Jumat, 28 April 2017

Home » » Memotong Sejarah Ulama

Memotong Sejarah Ulama

Dalam Sejarah Indonesia ada upaya melupakan peran Santri dan Tarekat
  
Mafaza
-Online |
Sahabat Warta Madrasah pada kesempatan ini kita akan mengkaji tentang Memotong Sejarah Ulama’. Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, namanya  Dr. Sudjatmoko (Rektor Universitas PBB).


Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: memakai manageman modern.

Secara metode mengaji tetap memakai salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manageman modern.

Santri pondok pesantren itu ampuh.

Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah santri dan tarekat.

Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid.

Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.

Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari.

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro.

Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta.

Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830.

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari.

Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.

Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.

Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro.

Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama aslinya Abdul Hamid.
Nama populernya Diponegoro.

Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Tidak hanya Diponegoro, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Diantaranya, di Yogjakarta ada seorang ulama bernama Romo K Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.

Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang ulama besar.

 Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Itu sudah baik, namun belum komplit.
Belum utuh.

Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara  selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

Perlu diketahui bahwa ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu syukur.

Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan H Muthahar.

 H Mutahar Itu bukan Haji Muthahar, namun Habib Husein Muthahar, yang menciptakan lagu syukur.
 Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang.

Jadi, yang menciptakan lagu syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi.

Mari kita nyanyikan bersama-sama.

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu tuhan

Itu yang menyusun cucu nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga kauman Semarang.

Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

 Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid.   Hebat !!!

Lebih hebatnya lagi, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur.

 Sampai pada kalimat hayya alas shalâh, terngiang suara adzan.

 Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
 Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya.

Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Maka peran para ulama, kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra ulama atau kyai.

 Tampillah seorang dari kampung Batu Ampar, Maya Kumbung, Sumatera Barat.
Siapa beliau? H. Mohammad Hatta. Beliau putra ulama.

Bung Hatta adalah putra Ustadz Kyai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah – Kholidiyyah.

Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra ulama dan putra penganut tarekat tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.
Jangan sekali-kali memotong sejarah.
Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT.  
 
 
Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Sebelumnya: 
 
Share this article :

Posting Komentar