Kamis, 09 Februari 2017

Home » » Rasa Bahagia

Rasa Bahagia

Lalu apa ciri dari perasaan atau merasa dicintai Allah SWT?

Oleh: Eko Novianto

  
tirtojiwo.org
Mafaza-Online | Karena tak disediakan sesi tanya jawab, saya 'kejar' ustadz sampai pintu keluar masjid. Lalu bertanya.

"Ustadz, biasanya ukuran bahagia itu hal yang berkaitan dengan fisik. Lalu kita kerap gagal. Kegagalan itu karena kelemahan menghadapi materi atau materi itu yang punya senjata mematikan?".

Pertanyaan di pintu masjid itu tak lepas dari paparan ustadz ba'da Zuhur tadi. Ustadz menyampaikan tanda-tanda kebahagiaan. Baru satu hal yang diungkap. Dicintai Allah swt.

Orang bahagia itu dicintai Allah SWT Tanda pertama.

Lalu apa ciri dari perasaan atau merasa dicintai Allah SWT? Ada beberapa.

Pertama, suka pada kesucian. Suci lahir. Suci jiwa. Kesucian bagian dari iman. Allah menyukai orang yang menyucikan dirinya. Lalu, orang yang dicintaiNya itu selalu berusaha mengikuti arahan urusannya. Mencintai Rasul itu satu paket dengan mencintai Allah SWT. Tidak bisa dipisahkan.

Ciri lain, suka berbuat baik. Mencintai Ihsan. Banyak berbuat baik. Berbuat baik yang dibangun dengan ayat yang jelas atau berbuat hal baik yang tidak langsung dibangun dari ayat tertentu. Kita mengenal hal terakhir ini dengan sebutan Al Ma'ruf. Ma'ruf itu seakar kata dengan 'urf yang bermakna kebiasaan atau adat kebiasaaan.

Ciri selanjutnya, menyukai persatuan dan membenci perpecahan. Sabar dan tabah dalam persatuan.

Ciri lainnya, zuhud. Mengambil sesuai kebutuhan, bukan mengambil seperti yang dimaui. Zuhud pada dunia, Allah akan memberikan cintaNya. Zuhud pada milik orang lain, orang lain akan mencinta.

Tiga ciri lain mereka yang dicintai Allah swt adalah mereka yang taqi, ghani, dan khofi. Taqwa. Kaya. Merahasiakan amal. Mereka yang bersikap hati-hati. Mereka yang kaya. Tak mudah su'udzan, tak mudah dengki. Tak ada iri. Dan mereka yang khofi. Mereka yang pintar menyembunyikan amalnya.

Ustadz Farid Nu'man, menurut saya termasuk ustadz yang struktur pembicaraannya sangat rapi. Karena rapi itu, jadi lebih mudah menduga apa yang belum disampaikan. Maka, di pintu keluar masjid tadi, saya tanyakan pertanyaan itu.

"Jadi seorang yang bahagia itu bisa jadi dianggap tidak bahagia ya, ustadz?".

Jazakumullah, ustadz.

Jakarta, 6 Februari 2017

Catatan;
Kajian Siang Masjid Al Muhajirin Gedung Pajak Tugu Tani Jakarta, 6 Februari 2017.


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda


Sebelumnya:
Artikel Takwin: Tetaplah dalam Barisan
Share this article :

Posting Komentar