Kamis, 11 Januari 2024

Home » » AMIN Asa Baru Indonesia

AMIN Asa Baru Indonesia

Anies Baswedan
Anies Baswedan dinilai banyak pihak memenuhi kriteria itu. Kapasitas, integritas, intelektualitas, rekam jejak dan berbagai prestasi di pemerintahan yang ditorehkan calon presiden yang mengusung tagline perubahan itu, terbukti dan teruji di lapangan

Oleh: Rivai Hutapea (Alumni FH Universitas Gadjah Mada)

Mafaza-Online | Hanya menyisakan dua kali debat Capres/Cawapres lagi. Setelah itu, rakyat Indonesia akan menentukan pilihan politiknya. 


Pastinya, di bilik suara nanti, tidak akan ada terpampang foto presiden, wakil presiden. Tidak juga bakal ada CCTV yang terkonek ke istana, kantor BIN atau kantor pemerintah lainnya. 


Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memilih secara bebas. 

Silakan Klik:

Sahabat, saya sekadar ingin bertanya. Ya, sekadar bertanya mumpung bertanya tidak dilarang. Dari tiga pasangan calon, siapa kandidat yang sahabat akan pilih? 


Paslon nomor urut 1, 2 atau 3. Saya percaya nama mereka telah ada di kantong sahabat. 


Jika saya ditanya, maka saya akan menjawab tergantung. Jika diminta memilih dua, maka saya akan pilih Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.  


Tapi, kalau yang diminta hanya satu paslon. Maka, saya akan memilih paslon nomor urut satu.


Pilihan saya ke Anies-Imin adalah pilihan rasional, bukan emosional. Bila dasarnya adalah emosional, maka saya pastinya akan memilih Ganjar-Mahfud MD. 


Karena  Mas Ganjar adalah kakak angkatan saya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH-UGM). 


Begitu pula dengan Mahfud MD, saya pernah beberapa kali melakukan wawancara khusus dengan beliau. 


Baik saat beliau masih menjadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menjadi Menteri Pertahanan di era pemerintahan Abdurahman Wahid (Gus Dur) maupun di beberapa kesempatan lainnya. 


Saya yakin sahabat pasti penasaran dan akan bertanya. Di mana rasionalnya? 


Banyak pihak menilai, kondisi demokrasi di dalam negeri, tidak sedang baik-baik saja. Kehidupan politik, lebih-lebih dunia penegakan hukum, dinilai “ngeri-ngeri sedap”. 


Maraknya pejabat negara yang terjerat korupsi dan masuk bui, kasus yang menjerat Ketua KPK dan skandal pelanggaran etika “Paman Usman” yang meloloskan Gibran maju dalam kontestasi Pemilu 2024. 


Itu beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa kondisi negeri ini tidak sedang baik-baik saja.    


Situasi politik global juga dinilai tidak kurang “ngeri-ngeri sedap”nya. Perang Rusia-Ukraina, masih berlangsung. 


Belum lagi usai Perang Rusia-Ukraina, konflik antara rakyat Palestina dengan Israel kembali pecah. Telah lebih dari dua puluh dua ribu rakyat Palestina meregang nyawa, namun genosida tentara Israel kepada rakyat Palestina, belum ada tanda-tanda akan berakhir. 


Kondisi ekonomi global juga dinilai belum stabil. Beberapa kondisi global tersebut dinilai berdampak kepada situasi lokal Indonesia.


Karena itu, tidak berlebihan bila ada yang berpendapat tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, “luar biasa”. Logis bila pemimpin baru Indonesia adalah mereka yang “bukan biasa-biasa” saja. 


Anies Baswedan dinilai banyak pihak memenuhi kriteria itu. Kapasitas, integritas, intelektualitas, rekam jejak dan berbagai prestasi di pemerintahan yang ditorehkan calon presiden yang mengusung tagline perubahan itu, terbukti dan teruji di lapangan. 


Sosok Anies juga dinilai berbeda seratus delapan puluh derajat dari pemimpin sebelumnya. Ia tidak membangun legasi diri dari mitos yang akan mengontrol alam bawah sadar masyarakat untuk memilihnya. 


Anies sadar betul bahwa ia bukanlah pemimpin yang jatuh langsung dari langit yang memiliki kekuatan supernatural. Kapasitas, integritas dan intelektualitas itu adalah hal nyata yang harus dibangun dengan kesungguhan, kerja keras dan kerja nyata.  


Boleh jadi inilah jawabannya mengapa program kerja yang digagas Anies senantiasa berorientasi pada nilai (value), kemaslahatan bagi masyarakat dan didasari atas ilmu pengetahuan. 


Sebagai pemimpin yang terlahir dari sistem sosio politik masyarakat, Anies menyadari betul bahwa masyarakat luaslah seyogianya yang menjadi prioritas pembangunan, bukan hanya segelintir elit yang notabene dekat dengan pengambil keputusan seperti yang kerap terjadi selama ini. 


Di mata Anies, para elit tidak boleh ditinggalkan, namun rakyat luas justru lebih harus diperhatikan karena sesungguhnya merekalah yang lebih pantas diangkat melalui berbagai program yang digulirkan pemerintah.  


Tidak seperti kebanyakan pemimpin Indonesia, Anies bukan tipe pemimpin yang hanya menjual mimpi dan harapan. Ia juga jauh dari sosok pemimpin teoritis yang hanya pandai berbicara, lemah implementasi. 


Baginya, tidak ada artinya menjadi pemimpin, bila tidak mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dan untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan dibutuhkan perubahan. Rekam jejak manis Anies dan berbagai prestasi yang ditorehkan Anies di pemerintahan, khususnya saat memimpin ibukota negara Jakarta, menjadi legasi dan bukti nyata bahwa Anies jauh dari sosok pemimpin teoritis. 


Perubahan adalah suatu keniscayaan. Bila dulu, masyarakat menaruh asa besar kepada Joko Widodo. Namun kini, harapan itu sirna seiring praktik abuse of power yang dinilai banyak pihak hanya memuaskan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya. 


Demokrasi Indonesia sedang terluka. Karena itu, kepemimpinan nasional harus segera disegarkan kembali agar asa kembali bertunas. Anies-Muhaimin asa baru Indonesia ke depan. Insya Allah.


Artikel :

THARIQAH seperti Mazhab dalam Fiqih


Video


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda



#pilpres #aniesbaswedan #capres2024

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. Mafaza Online: AMIN Asa Baru Indonesia . All Rights Reserved