Rabu, 13 Juli 2022

Home » » TRILOGI UMAR MUKHTAR: INILAH Sang Singa Padang Pasir Sejati

TRILOGI UMAR MUKHTAR: INILAH Sang Singa Padang Pasir Sejati

Umar Mukhtar ditangkap 
Awalnya Saya lagi cari-cari cerita tentang pembantaian jenderal oleh PKI, tapi jari jemari ini dituntun hingga menemukan Kisah Heroik Umar Mukhtar. Saya sudah baca beberapa kali dan selalu menemukan yang baru. Saya juga sudah nonton filmnya berulangkali, dan selalu ada gairah baru. Apalagi tulisan ini sumbernya dari website Idrisiyyah yang sudah tidak aktif 

Umar Mukhtar
Mafaza-Online | Padang pasir dengan keganasannya, banyak melahirkan orang-orang tangguh. Tak hanya untuk pribumi tapi orang dari Eropa seperti Erwin Rommel dari Jerman. Pejuang tangguh dengan tank dan panzer. Orang kerap menjulukinya Fox of The Desert. 


Tapi siapa "Singa Padang Pasir" yang sesungguhnya...


Tak lain, dia Umar Mukhtar ... Lion of the Desert!


Pahlawan besar Libya... Seorang Guru Madrasah melawan Jenderal Alumni Akademi Militer Italia. Dari Prediksi 2 minggu bisa ditaklukan menjadi 20 tahun. Itu pun karena adanya Pengkhianatan.


Saat akan di hadapkan ke tiang gantungan pun Umar masih mengucapkan: "Engkau tidak akan pernah melihat Singa menangis merunduk!"


Umar Mukhtar lahir tahun 1862 di Bathafat, Libya Timur. Ia berasal dari suku Munfah. Dia sudah menjadi yatim ketika masih kecil, karena ayahnya meninggal dunia pada saat dia dan ayahnya dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. 
Dalam usia yang masih kecil itu ia sudah berhasil menghafalkan seluruh al Quran dan mempelajari ilmu agama di tempat kelahirannya. Lalu ia berangkat Ke Jaghbub, di kota ini ia menjadi murid Muhammad Idris putra dari Sayyid Muhammad al Mahdi. 


Segera sang Guru pun mengetahui kecerdasan muridnya. Tidak aneh bila ketika muridnya selesai belajar kepadanya, ia mengangkat Umar Mukhtar sebagai Guru di kawasan Qushur, sebuah kota kecil di kawasan Jabal Akhdhar, 1897.


Umar Mukhtar adalah seorang Dai Islam. Dia menyeru kepada Islam, dan menyebarluaskan pikiran-pikiran Islam dengan memberikan bimbingan, penjelasan, dan keteladanan.


Penguasa kawasan itu mengangkatnya sebagai penasehatnya.

Saat itu gerakan pendudukan tentara Italia di negerinya semakin menjadi-jadi. Melihat hal itu, Umar Mukhtar terpanggil untuk mempertahankan negerinya. Dengan segera ia menjadi salah seorang tokoh terkenal. Malah, akhirnya ia diminta gurunya untuk memimpin perlawanan terhadap penjajah Italia.


Perhatian Italia terhadap Libya mulai sejak 1871. Setelah Italia berhasil mewujudkan kesatuan politiknya. Negeri ini pun mulai mengerlingkan pandangannya ke arah Eropa, kawasan Mediteranean dan Afrika. Perhatiannya pertama-tama terarah pada masalah kebudayaan, kesehatan dan ekonomi.


Pada 1910 Italia mengirim sebuah ekspedisi arkeologi ke Libya, ketika itu berada di bawah kawasan kesultanan Turki. Untuk meneliti peninggalan purba. Konon, ekspedisi ini juga menyiapkan peta-peta yang memudahkan tentara Italia memasuki Libya. 


BACA:

Anak Betawi Naik Haji


Pada Januari 1911 penguasa Turki di Libya memperingatkan pemerintah pusat di Turki tentang sikap Italia yang semakin menaruh perhatian terhadap Libya. Tapi, pemerintah Turki memandang remeh peringatan itu. 


Sikap pemerintah Turki ini bisa dimengerti, karena pemerintah Turki tengah disibukkan oleh berbagai persoalan dalam negeri.


Peringatan itu ternyata benar. Tanpa diduga pada tanggal 29 September 1911 Italia menyatakan perang terhadap Turki di Libya. Pada hari berikutnya skuadron kapal perang Italia mulai memblokade Tripoli, ibukota Libya. 


Setelah empat hari diblokade, kota itu jatuh. Keunggulan kekuatan militer dan teknik serdadu Italia ketika itu, yang berjumlah 40.000 orang, 6.000 di antaranya anggota pasukan artileri, sejumlah kota penting Libya jatuh. Akhir Oktober 1911 hampir sebagian besar kawasan pantai negeri ini jatuh ke tangan pasukan penjajah Italia.


Pasukan Turki yang berada di Libya dengan gagah berani berupaya menghadang gerak maju pasukan Italia. Sayang, karena jumlahnya sedikit apalagi peralatan perang yang terbatas, akhirnya pada 11 Oktober 1912 mereka terpaksa menandatangani sebuah perjanjian: Libya harus diserahkan pada Italia.


Ketika bangsa Libya mengetahui hal itu, mereka bergerak untuk mempertahankan negeri mereka. Terjadilah penyerangan terhadap pasukan pendudukan Italia. Bantuan sukarelawan berdatangan dari sejumlah negara Arab lain. Sayang, perlawanan ketika itu dilakukan secara acak-acakan. Akibatnya, perlawanan itu dengan mudah dipatahkan lawan.


BACA:

Rektor UIN Sunan Gunung Djati STAI Idrisiyyah Kampus Istimewa dengan Tasawufnya


Setelah pasukan Turki ditarik mundur dari Libya, para pengikut Gerakan Sanusiyyah yang memegang kendali perjuangan melawan pendudukan Italia. Khususnya di kawasan Sirenaika dan Libya Timur. Di antara tokoh gerakan perlawanan itu ialah Sayyid Ahmad Syarif as Sanusi dan Sayyid Muhammad Idris as Sanusi. 


Sementara perlawanan di Tripoli di bawah pimpinan Sulaiman al Baruni. Pertempuran yang paling sengit meletus pada bulan April 1915, disebut pertempuran Qardhabiah.


Pada bulan Oktober 1922 Benito Mussolini (1883 – 1945) berhasil merebut kekuasaan di Italia. Ia melihat Libya merupakan medan yang luas untuk menunjukkan kekuatannya kepada dunia. Mulailah babak baru pendudukan Italia di Libya.


Dua tahun sebelumnya tercapai perjanjian antara Panglima Pasukan Italia di Libya dan pemimpin perlawanan Libya dan pemimpin perlawanan Libya, Muhammad Idris as Sanusi. Dalam perjanjian ini, yang disebut dengan ‘Perjanjian Rajmah’, Italia mengakui kedudukan Muhammad Idris as Sanusi sebagai penguasa kawasan pedalaman Libya. 


Sebaliknya ia mengakui kedudukan panglima pasukan Italia sebagai penguasa kawasan pantai Libya.


Perjanjian Rajmah tersebut berlaku efektif sampai 1922. Pada tahun itu Mussolini membatalkan perjanjian itu. Penguasa Pendudukan Italia pun menyatakan kekuasaannya meliputi seluruh Libya.

Melihat tindakan Mussolini yang seenaknya itu, Muhammad Idris as Sanusi menyadari, Italia mengincarnya. Ia pun memilih meninggalkan negerinya menuju Mesir, setelah menyerahkan kepemimpinan perlawanan kepada Umar Mukhtar. Ketika itu Mukhtar telah menjadi salah seorang tokoh Gerakan Sanusiyyah, yakni Ketua Zawiyah.

Setelah perlawanan terhadap pendudukan Italia berada di tangan Umar Mukhtar, pusat perjuangan mereka dialihkan ke kawasan Sirenaika.


Di kawasan itu meletus berbagai pertempuran sengit. Pejuang Libya di bawah pimpinan Umar Mukhtar melawan serdadu-serdadu Itallia di bawah komando Jendral Graziani.


Dalam pertempuran-pertempuran itu, Sirenaica mendapat gempuran habis-habisan dari pesawat-pesawat tempur dan tank-tank Italia yang menabur kematian. Graziani membentuk “Mahkamah Militer Kilat”.


Dalam mengarahkan gerakan perlawanan Libya, Umar Mukhtar memilih Jabal Akhdhar sebagai pangkalan. Karenanya pasukan Italia berupaya memblokadenya dengan menduduki wilayah-wilayah sekitarnya. Misalnya, Ajnabiah dan Jaghbub. 


Malah, untuk mematahkan perlawanan Umar, Mussolini mengangkat Jendral Padolini sebagai penglima baru pasukan pendudukan Italia.


Dalam menghadapi Umar Mukhtar dan para pengikutnya, Jendreal Padolini pertama-tama menyebarkan pamflet-pamflet ke seluruh penjuru Libya. Tapi upaya ini tidak mendatangkan hasil. Melihat kegagalan itu, Padolini mengubah taktiknya. 


Ia membuat sejumlah jalan menuju Jabal Akhdhar guna memudahkan serdadu-serdadunya memburu Mukhtar dan para pejuang Libya lainnya.


Ternyata taktik ini juga patah di tengah jalan. Ini Karena Umar Mukhtar dan para pengikutnya benar-benar menguasai kawasan itu. Sehingga dengan mudah mereka melepaskan diri dari sergapan pasukan Italia.


Melihat kegagalan taktik militer yang ia lakukan, Padolini berganti haluan dengan memakai sarana politik. Ia mengajukan sejumlah tawaran yang menarik kepada Mukhtar dan para pengikutnya, dengan syarat mereka mau berunding. 


Tapi, Umar menolak semua tawaran itu.


Pada Juni 1930 utusan Padolini kembali menemui Umar Mukhtar, menawarkan gencatan senjata. Sekali lagi tawaran itu ditolak, dengan mengajukan sejumlah syarat dan tuntutan yang sulit dipenuhi. Misalnya, kesediaan Italia untuk tidak mencampuri urusan Libya, pengakuan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, dan pendirian sejumlah perguruan tinggi. 


Jelas, tuntutan itu ditolak pemerintah Italia.


Melihat bahaya yang semakin meningkat, penguasa Italia menyadari bahwa harapan yang ada terletak pada perlakuan yang baik terhadap Umar Mukhtar dan kesediaannya untuk berunding. 


Padolini pun mengutus duta kepada Umar Mukhtar, untuk mengemukakan kepadanya bahwa tuntutan-tuntutannya diterima pemerintah Italia. Tapi untuk menandatangani perjanjian di antara kedua belah pihak, perlu diadakan pertemuan antara Umar Mukhtar dan Padolini. 


Sebagai tempat pertemuan, Padolini mengajukan Kota Benghazi.


Umar Mukhtar ternyata tidak mudah terkecoh. Ia membaca muslihat tersembunyi di balik tawaran itu. Karenanya ia menolak untuk menemui Padolini. Sebagai gantinya ia mengutus Hasan Ridha as Sanusi. 


Seperti diperkirakan Umar Mukhtar, utusannya dipaksa Padolini untuk menyepakati sebuah perjanjian baru. Dalam perjanjian itu, antara lain Hasan Ridha dan Umar Mukhtar seetiap bulan akan menerima gaji sebesar 50.000 franc. 


Di samping itu Hasan Ridha akan dibuatkan sebuah istana megah di Bangazi. Pemeritah Italia juga menjanjikan akan memugar padepokan Umar Mukhtar, dan membangunkan sebuah rumah dan masjid untuknya.


Jelas, perjanjian itu ditolak Umar Mukhtar, Ia sebarluaskan penolakannya itu di kalangan bangsa Libya. Perangpun pecah kembali. Dalam menghadapi pertempuran yang kembali berkobar, 


Padolini mengerahkan komando pasukan Italia kepada Jendral Graziani. Graziani segera melancarkan upaya untuk membendung gerak Umar Mukhtar dan para pejuang lain nya, antara lain dengan menutup sekolah-sekolah dan memaksa penduduk kawasan Jabal Akhdhar mengungsi ke wilayah-wilayah yang tandus dan kering kerontang. Akibatnya, banyak di antara mereka yang mati kelaparan. 

Graziani memerintahkan pemasangan kawat berduri di perbatasan Libya-Mesir, guna menghentikan bantuan dari negara-negara Arab lain.


Menghadapi tekanan yang semakin keras dan gempuran yang tidak kenal henti itu, Umar Mukhtar dan para pengikutnya kemudian pindah ke kawasan yang disebut dengan ‘Gunung Obeid’ dan terkenal sulit medannya ini mereka jadikan sebagai pangkalan baru. Penduduk kawasan ini, yang sebelumnya telah menyerah kepada pasukan pendudukan, malah berhasil dibangkitkan semangatnya untuk turun ke medan laga.


Dengan berpindahnya pangkalan perlawanan, semangat perjuangkan Umar Mukhtar berkobar kembali. Terjadilah serangkaian pertempuran sengit. Yang paling terkenal ialah ‘pertempuran "Rahiba", yang meletus pada 28 Maret 1927.


Pertempuran Rahiba terjadi setelah serdadu-serdadu Italia berhasil menguasai sepenuhnya kawasan pantai Tripoli dan Benghazi, dan memojokkan para pejuang ke kawasan Jabal Akhdhar. 


BACA:

IDUL ADHA Selusin Variasi Menu Daging Kurban


Ketika bulan Ramadhan (bertepatan dengan Maret 1927) tiba, Umar Mukhtar dan para pengikutnya lebih banyak menggunakan waktunya untuk melakukan berbagai ibadah seperti shalat dan tadarus al Quran. 


Saat itu seakan terjadi gencatan senjata. Kedua belah pihak memanfaatkan untuk memulihkan kekuatan. 


Dalam suasana yang tenang itu, ada orang yang memberi saran kepada panglima pasukan Italia untuk menyerbu para pejuang. Saran itu disepakati pemerintah Italia. Segera dengan secara diam-diam dilakukan persiapan militer besar-besaran selama dua minggu. 


Pasukan yang terdiri dari lebih seribu orang ini dilengkapi dengan tank-tank dan peralatan perang termodern ketika itu. Pasukan ini kemudian bergerak ke Jabal Akhdhar, dengan diam-diam agar bisa sampai ke ujung kawasan itu, sementara pejuang tidak dalam keadaan siap.


Pada suatu pagi di bulan Ramadhan, ketika Umar Mukhtar sedang mendaras al Quran, tiba-tiba sejumlah pesawat tempur Italia melancarkan serangan besar-besaran terhadap tempat-tempat di sekitarnya. 


Belum lagi ia siap, seorang pengiringnya melaporkan tentang kedatangan serdadu-serdadu Italia. Atas saran seorang tangan kanannya, Umar membawa para pejuang yang tinggal berjumlah 100 orang ke hutan. 


Dengan taktik hit and run, akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil mematahkan serangan dadakan yang dilancarkan serdadu-serdadu Italia. Dalam pertempuran ini korban di pihaknya sekitar 50 orang. Sementara pasukan Italia kehilangan sekitar 300 anggotanya.


Kekalahan dalam pertempuran Rahiba ini benar-benar memalukan pasukan pendudukan Italia. Hal ini membuat Gubenur Jendral Tirocci melancarkan serentan tindakan militer guna Oemar Moekhtar dan para pengikutnya. 


Terjadilah serangkaian pertempuran sengit kembali. Yang paling terkenal, di antara pertempuran-pertempuran itu ialah ‘Pertempuran Kafra’ yang terjadi pada 8 Mei 1931.


Kemenangan Umar Mukhtar dan para pengikutnya dalam pertempuran-pertempuran itu membuat namanya terkenal. Tidak hanya di dunia Islam saja, tapi juga di Barat. Apalagi sikapnya yang menghormati dan memperlakukan baik para tawanan, membuat Umar  dihormati lawan. 


Sebaliknya Umar juga mengakui, tidak semua bangsa Italia setuju dengan tindakan pasukan Italia di Libya. Sikapnya yang jantan ini membuat perjuangannya mendapat perhatian banyak pihak di Barat.

Di antara kebiasaan Umar Mukhtar ialah keluar bersama-sama beberapa pengawalnya mengelilingi kawasan Jabal Akhdhar. Maksudnya untuk mengawasi gerakan serdadu-sedadu Italia. 

Tapi, terkadang ia kurang berhati-hati atau terlalu berani. Kerapkali ia melepaskan diri dari pengawalan para pengiringnya. 


Tidak aneh bila teman-temannya sering memperingatkannya. Meski demikian ia tetap melakukan tindakan itu.


Pada Jum’at 12 September 1931 Oemar Moekhtar dan 40 orang pengiringnya keluar untuk melakukan pengintaian. 


Pasukan Italia ketika itu telah memasang perangkap di dekat Desa Salanthah, Jabal Akhdhar. Ketika ia dan para pengikutnya tiba di desa itu, tanpa menyadari adanya jebakan tersebut. Jebakan itu bisa berhasil karena adanya pengkhianatan. 


Tiba-tiba mereka telah dikurung oleh ratusan serdadu Italia. Terjadilah pertempuran sengit. Para pengiringnya bertempur sampai mereka semua mati syahid.


Melihat semua pengiringnya telah tewas, Umar Mukhtar yang ketika itu telah berusia 87 tahun tetap bertempur dengan sengitnya. 


Tiba-tiba kudanya terkena timah panas. Iapun jatuh terpental dari kudanya.


Dengan berjalan tertatih-tatih ia menuju ke sebuah pohon, untuk menemukan kacamatanya. Tapi, segera ratusan serdadu Italia mengurung dan menangkapnya.


Dengan pengawalan yang super ketat Umar dibawa ke Marfa’, sebuah kota pelabuhan. Dari sana kemudian ia dibawa ke Benghazi. 


BACA:

ZUHUD Etos Kerja Politisi Islam

Kebetulan Jendral Graziani ketika itu sedang berada di Roma. Begitu menerima berita tertangkapnya Umar, hari itu juga ia langsung kembali ke Libya dengan menumpang pesawat terbang. Begitu sampai di sana, ia langsung memerintahkan Umar Mukhtar dihadapkan ke Mahkamah Militer, di bawah pimpinan hakim ketua Marioni. 


Umar tampak gagah berani tatkala diadili. Keputusan segera dijatuhkan. Tak ayal lagi hukuman gantung. Mendengar putusan itu Umar Mukhtar berucap....

إنا لله وإنا إليه راجعون.

Pada pagi, Rabu 16 September 1931, yakni empat hari setelah Oemar Moekhtar ditangkap, orang tua pejuang yang telah berumur 87 tahun itu dibawa ke tiang gantungan.


Setelah melakukan shalat dan mengucapkan dua kalimat syahadat “لآ إله إلا الله محمد رسول الله Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah”.... Umar Mukhtar dengan langkah yang tenang dan tersenyum menghadap Khaliqnya, diiringi tetesan air mata 20 ribu orag Libya yang ketika itu turut menghadiri kepergian Umar  menghadap Tuhannya. Syahid di tiang gantungan.


Sebelumnya:

UMAR MUKHTAR Berjuang Hingga Tiang Gantungan

Kata kata Terakhir Umar Mukhtar


Silakan Klik 

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda



Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Anonim
13 Juli 2022 09.50

Alhamdulillah, tambah lagi sejarah perkembangan islam

Terimakasih Anonim atas Komentarnya di TRILOGI UMAR MUKHTAR: INILAH Sang Singa Padang Pasir Sejati
Anonim
14 Juli 2022 06.36

Smg almarhum Sayyid Oemar Mukhtar mendapatkan tempat yg terbaik di sisi Allah SWT

Terimakasih Anonim atas Komentarnya di TRILOGI UMAR MUKHTAR: INILAH Sang Singa Padang Pasir Sejati

Posting Komentar