Senin, 06 Maret 2017

Home » » Pelajaran Dari Langit

Pelajaran Dari Langit

Pelajaran Dari Langit
@ Majelis I’tibar 
Eko Jun

Mafaza-Online | Sebuah peristiwa kadang memiliki beragam makna, bergantung pada situasi dan kondisi yang melingkupinya. Peristiwa tenggelamnya kapal dilaut adalah sesuatu yang sudah jamak terjadi. Namun pada kasus Titanic, tafsirnya menjadi berbeda. Salah satunya karena adanya pernyataan berbau kesombongan dari pembuatnya, yakni “Tuhan pun tidak akan bisa menenggelamkan kapal ini”.  Alhasil, pada pelayaran perdana kapal hebat ini tenggelam.

Peristiwa banjir sebenarnya juga jamak terjadi ditanah air. Dalam sepekan ini, bencana banjir terjadi dibanyak wilayah. Namun pada kasus Jakarta, tafsirnya menjadi berbeda. Salah satunya karena adanya pernyataan berbau kesombongan dari pemimpinnya, serta sebagian pengikut dan pemujanya, yakni “Jakarta tidak kebanjiran meski hujan turun terus menerus”. Alhasil, meski hujan tidak terlalu deras dan debit air di Katulampa juga normal, namun bencana banjir datang dan melumpuhkan Jakarta.

Mengundang Bencana
Sebagian orang terlalu jumawa dan merasa hebat, sehingga berani mengundang bencana. Pada kaum terdahulu, mereka juga menantang para nabi agar mendatangkan bencana. Tantangan itu dijawab kontan oleh Allah. Ada yang berupa banjir, gempa, suara dll. yang paling lengkap tentu saja terjadi pada kisah Nabi Musa, karena ada 10 tanda bencana yang dihadirkan ke negerinya Fir’aun. Meski begitu, hal itu tidak kunjung membuat mereka sadar dan bertaubat.

Pada kasus Rasulullah saw, kaum Quraisy juga melakukan hal yang sama. Mereka berkata kepada nabi Muhammad saw “Fa-amthir ‘alainaa hijaaratan minas samaa-i, awi’tinaa bi ‘adzaabin aliim”. Tetapi permintaan hujan batu dari langit ini tidak dijawab oleh Allah, disebabkan keberadaan nabi Muhammad saw ditengah – tengah mereka, sebagai jaminan keamanan ditengah masyarakat. Sebagaimana dijelaskan pada ayat setelahnya “Wamaa kaanallaahu liyu’adzdzibahum wa anta fiihim”.

Sikap dan perilaku mereka orang – orang kafir Quraiys memang kebablasan. Mereka minta hujan batu dari langit, seolah ingin mengulang situasi hujan batu dari api yang dibawa oleh burung Ababil kepada tentara bergajah. Sikap mereka yang mengundang bencana dan azab seolah terwariskan dari generasi ke generasi, hingga sekarang. Kontras sekali dengan sikap orang shaleh yang memohon keberkahan dari langit dan bahkan makanan dari langit sebagaimana permintaan kaum Hawariyin kepada Nabi ‘Isa.

Buah Kesombongan
Sombong adalah penyakit yang diwariskan oleh setan. Setan berkata kepada Allah “Ana khairum minhu. Khalaqtanii min naar, wa khalaqtahuu min thiin”. Karena sombong, maka setan diusir dari surga. Untuk selamanya, siapa saja yang memiliki kesombongan diharamkan masuk surga. Sebagaimana kabar dari rasulullah “Laa yadkhulul jannah, man kaana fii qalbihi mitsqaalu dzarrah, min kibr”. Itulah kisah awal dan kisah akhir untuk pemilik sifat sombong.

Di sunia, kita juga mendapatkan dua kisah tentang orang – orang sombong. Keduanya terjadi pada masa nabi Musa. Pertama, Fir’aun yang menjadi sombong disebabkan kekuasaannya. Penyakit kesombongan ini juga menjangkiti pengikut dan tentaranya. Al Qur’an menceritakan “Wastakbara huwa wajunuuduhuu fil ardhi bi ghairil haq”. Bagaimana akhir dari kesombongan Fir’aun dan tentaranya? Al Qur’an menjelaskan “Fa akhadznaahu wajunuudahuu, fanabadznaahum fil yammi”.

Kedua, Qarun yang menjadi sombong disebabkan hartanya. Orang – orang shaleh sudah memberikan peringatan kepadanya “Laa tafrah! Innallaaha laa yuhibbul farihiin”. Bukannya sadar, dia malah semakin sombong dan pamer harta bendanya dihadapan khalayak. Bagaimana akhir dari kesombongan Qarun? Al Qur’an menjelaskan “Fakhasafnaa bihii, wabidaarihil ardhi”. Sampai sekarang, jika kita menemukan harta didalam bumi lazim dinamani sebagai harta karun.

Khatimah
Mengapa kaum Quraisy tidak ditimpa bencana sebagaimana kaum – kaum terdahulu? Jawabannya, karena ada Nabi Muhammad saw ditengah – tengah mereka, yang berfungsi sebagai jaminan keamanan dari Allah. Posisi rasulullah sebagai “penjamin keamanan” dari azab Allah ini tidak tergantikan oleh siapapun dan kapanpun, baik shahabat, ulama, wali, syaikh, kyai khas, habib maupun ustadz. Keberadaan mereka tidak akan bisa mencegah datangnya bencana jika pemimpin dan sebagian kaumnya berbuat kedzaliman dan kemaksiatan.

Kita berdoa kepada Allah agar terhindar dari penyakit kesombongan. Juga juga berdoa agar dihindarkan dari pemimpin serta pengikut dan pemujanya yang sombong.

Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Sebelumnya:
Share this article :

Posting Komentar