Senin, 14 Agustus 2017

Home » » Strategi Menggugah Masyarakat untuk Melek Media

Strategi Menggugah Masyarakat untuk Melek Media

SEMINAR NASIONAL LITERASI MEDIA UNISNU JEPARA  Cara Cerdas Mendaratkan Kapal Konten di Laut Media Sosial

  
Hasan Chabibi di Seminar Literasi di Fakultas Dakwah Unisnu Jepara (Sabtu, 05/08/2017)
Mafaza
-Online |
Setidaknya, ada 50-an stasiun televisi nasional maupun lokal yang memenuhi frekuensi publik. Namun untuk memenuhi 10 persen kebutuhan jam tayang yang harusnya ada acara penguatan pesan moral agama atau dakwah publik, banyak yang tidak sesuai harapan.

Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah Tazkiyyatul Mutmainnah mengungkapkan hal ini dalam Seminar Nasional bertajuk "Literasi Media: Menjawab Tantangan Penyiaran Islam" di Lantai III Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara, Sabtu (05/08/2017).

"Itu pun acaranya tidak di prime time," jelas Mbak Iin, panggilan akrab Tazkiyyatul Muthmainnah.

Mbak Iin turut berbagi ilmu kepada ratusan peserta seminar bersama narasumber lain, Hasan Chabibi, pegiat literasi media yang juga pejabat di Pustekkom Kemendikbud RI, Jakarta.

Masalah lain yang dihadapi penyiaran dakwah Islam di televisi adalah kurangnya inovasi acara. Kata Iin, layar kaca akhirnya seperti tempat pemindahan mejelis pengajian saja. Kadang ada acara religi yang kebablasan mengemas seleranya sehingga pesan agama yang sampai kian kering. “Ironis sekali,” ungkapnya.

Menurut Iin, hal itu terjadi karena televisi tidak membutuhkan penguasaan ilmu agama yang mendalam dan luas, "Melainkan teknik ceramah yang menyenangkan," imbuhnya.

"Orang-orang bersorban di televisi ditampilkan untuk menangkap hantu," tambah Iin yang juga Ketua Fatayat NU Jawa Tengah tersebut.

Soal media sosial (medsos), Hasan Chabibi menyebut tantangan dakwahnya ada di cara masing-masing pengguna medsos untuk memilih. "Medsos itu lautan, kemana kita mau mendaratkan konten kapal di lautan medsos," terangnya.

Ia menyarankan agar lebih hati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama civitas akademis kampus. "Buat kampus, jangan plagiasi," tandas Hasan Chabibi yang juga mantan Ketua IPNU Jawa Tengah ini.

Di medsos, tantangan dakwahnya justru lebih luas dari media konvensional karena sulitnya mengontrol konten. Begitu sudah click share, konten pontensial menyebar luas tanpa diketahui.

  
Antusias: Ratusan Peserta hadri dalam seminar nasional di Unisnu (Sabtu, 05/08/2017)
"Kita harus memastikan, apa yang kita kontrol ke depan, apa yang sudah kita putuskan share ke publik," terang Hasan.

Acara seminar nasional itu, kata ketua panitia Khoirul Muslimin, bagian dari strategi menggugah masyarakat untuk melek media.

"Karena itulah kita mengundang banyak orang, pelajar, pegiat NU, pengurus NU, Ansor, Fataya, Muslimat dan juga insan media di Jepara," ujarnya.

IRONI ACARA DAKWAH TIVI Hanya Pindahkan Pengajian ke Layar Kaca  





Share this article :

Posting Komentar