Minggu, 21 Juli 2013

Home » » Belajar Wara' dari Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz Rahimahullah

Belajar Wara' dari Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz Rahimahullah

Jika Umar bin Abdul Aziz, sedang berkhutbah di atas mimbar kemudian khawatir menjadi ujub beliau pun menghentikannya

mafaza-online.com | Di tengah zaman materialistis dan  menuntut sikap popularitas, sosok Umar   Ibn Abdul Aziz menjadi asing.  Ibnu as-Samâk menceritakan, pernah Khalifah Umar bin Abdul Aziz membagi-bagi apel dari baitul maal. Kemudian datang putranya dan mengambil apel dari apel yang dibagi-bagikannya. Umar pun merenggut tangan putranya dan mengambil kembali apel tersebut lalu menempatkannya kembali bersama apel-apel lain.

Putranya lalu mengadu kepada ibunya. Ibunya bertanya: "Ada apa denganmu, putraku?"

Putranyapun menyampaikan apa yang terjadi. Maka istrinya memberi putranya uang dua dirham untuk membeli apel sehingga dia dan putranya dapat makan apel, lalu menyisakan lebihannya untuk Umar. Ketika Umar selesai dari pekerjaannya diapun masuk ke dalam rumah. Istrinya menyodorkan satu piring apel kepadanya.

"Dari mana kau dapatkan apel ini, wahai Fatimah?"

Istrinya menyampaikan kisahnya. Umar senang dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu. Sungguh akupun sebenarnya menginginkan apel tersebut tapi apel itu milik baitul maal kaum muslimin "


Umar bin Abdul Aziz, memang super berhati-hati dalam melangkah dan berbicara. Dia tidak ingin amal perbuatannya menjadi sia-sia.

Jika Umar bin Abdul Aziz, sedang berkhutbah di atas mimbar kemudian khawatir menjadi ujub beliau pun menghentikannya.

Bila sedang menulis lalu khawatir mengandung ujub, di sobeknya kertas itu seraya berkata, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keburukan jiwaku."

Yunus bin Abi al-Farât mengisahkan bahwa didatangkan kepada Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- minyak misk dari hasil rampasan perang, tetapi dia menutup hidungnya. Orang-orang berkata, "Wahai amirul Mukminin karena ini engkau menutup hidungmu?" "Misk ini yang diambil adalah baunya, aku tidak inggin mencium baunya sebelum kaum muslimin menciumnya," jawabnya.

Dari wara ini timbulah sifat-sifat positif lainnya, seperti menjaga amanah. Seorang pemimpin yang amanah akan berbuah kemakmuran bagi negerinya. Sifat wara menjadi barakah bagi setiap individu yang mengamalkannya. 





Share this article :

Posting Komentar