Senin, 01 Januari 2024

Home » » REFLEKSI AKHIR TAHUN Menyegarkan Kembali Kepemimpinan Nasional

REFLEKSI AKHIR TAHUN Menyegarkan Kembali Kepemimpinan Nasional

Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar Harapan Baru Indonesia 
Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar Harapan Baru Indonesia 

Oleh: Rivai Hutapea 

(Pakar Hukum Alumni FH UGM)

Mafaza-Online | Sepakat atau tidak, saya berpendapat tiga pasangan calon Capres-Cawapres yang saat ini sedang mengikuti kontestasi Pemilu  2024, yaitu Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD merupakan figur-figur pilihan yang lahir dari rahim masyarakat Indonesia. 


Baca juga :

-------------------------------------------------------------------------------

Menuju 1 Abad Tarekat Idrisiyyah
BANGKRUT Hari Ini Erick Thohir Bubarkan 7 BUMN


Hari Relawan Internasional Digelar di Bogor


Setelah “Sexy Killers” tentang Batu Bara, Kini “Barang Panas” tentang Geotermal

Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah


Mereka adalah para pemimpin yang muncul dari sistem sosio politik masyarakat.  


Suka atau tidak, pada akhirnya nanti, hanya ada satu dari tiga pasangan tersebut yang akan terpilih. Dengan kata lain, hanya satu pasangan calon yang berhak mengemban mandat kekuasaan rakyat. Sedangkan dua pasangan lainnya, terpaksa tersingkir dari gelanggang politik kekuasaan. 


Lantas, siapa pasangan calon yang akan dipilih rakyat dan berhak memegang mandat? 


Demokrasi menempatkan kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Pada tanggal 14 Pebruari 2024, saatnya bagi kita rakyat Indonesia menggunakan kedaulatan tertinggi tersebut dengan bijak, rasional dan tepat. Mengapa? 


Karena pemimpin yang akan kita pilih tersebut bukanlah pemimpin kaleng-kaleng, sekadar prestise atau gaya-gayaan agar bisa dibilang memiliki presiden dan wakil presiden. 


Bukan pula sekadar ingin asyik masyuk menikmati berbagai fasilitas negara dan hanya memikirkan kepentingan pribadi, keluarga dan kroninya. Tugas dan amanah sebagai pemimpin, terlebih lagi di Indonesia yang saat ini kondisinya tidak sedang baik-baik saja, tidaklah ringan. 


Ibarat kereta, pemimpin terpilih semestinya bertindak sebagai masinis di lokomotif yang harus menggerakkan, mengarahkan dan membawa gerbong yang berisi lebih dari dua ratus juta jiwa mencapai cita-cita bangsa. 


Karenanya, sudah sepatutnya, pilihan politik kita pada kontestasi Pemilu 2024, dipikirkan serius, tidak asal-asalan, apalagi ikut-ikutan. 


Melihat tantangan nasional dan global yang cukup dinamis saat ini, keputusan politik kita memilih presiden dan wakil presiden seyogianya didasari atas pertimbangan yang matang, rasional, menyeluruh, melihat rekam jejak, kapasitas, integritas, moralitas, intelektualitas, kemampuan dan kepribadian kandidat demi kemaslahatan bangsa dan negara ke depan. 


Berdasarkan pertimbangan di atas ditambah lagi melihat, mendengar, mencerna visi, misi, program, gagasan, pikiran dan “isi kepala” tiga pasang kandidat selama masa kampanye dan debat berlangsung. 


Sejujurnya saya mengatakan, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar jauh lebih tepat dan layak memimpin Indonesia ke depan dibanding dua pasangan kandidat lainnya.  


Keputusan saya memilih pasangan calon nomor urut 1 ini, jauh dari sikap emosional, tapi rasional. Sebab, bila didasari atas kedekatan dan emosional, maka pilihan saya pastinya jatuh ke Ganjar-Mahfud MD. 


Karena  Ganjar adalah kakak angkatan saya di FH Universitas Gadjah Mada (UGM). 


Begitu pula dengan Mahfud MD, saya pernah beberapa kali melakukan wawancara khusus dengan beliau, baik saat beliau masih menjadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, menjadi Menteri Pertahanan di era pemerintahan Abdurahman Wahid (Gus Dur) maupun di beberapa kesempatan lainnya. 


Tapi, pilihan ke Anies Baswedan-Muhaiman Iskandar benar-benar pilihan rasional. Selain kapasitas yang mumpuni dan integritas yang teruji, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar juga memiliki rekam jejak yang pasti. 


Sehingga mereka layak memimpin negeri ini. Integritas, kapasitas, intelektual dan pengalaman mengurus pemerintahan, baik sebagai Menteri Pendidikan dan Gubernur DKI Jakarta menjadi modal yang cukup bagi Anies-Muhaimin menghadapi tantangan yang cukup dinamis, baik nasional maupun global bila pada akhirnya nanti terpilih sebagai pemimpin negara. 


Sebagaimana disinyalir banyak pihak, kondisi negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Kehidupan demokrasi, politik dan lebih-lebih dunia penegakan hukum, dinilai “ngeri-ngeri sedap”. 


Maraknya pejabat yang terjerat korupsi dan masuk bui, kasus yang menjerat Ketua KPK dan skandal pelanggaran etika “Paman Usman” yang meloloskan Gibran maju kontestasi Pemilu 2024 adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa kondisi negeri ini tidak sedang baik-baik saja.    


Kritik sejumlah pihak yang menilai Anies Baswedan hanya pandai mengolah kata, lemah kinerja, terbantahkan melalui kerja-kerja keras, ikhlas dan nyata beliau saat menjadi Menteri Pendidikan Nasional dan memimpin ibukota negara DKI Jakarta. 


Janji-janji dan gagasan besarnya untuk masyarakat Jakarta, terbukti dapat mantan Gubernur DKI Jakarta itu realisasikan dengan baik. Anies juga dinilai salah satu kepala daerah yang berhasil mengendalikan pandemi covid-19 di DKI Jakarta. 


Bahkan DKI Jakarta menjadi barometer dan pencontohan pengendalian pandemi covid-19 bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia. Di bawah komando Anies, kota Jakarta dapat sejajar dengan kota-kota besar dunia lainnya. 


Anies dinilai memiliki kelebihan yang bertolak belakang dengan pemimpin yang ada sebelumnya. Ia tidak membangun legacy diri dari mitos yang akan mengontrol alam bawah sadar masyarakat untuk memilihnya. 


Anies sadar betul bahwa ia bukanlah pemimpin yang jatuh langsung dari langit yang mempunyai kekuatan supernatural. Tapi, pemimpin yang muncul dan berasal dari masyarakat. 


Itulah sebabnya, mengapa program kerja yang dibangun Anies senantiasa berorientasi pada nilai (values), kemaslahatan bagi masyarakat dan didasari atas ilmu pengetahuan. Karena Anies tahu benar ia berasal dari masyarakat dan masyarakat luaslah yang harus merasakan pembangunan dari program pemerintah, bukan segelintir atau sekelompok orang saja yang merasakan pembangunan sebagaimana yang terjadi selama ini. 


Keberhasilan ini tidak lepas dari jiwa egaliter dan terbuka Anies. Itulah sebabnya, ia tidak pernah sungkan turun ke bawah menemui langsung masyarakat berdialog, menerima masukan, saran, bahkan kritikan dari mereka. 


Tidak seperti kebanyakan pemimpin Indonesia, Anies bukan tipe pemimpin yang hanya menjual mimpi dan harapan, tanpa kenyataan. Melalui visi, misi dan program kerja yang digagas, Anies berusaha keras mewujudkan mimpi, harapan dan janji tersebut menjadi kenyataan. 


Hal ini dapat dilihat dari rekam jejak Anies saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Janji-janji dan harapannya kepada masyarakat, ia realisasikan melalui berbagai program pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat Jakarta. 


Di awal-awal berkuasa, Joko Widodo memang menjadi harapan baru yang diharapkan membawa perubahan bagi masyarakat. Namun, saat ini harapan itu sirna seiring praktek penyelewengan kekuasaan yang dijalaninya demi memuaskan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya. 


Kepemimpinan nasional harus segera disegarkan kembali untuk menyelamatkan demokrasi dan keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia ke depan. Dan  Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menjadi harapan baru masyarakat di Pemilu 2024. Insya Allah.


Sebelumnya :

Pahami Surat Wal Ashri Agar Harimu Berseri


Video


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda


#aniesbaswedan    #pilpres    #muhaimin

Share this article :

Posting Komentar