Senin, 27 April 2026

Home » » Kisah Sersan Mayor Eddy Sampak: Dari Buronan Militer Nomor Satu Hingga Menyamar Jadi Kiai Selama 22 Tahun

Kisah Sersan Mayor Eddy Sampak: Dari Buronan Militer Nomor Satu Hingga Menyamar Jadi Kiai Selama 22 Tahun

 

Kisah Sersan Mayor Eddy Sampak

Sebuah kisah kelam mencoreng sejarah militer Indonesia pada akhir 1970-an. Sosok yang dulu disegani sebagai bintara tinggi justru berubah menjadi algojo bagi rekan-rekannya sendiri


Mafaza Online | Ia adalah Sersan Mayor (Serma) Eddy Sampak, terpidana mati kasus pembunuhan berencana terhadap tiga rekannya demi uang rapel Rp21,4 juta.


Baca juga : Viral Video Anies Baswedan Dibuntuti Intel


Yang mencengangkan, Eddy berhasil melarikan diri dari penjara super ketat pada Malam Natal 1984. Hidup dalam penyamaran sempurna sebagai tokoh agama terhormat bernama Abah Siddik di Banten selama 22 tahun sebelum akhirnya terendus dan ditangkap kembali.


Ambisi yang Berujung Petaka


Kisah ini bermula pada pertengahan 1979. Saat itu, Eddy Sampak adalah seorang Bintara Tinggi di Kodim 0608/Cianjur yang disegani. Karakternya dikenal keras, ambisius, dan pantang menelan kekalahan.


Akar masalah muncul dari politik tingkat desa. Eddy mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Cikondang, Kecamatan Bojongpicung. 


Demi memenangkan simpati warga, ia mengeluarkan modal kampanye besar-besaran hingga berutang ke sana kemari.

Namun, Eddy kalah. 


Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan jabatan, melainkan hancurnya ego seorang militer senior. Ia merasa dikhianati rekan-rekan sejawatnya yang dinilai tidak mendukungnya. 


Ditambah tumpukan utang yang terus mengejar, amarah dan keputusasaan pun memuncak.


Baca juga: Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru, Wujud Komitmen Idrisiyyah Meningkatkan Kualitas Pendidik


Eksekusi Berdarah di Kebun Teh Gekbrong


Pada pertengahan Agustus 1979, Eddy bertugas dalam tim pengawal mengambil uang rapel seluruh prajurit Kodim 0608/Cianjur di Sukabumi. Jumlahnya fantastis: Rp21.435.000.


Di pikirannya yang kalut, misi dinas ini berubah menjadi skenario balas dendam. Pada 20 Agustus 1979, Eddy berangkat bersama empat rekannya menggunakan angkot sewaan yang dikemudikan warga sipil bernama Abas.


Saat melintasi kawasan perkebunan teh Gekbrong yang sunyi, Eddy meminta sopir menghentikan mobil dengan alasan buang air kecil. 


Begitu turun membawa senapan serbu SP-1, Eddy berbalik dan memuntahkan peluru ke arah kabin dari jarak dekat.


Tiga rekannya—Pelda Sutardjat, Serma Djudjun, dan Serda Sugandi—tewas seketika. Sopir Abas melompat masuk kebun teh dan berhasil kabur. Eddy kemudian membawa kabur uang Rp21,4 juta.


Namun Eddy membuat kesalahan fatal. Koptu Sumpena, yang bahunya tertembus peluru, berhasil pura-pura mati. Setelah Eddy hilang, Sumpena ditolong warga dan langsung melapor ke Kodim. Dalam hitungan jam, Eddy resmi menjadi buronan nomor satu.



Silakan Klik:


Vonis Mati dan Kaburnya Sang Terpidana


Kodam Siliwangi menggelar operasi perburuan besar-besaran. Eddy ditangkap setelah baku tembak di Gunung Cakrabuana. Saat ditangkap, sisa uang yang disita hanya Rp3,75 juta—sisanya sudah disebar untuk menutupi utang.


Pada 1981, Mahkamah Militer II-09 Bandung menjatuhkan vonis mati kepada Eddy. Permohonan grasinya ke Presiden Soeharto ditolak.


Namun pada 24 Desember 1984 malam, Eddy memanfaatkan kelengahan petugas yang tengah mempersiapkan ibadah Natal. Ia menjebol atap sel isolasi di Lemasmil II Poncol, Cimahi, dan lenyap.


Baca juga: Jangan Terkecoh dengan Tren, Ikan Lokal justru lebih Segar dan Bergizi 


Lahirnya “Abah Siddik” Sang Tokoh Agama


Setelah kabur, Eddy melakukan perjalanan panjang menyusuri Sumatera—Lampung, Palembang, Jambi, hingga Bengkulu. Setelah situasi dirasa aman, ia kembali ke Banten dan menetap di Kampung Sukawana, Kota Serang.


Di sinilah ia mengubah total identitasnya. Eddy membuang atribut militer, memanjangkan jenggot, mengenakan peci dan sarung. 


Ia memulai bisnis rongsokan, kemudian perlahan-lahan membaur. Tutur katanya santun, sifatnya dermawan.


Masyarakat setempat mulai memanggilnya “Abah Siddik” atau “Kiai Siddik”. Ia bahkan memiliki KTP resmi atas nama Siddik. Selama 22 tahun, kakek yang disegani ini kerap duduk di Kantor Polsek untuk menengahi sengketa warga, minum teh bersama aparat, tanpa ada satu pun yang curiga bahwa pria di hadapan mereka adalah buronan militer yang seharusnya sudah mati.


Baca juga: Hendri Satrio Upaya DPR Panggil Polres Sleman Pulihkan Keadilan


Penangkapan di Kedok Keramahan


Kehancuran Eddy tidak datang dari radar intelijen, melainkan dari retaknya rumah tangga barunya. Percekcokan keluarga pada awal 2006 memicu kecurigaan sang istri terhadap masa lalu Abah Siddik. Informasi itu mengalir ke Denpom III/4 Serang.


Intelijen melakukan pengintaian berlapis dan mencocokkan ciri fisik serta bekas luka tembak di kaki Eddy. Pada 22 Februari 2006, aparat berpakaian preman datang dengan mobil Kijang sipil.


Mereka tidak mendobrak pintu. Seorang aparat tersenyum sopan, mengulurkan tangan, dan berkata santai, “Kami dari Garut, Bah.” Saat Eddy lengah menyambut jabatan tangan itu, aparat langsung melumpuhkannya. Ilusi Kiai Siddik pun runtuh.


Baca juga : CEK FAKTA Viral Klaim Nisa Pramugari Gadungan diterima Garuda Indonesia


Akhir Hidup Tanpa Ampunan


Eddy kembali mendekam di penjara, dipindah dari Nusakambangan hingga Lapas Kelas 1 Cirebon. Di usia 70-an, ia kembali mengajukan grasi agar hukumannya diubah menjadi seumur hidup, berharap bisa mati wajar.


Namun pada 2015, Presiden Joko Widodo dengan tegas menolak permohonannya. Eddy Maulana Sampak akhirnya menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel isolasi hingga meninggal pada usia lebih dari 80 tahun.


Kisah Sersan Mayor Eddy Sampak menjadi cermin paling gelap tentang bagaimana ego yang terluka dapat merendahkan nurani seseorang. 


Selama 22 tahun ia bersembunyi di balik jubah keagamaan, tetapi kebohongan terbesar sekalipun selalu memiliki tanggal kedaluwarsa.


Baca juga : Fadli Zon, Ini 6 Alasan Pemerintah Tulis Ulang Sejarah Indonesia


VIDEO



Silakan Klik:

Mafaza-Store

Lengkapi Kebutuhan Anda


#kriminal #ceritakriminal #eddysampak


Share this article :

Posting Komentar