Selasa, 04 April 2023

Home » » Peran dan Fungsi Ilmu Tasawuf (Episode - 02)

Peran dan Fungsi Ilmu Tasawuf (Episode - 02)

Serambi Islami TVRI Nasional Peran dan Fungsi Ilmu Tasawuf (Episode - 02)
 

Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,” (QS Asy Syams [91]: 7-10) 


Oleh Syaikh Akbar Muhammad Fathurahman

Mursyid Tarekat Idrisiyyah

Mafaza-Online | Peran Ilmu Tasawuf sesuai objek kajiannya adalah hati atau mengenai gerak-gerik hati. Sedangkan Fungsi Ilmu Tasawuf, adalah Tazkiyatu an Nafs (menyucikan jiwa). 

Pada Fitrahnya, ruhani itu suci dan butuh kepada Allah SWT. Sayyid Ahmad ibni Idris dalam kitabnya Fuyudhatul Mawahibil Makiyyah menuturkan, "Ruhani manusia adalah cahaya yang berasal dari tiupan ruh Allah SWT."


Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,” (QS Asy Syams [91]: 7-10) 

 

Baca Juga:

IBNU QOYYIM Lima Cara Berfikir Positif


Tazkiyatu An-Nafs


Sebelum membersihkan hati, seorang Salik harus mengingat kembali dosa-dosa yang telah dilakukan. Dia harus mengetahui terlebih dulu bentuk dosanya, apakah maksiat yang dulu dia lakukan termasuk dosa kecil atau dosa besar. 


Dengan mengenali dosa, Salik akan diberi kemampuan untuk membersihkan hatinya. Selain itu sebagai syarat agar Allah SWT mengampuni dosa, maka terlebih dulu harus mengakui dosa-dosa yang telah dilakukan. 


Selain akibat dosa, hati juga akan kotor oleh penyakit hati. Imam al Ghazali dalam Kitab al-Arbain, mengingatkan minimal ada 10 penyakit hati. Dengan mengetahui penyakit hati kita akan mampu membersihkannya. 


Kesepuluh penyakit hati itu adalah: 1. Banyak Makan, 2. Banyak Bicara, 3. Mudah Marah, 4. Dengki (Hasad), 5. Bakhil dan Cinta Harta, 6. Cinta Jabatan, 7. Cinta dunia (hubb ad dunya), 8. Takabur, 9. Ujub, 10. Riya dan Syirik. 


Kepada para salik, ulama memberikan pesan harus senantiasa Mulazamah (Istiqomah) di majelisnya. Dengan seringnya hadir di majelis ilmu (Ilmu Tasawuf), Salik akan mengetahui jenis-jenis penyakit hati. Selanjutnya diberi kemampuan untuk membersihkan dosa-dosa tersebut. 


Jangan lewati proses ini, bangun kesadaran untuk mengakui dosa yang kita lakukan. Karena dosa tidak hanya dibalas di akhirat, tapi di dunia pun sudah dirasakan. Balasan itu bisa berupa problem yang bertubi-tubi. Sayangnya, sedikit sekali yang menyadari hal ini.


Analoginya, ketika kita pergi ke kamar mandi yang sangat kotor, begitu masuk terasa bau pesing menyengat. Awalnya bau tersebut membuat kita tidak nyaman, namun lama kelamaan bau tersebut berkurang kemudian menghilang. 


Ini menggambarkan ketika dosa dilakukan berulang-ulang, maka semakin tidak terasa. Bahkan, terasa nyaman dalam perbuatan dosanya.


Senjata Rahasia Iblis

Ada sebuah kisah dalam Kitab Aj Jaibul Qolbi karangan Imam Al-Ghazali: Ketika terjadi banjir Besar pada zaman Nabi Nuh as, dan orang yang beriman telah berada pada bahtera tersebut. Ternyata di  bahtera itu ada penumpang gelap. Nabi Nuh as yang jeli melihat ada orang yang tidak dikenal, serta-merta beliau mengusirnya. 


Namun, sebelum pergi Iblis laknatullah, memberikan tiga senjata ampuh untuk menggelincirkan ummat manusia. Dengan senjata inilah siapapun manusia akan mampu digelincirkan. 


Inilah senjata rahasia Iblis Laknatullah:


Pertama, Hasad. Hatinya sakit, bahkan ingin menghilangkan nikmat Allah SWT dari orang lain. Dalam kisahnya Iblis menjawab, bahwa hasad adalah penyakit Iblis. Ketika di Surga bersama Adam as dia tenang-tenang saja. Namun ketika Allah SWT memerintahkan untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak. 


Penolakan iblis itu, karena dia mempunyai penyakit hasad. Sehingga Iblis gagal mendapatkan rahmat Allah SWT, dan justru Allah SWT mengutuk iblis menjadi laknatullah dan mengusirnya dari surga. Sebab hasad, sepanjang hidupnya Iblis menyandang gelar laknatullah.


Ringkasnya, Hasad itu susah melihat orang senang dan senang melihat orang lain susah.


Kedua, Al Hirsu. Keinginan pada dunia yang berlebih-lebihan alias punya ambisi dan keinginan yang besar terhadap dunia. 


Dalam kisahnya Iblis menceritakan ketika Adam AS dan Siti Hawa dilarang oleh Allah untuk mendekati pohon. Maka justru keinginan Iblis makin keras untuk membujuk Adam AS dan Siti Hawa agar memakan buah yang dilarang oleh Allah SWT tersebut.


Penyakit Al Hirsu ini lebih banyak menjangkit kepada kaum hawa. Sebagaimana Ibunda Siti Hawa terbujuk oleh Iblis karena menginginkan keabadian. Iblis mengiming-imingi, setelah memakan buah Khuldi akan abadi. 


Tasawuf hadir membimbing ummat manusia, seperti dicontohkan oleh Rasulullah yang dikisahkan dalam Surat Al-Hujurat [49] :14


۞قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيًۡٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤ 


"Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".  (QS. Al-Hujurat [49] :14)


"Orang-orang Arab Badui itu berkata," yang dimaksud adalah segolongan dari kalangan Bani Asad. "Kami telah beriman" mereka menyatakan seperti itu. 


Tapi, "Katakanlah," kepada mereka, "Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah berserah diri." Artinya, kami telah tunduk secara lahiriah, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian. 


Hanyasanya Iman itu baru sebatas dugaan kalian. "... dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya," yakni dengan cara beriman yang sesungguhnya dan taat dalam segala hal. 


Maka "Dia tidak akan mengurangi" Dia tidak akan mengurangi "amal-amal kalian" yakni pahala amal-amal kalian (barang sedikit pun); 


Sesungguhnya Allah "Maha Pengampun" kepada orang-orang mukmin "lagi Maha Penyayang" kepada mereka.


Ketiga, Al Kibru Takabur atau Sombong. Menolak kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. 


Ketika Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam as, dia menolak karena ada penyakit takabur dalam hatinya. Iblis mengaku lebih baik dari Adam, karena diciptakan dari tanah sedang Iblis diciptakan dari api. 


Firman Allah SWT:

ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ٣٥ 

 

“(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.“ (QS Al-Mukmin [40] : 35)


Rasulullah bersabda: “Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau hanya sebesar biji sawi.” (HR Muslim, Tirmidzi)


Zikir Memperindah Hati


Bagaimana kedudukan zikir dalam ilmu Tasawuf? Salah satu fungsi dari ilmu Tasawuf adalah untuk memperindah hati, namun sebelumnya hati dibersihkan terlebih dulu. 


Proses pembersihan hati ini disebut dengan Takhalli. Setelah dibersihkan barulah hati bisa diperindah, salah satu caranya adalah dengan berzikir kepada Allah SWT.


Rasulullah bersabda,


مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ


Perumpamaan orang yang berzikir dengan orang yang tidak berzikir laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari dan Muslim).


Manakala hatinya bersih, otomatis lidah pun akan mengeluarkan kata-kata penuh hikmah. Semua anggota badan pun akan berlaku lampah yang indah. Perilaku elok karena tidak menyakiti lainnya dan hadirnya memberi manfaat. 


Namun realita kehidupan sehari-hari berbanding terbalik, tampak kondisi yang sangat memperihatinkan. Apalagi kalau berbicara perilaku masyarakat di sosial media.


Jiwa jadi gersang, karena Tasawuf absen dalam kehidupan. 


Betapa pentingnya Tasawuf dalam kehidupan. Tasawuf harus dihadirkan untuk menghentikan kepiluan berkepanjangan ini. 


Upaya membersihkan hati dimulai dengan proses Takhalli. 


Lanjutkan upaya ini dengan menghiasi hati masuklah ke proses Tahalli. Terus perkuat jiwa dengan membangun kualitas ruhani. 


Diantara pilar ruhani itu adalah: Taubat, Sabar, Zuhud, Al Faqru, Khauf, Tawakal, Syukur, Ridha, Mahabbah dan Dzikrul Maut. EDITOR : Salman Al Farizi


Sebelumnya:

Kedudukan Ilmu Tasawuf dalam Islam


MafazaTV👇



Silakan klik:

Lengkapi Kebutuhan Anda





#serambiislami #syekhakbar





Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. Mafaza Online: Peran dan Fungsi Ilmu Tasawuf (Episode - 02) . All Rights Reserved