mei 2017

Melihat Indonesia dari Sudut yang Berbeda

  
Mafaza-Online | Hari ini banyak muslim yang kecewa dengan ketetapan Allah akhir-akhir ini pada bangsa ini. Karena jalan kebaikan bagi indonesia (sesuai rencana sebagian kita) menjadi terhenti, dan tidak bisa dilihat kelanjutannya dengan ketetapan Allah akhir-akhir ini. Ketetapan yang saya maksud adalag hasil Pilkada jakarta kemaren dan eksesnya.

Saya ingin pinjamkan mata saya bagi yang membutuhkannya, melihat indonesia dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin terluput dari banyak orang, karena emang pengalaman hidup dan perjalanan hidup yang berbeda.

Duluuuuu(dulunya lama sekali  :D ). awal kuliah saya adalah simpatisan PKS, sejak saya punya hak pilih dan dikasih kesempatan memilih maka saya memilih PKS(PK) . Walau saya cuman simpatisan, tapi saya termasuk barisan yang paling depan untuk mempromosikan orang terdekat untuk milih pks, keluarga bahkan teman2 kuliah sekalipun.

Sampai akhirnya teladan2 petingginya membuat saya kecewa. Jika pembenci Pks anggap semua blunder pks dengan bersorak-sorai karena akhirnya punya senjata untuk mengolok-olok dan merendahkan/membungkam kader pks dalam perdebatan., maka saya melihat itu adalah pembersih bagi simpatisannya(wallahua'lam dengan kadernya).

Dari sisi saya yang simpatisan, Itu adalah kasih sayang Allah, pedih dan serasa tidak percaya namun dengan meredhai kenyataan pahit tersebut Allah lepaskan saya berharap dari makhluk, dari partai politik. Allah bahkan buat saya tobat nasuha untuk mengandalkan orang-orang politik sebagai penyelamat bangsa ini.  :D .. Allah buat saya merasakan pahitnya maksiat berharap pada makhluk (baik partai ataupun perseorangan).

Saat pembenci pks mentertawakan dan mengejek pks dulu, maka emang begitulah rasa pahit simpatisannya(terutama saya) pertama sadar dari ilusi berharap pada pks.

Setelahnya pengalaman itu saya bisa menyikapi semuanya dengan lebih jernih, melihat semua orang yg bertarung di kancah politik sesuai kenyataannya, mereka manusia biasa, ada salah ada benar, ada kepentingan , ada ambisi. Ngga ada yang wali apalagi malaikat. Jadi ngga ada satupun yang saya harapkan untuk menjadi juru selamat.

Saat sesuai aspirasi saya, biasa saja, saat ngga sesuai juga biasa aja. Saya ngga jadi benci ke politik, tetap aja saya lihat itu adalah ladang saya untuk mendapat redha Allah. Dengan cara husnudhon dihal yg ghaib pada yg terlihat buruk, dan memilih berdasarkan data yang terlihat saja oleh saya. Mana yang terlihat dimata saya yang Allah sukai. Tanggung jawab saya ke Allah, hanya berbuat setakwa mungkin(sesuai syariat Allah) menyikapi hal2 yang terlihat oleh saya. sementara untuk yg masih ghaib dari saya, saya serahin ke Allah.

Sampai akhir 2013 Habib Munzir wafat. Saya dengan kehendak Allah berlabuh di aswaja. Sebenarnya saya udah lama ninggalin belajar agama dan sibukkan diri mempelajari ilmu2 dari sisi pencapaian manusia. Namun saat saya di aswaja, ilmu agama yang rasanya dulu terbatasi hanya mengenai bidah dan sunnah sempit(lahir) menjadi terbuka lebar dan emang sesuai dengan fokus saya saat itu, kepada pembersihan jiwa(tasawuf).

Sejak saat itu, saya ganti kaca mata saya mengenai kebaikan. Kebaikan adalah saat orang bisa lebih baik mengenal dirinya, yang menghasilkan semakin berkasih sayang dan hatinya semakin menerima orang yang berbeda dengannya. Dan puncak kebaikan saat manusia bisa berdamai dengan yang dia dengki. Jadi setiap Ketetapan Allah bagi bangsa ini saya lihat dari timbangan tersebut.


Dan saya melihat/saksikan semua ketetapan Allah adalah emang kebaikan bagi bangsa ini, sesuai dengan kacamata baru tersebut.

dulu awal 2014 saat saya google mengenai habib munzir, maka sangaaat sedikit yang akan kita temukan(kecuali di web MR saat itu yg tampilannya kurang friendly) Malahan top searchnya selain berita kewafatan beliau adalah tulisan2 yang berseberangan dengan beliau, yang jelek2in beliau  :D ... saya mencoba beberapa bulan untuk nyari bahan ajaran beliau untuk dipelajari. tapi tetap saja ngga ada. bahkan saya ingat meragukan adanya habib quraish al baharun, karena nama beliau ngga ada sama sekali di google.

setelah itu ada pilpres, kemenangan jokowi dan kekalahan prabowo. Saya termasuk pemilih prabowo, dan sejarah saya untuk inginkan beliau jadi presiden adalah cukup lama yaitu sejak awal 2000, karena saya dulu di menwa, jadi para tentara yang bina kami bercerita banyak ttg beliau. Jadi bisa dibilang sejak ada pilpres saya nunggu2 ada partai yang nyalonin beliau jadi presiden. Maka saat beliau akhirnya bisa berlaga di pilpres saya ngga terlalu tenggelam dalam semua carut marut pilpres saat itu. Saya ngga terpengaruh dengan yang muji(karena udah tau duluan) apalagi sama yg jelek2in dengan tendensius  :D.

Eh taunya Prabowo kalah, saya nangis loh  :D ... sekarang yang bikin saya patah hati bukan prabowonya, tapi Allah. Pelajaran selanjutnya bagi saya adalah, Walau orang itu baik dimata kita, ngga ada kesalahannya, tetap aja yang nentuin adalah Allah. Kebaikan yang mampu Allah liat untuk setiap ketetapan2Nya adalah lebih jauh dari yang manusia mampu lihat.

Setelah saya berdamai dengan ketetapan Prabowo kalah, maka saya lihat siapa yang dibersihkan, yg ditundukkan dengan ketetapan tersebut. Dan saya lihat PKS lah yang dibersihkan.

Jika dulu tokoh Pks adalah dari orang-orang yg punya PD tinggi(ujub) bahwa mereka orang-orang terbaik pilihan Allah(seperti yg juga dulu saya percayai sebagai simpatisan). Maka satu persatu pks berubah arah, bahkan akhirnya tokoh aswaja mendapat kesempatan mendominasi, seorang habib jadi ketua majelis syuronya.

Kekalahan/keterpurukkan/rasa terancam akan mengeluarkan versi terburuk kita dalam berusaha. Makanya disebut kefakiran mendekatkan pada kekufuran.

Kekalahan prabowo pun memunculkan Tokoh medsos dari simpatisan pks yg banyak pengikutnya tesebut  :D . Dan yang akhirnya membuat pks bercermin sendiri mengenai cara2 dan adab mereka selama ini di dunia nyata dan medsos.

Akhirnya terjadi pembersihan, bahkan seleb medsos itu sendiri mengakui bahwa dia sekarang udah ngga wakilin pks lagi, karena udha banyak dari pks yg menegur dirinya, dia sekarang ngebawa dirinya sendiri, tidak ada lagi yang dia tawadhu padanya.

sementara itu saat saya google kembali di internet subhanallah, dawah habaib tumbuh bak jamur di musim hujan. Postingan yang menjelekkan habib munzir ngga nambah, tapi postingan ilmu2 dari habaib(tidak hanya habib munzir) semakin banyak. Subhanallah. benar kewafatan beliau membuat bangkit ribuan pendawah lanjutin apa yang beliau tinggalkan  :'( .

Pks sebelumnya adalah wahabi versi teringannya. karena emang berpolitik, maka otomatis mereka harus melunakkan diri. apalagi dunia medsos membuat kita semakin bergaul dengan banyak kalangan. membaca dan dibaca orang lain.

selesai PKS maka tahap berikutnya adalah wahabi yang lebih kerasnya. Dan itulah hikmah dari rangakaian sejarah ahok menjadi gubernur kemaren. Ahok menjadi musuh bersama umat islam yg tidak suka adabnya, yg menolak aspirasi umat islam(sebagai yang dia pimpin) dengan arogan.

Lalu demo berjalan berdampingan berjilid-jilid, bahkan bisa istighasah di monas saat peristiwa keramat 212, Dari kacamata saya itu adalah mukjizat luar biasa. bukan dari jumlahnya saja, bahkan yang pro ahokpun saya tau ada yang ikut aksi tersebut, karena emang bentuknya bukan demo, melainkan istighosah bersama. Yang buat saya menyaksikan pekerjaan Allah adalah, saat orang yang selama ini menghinakan istighasah sebagai amalan yg bikin masuk neraka, mau ikut dalam barisan tesebut.

Berjuang berdampingan membuat kita mencintai teman seperjalanan kita, mau memahami dan berempati, melihat dari sisi orang lain. tidak seperti sebelumnya. Habaib yang dulu diperangi dan dikasih cap sesat, syiah, syirik. mulai di ikuti. Peran Habib Rizieq sangat besar disini.

ulama-ulama aswaja mulai muncul mendapat tempat karena aksi tersebut. Tentunya saya berharap saat udah bisa saling menerima perbedaan pemahaman satu sama lainnya, maka kita semua akan mulai fokus untuk melanjutkan perjalanan membersihkan hati dengan lebih dalam lagi. siap memulai perjalanan pada Allah seperti seharusnya.

maka Indonesia hari ini jauh lebih baik dimata saya., konsolidasi semakin dekat daripada masa sebelum2nya, konsolidasi dari hati. dan itu semua adalah pekerjaan Allah. Allah yang menetapkan jokowi menang sehingga kasih kesempatan ahok melakukan peran pentingnya yang udah dipersiapkan oleh Allah sejak jauh-jauh hari.

Dan sekarang pembersihan dimulai pada teman2 yang membenci umat islam yg udah mulai berkonsolidasi saat ini. Saya melihat adab2 buruk dan ngga pakai akal sehat mulai keluar karena kekalahan ahok kemaren.

Saya bisa memahami, karena emang udah pernah merasakannya lebih dahulu. Ini ibaratnya udah diatas puncak, lalu dibanting keras oleh Allah, buyar semuanya, lalu sekarang berusaha dengan segala daya yg tersisa untuk kembali naik ke atas, ke tempat yg telah nyaman selama ini di duduki. Hal yg sebenarnya telah dialami lebih dahulu oleh "lawan2 " anda.

Coba kita semua ganti kacamata, bahwa yang baik adalah hal-hal yg Allah sukai, bukan sekedar hal2 yg kita inginkan(yg menurut kita baik) dan yang Allah sukai adalah kita berdampingan bersaudara dari hati berkasih sayang dan bertoleransi. dan yang Allah benci adalah kita bertahan dalam permusuhan dengan sangat gigihnya.

Jika mau melihat demikian maka kita akan bersyukur memiliki Allah sebagai Tuhan kita, Yang begitu sabar mau membimbing kita semuanya, walau di suuzonin sama yg dibimbing/disayangi sekalipun.

Dan JANGAN UJUB, semua kebaikan yang terjadi adalah ketetapan Allah,bukan hasil usaha kita. Dan semua yang menyakitkan adalah obat ujub bagi kita. Jadi kalau mau hindari pil pait dari Allah, maka lebih baik kita sendiri yang singkirkan penyakit ujub dari dalam diri kita masing2

Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ada seseorang berkata, "Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak", maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka." (HR. Muslim)

Keterangan Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: "Larangan semacam di atas itu (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rusak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram.

wallahua'lam
Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim


Status FB Diah Listyani

Jumat, 28 April 2017

Gelar Islam Radikal dari Islamofobia

Media-media asing menyebut kemenangan Anies-Sandi sebagai kemenangan Islam radikal, Islam garis keras, dan Islam fundamentalis. Sejumlah, bahkan banyak, pihak di dalam negeri juga menyebut hasil Pilkada DKI 2017 sebagai kemenangan Islam radikal.

Para penuduh ini seperti sedang membuat orang-orangan sawah bahwa politik identitas sebagai hantu yang harus diusir. Intinya orang Islam itu tidak Pancasilais, anti-Bhinneka Tunggal Ika, dan tentu saja tak layak hidup di NKRI.

Bagi yang lama bergelut sebagai aktivis pergerakan Islam, tuduhan ini bukan stigmatisasi baru. Propaganda lama yang selalu diputar kala ada kebangkitan Islam politik. Jangankan Anies-Sandi, BJ Habibie pun saat mendirikan ICMI dan menjadi presiden mendapat stigma sama. Tentu saja itu lucu, geli, dan norak. Yang menuduh adalah orang-orang hebat. Tentu bukan karena mereka tak paham. Mereka paham sepaham-pahamnya. Lalu mengapa mereka membuat tuduhan semacam itu?

BJ Habibie tak pernah mesantren. Ia juga tak pernah ikut taklim. Saat SMA bersekolah di sekolah Kristen. Lalu sebentar kuliah di ITB, dilanjutkan kuliah di Jerman. Di negeri itu, ia menempuh pendidikan sarjana hingga meraih gelar doktor. Selanjutnya ia meniti karier di negeri itu hingga dipanggil pulang oleh Soeharto. Setelah sebentar di Pertamina, Habibie menjadi menristek. Ia hanya bergulat dengan itu.

Namun panggung politik di akhir dekade 1980-an - saat generasi santri pertama yang bersekolah setelah kemerdekaan mencapai usia mapan dan menuntut ruang lebih baik -- membuat diriya terpilih menjadi ketua umum ICMI pada 1990.

Inilah interaksinya yang intens dengan kalangan Islam untuk kali pertama. Ia menjadi mendadak santri. Para pendiri ICMI adalah tokoh Islam dari kampus, birokrasi, dan LSM yang lahir pada 1940-an.

Nurcholish Madjid, M Dawam Rahardjo, M Amien Rais, Adi Sasono, dan lainnya di antara para pendiri itu. Mereka tentu jauh dari fakta sektarian dan anti-Pancasila. Namun gerakan ini distigma sebagai sektarian dan anti-Pancasila. Indonesia diharu biru dengan stigma itu. Habibie yang sebelumnya menjadi idola bangsa Indonesia, dari anak-anak hingga orang tua, menjadi orang paling rendah. Butet Kertaradjasa bahkan paling jago memarodikan dengan menirukan mimik, gerak, dan suaranya. Habibie menjadi bahan tertawaan.

Saat ia menjadi presiden, seolah tiada hari tanpa demonstrasi. Hingga akhirnya pertanggungjawabannya ditolak MPR. Habibie demokrat sejati. Karena pertanggungjawabannya ditolak, ia menolak dicalonkan kembali menjadi presiden pada periode berikutnya. Masa kekuasaannya yang singkat, dicatat dengan tinta emas. Ia membebaskan semua tahanan politik. Bahkan di antara mereka kemudian menjadi tokoh yang ikut mendemo dirinya di hari-hari tanpa sepi unjuk rasa itu.

Ia juga melakukan liberalisasi di berbagai sektor. Tak hanya di bidang politik, tapi juga ekonomi. Perundang-undangan yang menjadi basis kebebasan sipil dilahirkan. Tak ada regulasi yang ia lahirkan sebagaimana yang distigmakan itu. Ia dikenal sebagai satu-satunya presiden yang berhubungan baik dengan semua golongan dan semua mantan presiden - kecuali dengan Soeharto. Kini, ia legenda dan teladan dalam moralitas bernegara dan berbangsa.

Sebagian orang yang memusuhinya, kini menyesali kelakuannya menjatuhkan Habibie. Bagaimana dengan Anies dan Sandi? Saat mahasiswa, Anies aktif di HMI. Ia menempuh pendidikan di sekolah negeri di Yogyakarta. Setelah itu, ia kuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Pendidikan master dan doktoralnya di Amerika Serikat (AS).

Pulang dari sana, ia menjadi direktur riset di Indonesia Institute. Lalu menjadi rektor Universitas Paramadina, universitas yang didirikan Nurcholish Madjid. Ia juga memimpin gerakan Indonesia Mengajar. Pemikirannya liberal dan sekuler. Ia pembaca manifesto saat deklarasi ormas Nasdem. Ia ikut konvensi capres Partai Demokrat, namun kemudian menjadi juru bicara pasangan Jokowi-Kalla pada Pilpres 2014. Dari situ, ia menjadi deputi di Kantor Transisi yang dipimpin Rini M Soemarno.

Lalu ia menjadi mendikbud di kabinet Jokowi. Ia tak pernah mengikuti gerakan keagamaan berbasis pengajian.

Sandi adalah anak kosmopolit. Pendidikan SD dan SMA di sekolah Kristen dan Katolik. Setelah itu, ia menempuh pendidikan sarjana dan masternya di AS. Sebelum menjadi pebisnis, ia pegawai di Bank Summa, juga menjadi ekspatriat di Singapura dan Kanada.

Setelah krisis global, ia menjadi pebisnis. Ia memiliki hubungan baik dengan taipan William Soerjadjaja, bahkan menjadi mitra bisnis Edwin Soerjadjaja. Ia bermitra dengan teman-temannya saat SMA maupun saat kuliah di AS, dari beragam etnik dan agama. Ia tak pernah ikut gerakan keagamaan berbasis pengajian. Ia pernah menjadi ketua umum HIPMI dan kini salah satu ketua Kadin. Akhirnya, ia terjun ke politik menjadi wakil ketua umum Gerindra.

Anies dan Sandi, tipikal generasi yang dididik keluarga baik-baik. Kedua orang tua Anies dosen di Yogyakarta. Mien Uno, ibunda Sandi, pendidik di sekolah kepribadian. Ayahnya, profesional di bidang pertambangan. Mereka menanamkan kehidupan religius kepada anak-anaknya. Namun kini, setelah menang pada Pilkada DKI Jakarta, keduanya mendapat stempel dan gelar baru: wakil Islam radikal.

Fakta terbuka di masa lalu masih begitu lekat dalam ingatan. ICMI memang organisasi kaum cendekiawan. Namun organisasi ini berpretensi untuk menjadi clearing house bagi seluruh elemen Muslim di Indonesia. Kendati begitu, di seluruh elemen kepemimpinan, yang bertahta adalah para cendekiawan dan ulama. Kini, Anies-Sandi hanya diusung Gerindra dan PKS. Namun ustaz-ustaz umumnya berlabuh mendukung pasangan ini. Ada pretensi untuk menghimpun seluruh pemilih Muslim.

Sejak 2015, para ustaz bergerak mengerem laju Ahok. Mereka mengusung banyak nama, namun tak ada nama Anies. Mereka juga melobi ke PDIP agar tak mencalonkan Ahok. Silakan pilih kandidat lain dan mereka siap berkampanye mendukungnya. Ketua umum ormas Islam besar bahkan harus dua kali melakukan lobi serupa. Para ustaz dan ulama sudah mendeteksi penolakan keras terhadap Ahok. Bukan hanya dari FPI saja misalnya. FPI itu kecil sekali. Umat yang terbesar tetaplah berasal dari NU dan Muhammadiyah.

Hal itu kemudian dibuktikan data exit poll, sekitar 60 persen Muslim menolak Ahok. Dari data exit poll juga terungkap afiliasi politik mereka yang beragam, termasuk dari Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Namun stempel dan stigma telah dilekatkan. Tak perlu defensif. Ini bukan hal baru. Santai saja. Intinya, jika ada wakil dari Islam politik yang lahir dari rahim yang tak dikehendaki maka jadilah ia radikal, anti-Pancasila, anti-NKRI, anti- Bhinneka Tunggal Ika.

Lebih baik Anies dan Sandi membuktikan diri dengan kerja yang baik. Tapi jangan kaget pula jika nanti keriuhan akan terus terjadi seperti masa Habibie. Ini namanya Islamofobia alias anti-Islam.

REPUBLIKA.CO.ID


Dapatkan produk tren terbaru dengan harga dan kualitas terbaik

Memotong Sejarah Ulama

Dalam Sejarah Indonesia ada upaya melupakan peran Santri dan Tarekat

Sabtu, 28 Januari 2017

Patrialis Akbar, Salafi dan Ajakannya untuk Pegang Kekuasaan

Patrialis Akbar meenyampaikan sambutan pada peresmian PULDAPII
Patrialis menganggap wajib hukumnya mempersiapkan generasi muda untuk masuk ke semua lembaga negara
 
Oleh: Budi Marta Saudin, Lc

Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dalam beberapa kesempatan menyampaikan pentingnya umat Islam untuk masuk dalam pemerintahan. Alasan Patrialis sangat logis, dimana saat ini umat Islam butuh pemimpin agamis, karena, jika tidak dipegang oleh umat Islam maka kekuasaan akan dikendalikan oleh orang-orang jahat.

Pada Oktober 2015 lalu, saat menyampaikan sambutannya pada acara peresmian Perkumpulan Lembaga Dakwah dan Pendidikan Islam Indonesia (PULDAPII), Patrialis dengan terang mendorong agar lembaga yang bermanhaj Salaf ini menyiapkan kader-kadernya untuk masuk ke pemerintahan.

“Gak boleh kita lari dari kekuasaan,” kata Patrialis pada peresmian PULDAPII di Jakarta, Rabu (28/10/2015).

Patrialis menganggap wajib hukumnya mempersiapkan generasi muda untuk masuk ke semua lembaga negara. “PULDAPII Harus bisa menyiapkan pemimpin yang ulil albab,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan mantan Menteri Hukum dan HAM era SBY ini saat menyampaikan kuliah umum di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta pada April 2016 lalu.

Patrialis dengan terang mendorong agar alumni LIPIA bisa masuk ke lembaga negara seperti DPR.

“Lembaga-lembaga negara yang tersedia harus diisi orang-orang berakhlak dan berakidah kuat. Makanya, lulusan LIPIA harus berjuang keras supaya bisa masuk ke lembaga negara seperti DPR, MK, juga lembaga eksekutif menjadi menteri,” kata Patrialis Akbar, Jumat (15/4/2016)

Menurut Patrialis, lulusan LIPIA harus berjuang keras masuk ke lembaga negara agar negara ini bisa diisi oleh orang-orang dengan akidah kokoh, budi pekerti baik dan akhlak mulia.

“Kalau lembaga negara diisi orang-orang berakhlak dan berakidah kuat, kami yakin Indonesia bisa menjadi negara besar, makmur dan sejahtera,” paparnya.

Saat ini, kata Patrialis, terdapat masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Mulai dari pemerintah pusat sampai daerah banyak masalah karena lembaga negara tidak diisi orang-orang yang berakhlak mulia.

Baru-baru ini, saat memberi sambutan pada peresmian masjid As Sunnah Kota Cirebon, Patrialis juga menyampaikan betapa pentingnya  memegang kekuasaan seperti Gubernur dan Wali Kota.

“Jabatan itu sangat penting di negara ini, saya berharap kader-kader pesantren ini menjadi pemimpin bangsa. Anak muda harus bergerak, cita-citakan agar jadi Gubernur atau Wali Kota,” kata Patrialis, Ahad (5/6/2016).

Jabatan-jabatan tersebut, menurut Patrialis bukan tidak mungkin dapat diraih, karena saat ini negara mempersilahkan kepada siapa saja.

“Jabatan negara ini terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia. Jangan sampai yang menjadi pejabat orang-orang yang menghujat Islam, kita harus mempersiapkan diri, ” katanya dengan suara lantang.

Pernyataan yang sering dilontarkan politisi PAN ini membuat banyak tanya, apakah berarti dia mendorong agar lembaga-lembaga yang berafiliasi kepada manhaj salaf untuk membuat partai agar bisa memegang kekuasaan?.

“Tidak, tidak mesti masuk melalui partai. Sekarang itu sistemnya terbuka, tidak mesti melalui partai,” jawab Patrialis usai acara peresmian masjid As Sunnah Cirebon, Ahad (5/6/2016).
 “Gak boleh kita lari dari kekuasaan”

Apa yang disampaikan Patrialis adalah sebuah kenyataan, dimana saat ini bangsa betul-betul membutuhkan sosok pemimpin yang soleh.

Betul memang, masuk ke pemerintahan tidak mesti melalui partai, tetapi bukankah partai di negeri ini dianggap sebagai wadah paling strategis untuk memegang kekuasaan?, apalagi duduk di parlemen, adakah anggota DPR yang tidak masuk melalui jalur partai?.

Disinilah konsistensi diuji, apakah pendapat masuk pemerintahan atau parlemen tetap dianggap  haram mutlak ataukah masih bisa di utak-atik?. Kita lihat beberapa tahun kedepan. Allahu a’lam.


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Sebelumnya: 
 


Kamis, 17 April 2014

Menjaga Stabilisasi Harga dan Stok Kedelai

Persoalan pangan tampaknya akan menjadi persoalan serius yang dihadapi bangsa kita hingga beberapa tahun ke depan. Sebab hingga sembilan tahun kekuasaan Presiden SBY, ternyata masih tidak mampu mewujudkan swasembada pangan

Oleh: Aunur Rofiq*
Politisi DPP PPP 

Selasa, 15 Oktober 2013

Komitmen APEC Mendorong Konektivitas Kawasan

Kerja sama APEC dibentuk dengan pemikiran bahwa dinamika perkembangan Asia Pasifik menjadi semakin kompleks, sehingga diperlukan konsultasi dan kerja sama intra-regional.
Oleh: Aunur Rofiq, Politisi DPP PPP*

Sabtu, 13 Juli 2013

PASAR BEBAS ASEAN: Mengintip Kesiapan Indonesia

Ir Aunur Rofiq
Pada 2015, kalangan dunia usaha dan industry bersiap menghadapi Asean Economic Community (AEC) atau masyarakat ekonomi Asean.

Senin, 24 Juni 2013

Revolusi Sampah

Agar tak tergilas zaman, umat Islam harus bangkit. Mulailah dari yang kecil seperti, kebersihan. Orang yang biasa bersih badannya, jiwanya pun bersih. Bersih-bersih agar tidak membusuk, tidak jadi sampah revolusi!

Oleh Ir Aunur Rofiq*

Jumat, 07 Juni 2013

Mulai dari yang Halal

Di negara mayoritas muslim, makanan yang terjamin kehalalannya masih menjadi masalah

Oleh Ir Aunur Rofiq*

Senin, 28 Januari 2013

Satu Kata dan Perbuatan

Allah SWT berfirman, "Mengapa kalian mengajak orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri (akan kewajib-an)mu sendiri, padahal kalian membaca Al kitab? Maka tidaklah kalian berfikir?" (QS al-Baqarah [2]: 44).

Popular Post

K e l u a r g a

Ads Centre

Tarekat Idrisiyyah Sejarah dan Ajarannya

Terjemahkan Halaman

Tafakur

Jual Beli Motor

Berita Nasional

SAHABAT ALAM


=================================

MafazaOnline Peduli (MOP) Adalah dana yang dihimpun dari pembaca. Untuk membantu dakwah Islam.

Mari bersinergi, Kirim bantuan melalui Bank BCA norek 412 1181 643 a/n Eman Mulyatman

Setelah transfer kirim sms konfirmasi ke 0852-2095-0745 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/ Peruntukkan (Pilih salah satu) 1. Desa Binaan 2. Motor Dai 3. Peralatan Shalat 4. Wakaf Al-Qur’an 5. Beasiswa 6. Dunia Islam. Syukran Jazakumullah Khairan Katsira



 
Copyright © 2011. Mafaza Online: Sudut Pandang . All Rights Reserved