Sabtu, 10 Juni 2017

Home » » Agar Anak Kuat Puasa

Agar Anak Kuat Puasa

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, terkandung pula pengajaran nilai ketauhidan dan psikologis
 
Oleh: Abidah Wafaa, S.Psi

  
Mafaza-Online | DALAM ISLAM keringanan dalam puasa dibolehkan bagi wanita haid, anak-anak, orang yang sedang sakit, orang sedang safar ataupun udzur syar’i lainnya. Berpuasa bukan hanya pengajaran menahan rasa lapar yang dimotori oleh aspek biologis. Dipahami pula berpuasa adalah pengajaran akan konsep ketauhidan dan psikologis.

Sinergi ketiganya biologis meliputi fisiologis, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan system tubuh. Jam biologis anak berbeda dengan dewasa. Jam biologis dalam berpuasa memiliki range waktu umumnya 10-12 jam. Perlu ada penyesuaian waktu yang terukur dan tepat dengan usia anak. Usia anak puasa yang mereka pahami sekedar berkurangnya waktu tidur, berkurangnya jumlah makan, berkurangnya kebiasaan main anak, berubahnya jam main anak,  berkurangnya kesenangan.

Perkembangan emosional, perkembangan rohani dan perkembangan perilaku lainnya baru saja berkembang. Mereka sadar Tuhan itu ada dan puasa merupakan kewajiban, namun mereka takut tidak bisa makan sepuas hatinya. Tuhan itu sangat baik dan sangat hebat, namun mengapa Tuhan begitu “menyiksa” untuk berlapar-lapar. Sedangkan mereka melihat teman seusianya serasa berpesta pora ditengah terik yang sangat menyengat tanpa harus menahan lapar dan haus.

Sederhana bagi seorang anak dalam puasa atau tidak, berat dan susah, pahala dan tidak mendapat pahala. Perkembangan akan rohani belum sempurna meskipun secara fitrah setiap manusia dilahirkan dan telah memiliki modal ketauhidan. Modal fitrah ketauhidan itu yang sangat berarti.

Dari Abu Hurairah, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Usia 2 – 7 tahun merupakan periode perkembangan anak menuju ketauhidan dan mengenalkan baik buruk. Segala sesuatu ingin diketahui dengan bertanya dan melihat secara spontan. Belum berkembangnya kosa kata yang terstruktur, namun sangat kritis dalam menanggapi apa yang dilihatnya.  

"Modal fitrah ketauhidan itu yang sangat berarti"
Dorongan fitrah ketauhidan ini memberi semangat bagi orang tua untuk mengoptimalisasi perintah ibadah puasa apa yang harus menjadi tanggung jawabnya sebagai muslim yang istiqomah. Niat karena Allah SWT, ikhlas sebagai makhluk dan ihsan dimanapun berada. Pahamkan pahala adalah reward yang Allah berikan bagi mereka. Dosa adalah punishment bagi mereka. Keduanya berimbang. Karena Tuhan adil. Malaikat Atid dan Rakib mencatat mereka. Karenanya mereka mendapat rezeki berupa mobil-mobilan ataupun boneka. Kedekatan akan reward disenangi anak, tidak melulu punishment. Sehat sehingga dapat bermain hujan-hujanan merupakan rezeki. Karenanya reward bukan hanya materi saja.

Ketegasan dan pemahaman inilah yang harus diajarkan. Puasa mendapat reward pahala dan buka puasa. Ibadah puasa ada baiknya bagi seorang anak dipahamkan merupakan pembangunan ruhaniyah. Maka perlu ada pendekatan yang khas bagi setiap anak. Karakter yang berbeda, fisiologis yang berbeda dan sistem imun yang mempengaruhi mereka.   “Puasa adalah perisai” kata Nabi. Perisai dari kemalasan, perisai dari kemarahan, perisai dari lapar dan haus.

Mudah atau tidaknya mengajarkan pada anak bergantung pada niat dan keupayaan kita untuk mengajarkan kepada mereka ibadah puasa. Penekanan yang terlihat sepele memudahkan mereka mengenal Islam secara sederhana tidak memudahkan, namun ruh puasa sangat “terasa”. 


Selanjutnya:
Beberapa Tips Mengajarkan anak berpuasa 

Artikel ini dimuat di:
Majalah GeSIT edisi 3 Ramadhan Plus





Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar