Rabu, 09 Juli 2014

Home » » Jakarta Post: Percetakan Tidak Ikut Bertanggung Jawab

Jakarta Post: Percetakan Tidak Ikut Bertanggung Jawab

Tanggung jawab percetakan tidak meliputi isi atau konten barang yang dicetak. Tapi kenapa pada kasus tabloid Obor Rakyat, sejumlah media mainstream begitu gigih berusaha meyeret percetakannya ke ranah hukum




  
Mafaza-Online.Com | JAKARTA –Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (JP) menyatakan PT Gramedia Group tidak bisa dikaitkan, apalagi disalahkan, pada kasus pemuatan kartun yang melecehkan Islam dan ummatnya. Tanggung jawab percetakan tidak meliputi isi atau konten barang yang dicetak.

Demikian ditegaskan Pemimpin Redaksi JP, Meidyatama Suryodiningrat, ketika menerima perwakilan dari Korps Muballigh Jakarta (KMJ) dan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Selasa (7/8). Mereka datang untuk menyatakan protes keras atas dimuatnya kartun yang menghina dan menistakan Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia.

Menurut Meidyatama, persoalan konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Sedangkan tanggung jawab percetakan terbatas pada kualitas cetak semata. Ini pula yang terjadi ketika tabloid Monitor  diprotes ummat Islam pada tahun 1990-an silam.

“Dalam soal pemuatan kartun tersebut, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami di redaksi. Kami sangat menyesal dan mohon maaf. Gramedia sebagai pencetak tidak bisa dikait-kaitkan, apalagi dimintai pertanggung jawabannya,” katanya.
“Tapi kenapa pada kasus tabloid Obor Rakyat, sejumlah media mainstream seperti Tempo begitu gigih berusaha meyeret percetakannya ke ranah hukum?” tukas Edy Mulyadi, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah KMJ, saat diterima jajaran redaksi terkait pemuatan kartun yang menghina Islam dan ummatnya oleh JP.

Terkait pertanyaan tersebut, Meidytama menjelaskan, mungkin yang dilakukan Tempo hanya sebatas menulusuri siapa di belakang penerbitan tabloid Obor Rakyat yang mengebohkan itu.

Pada konteks ini, Edy yang juga Ketua Front Pembela Obor Rakyat (FPOR) tidak sependapat. Menurut dia, media mainstream memang sudah memiliki agenda setting untuk melibatkan perusahaan pencetak Obor Rakyat. Para petinggi redaksinya sudah mem-framing persoalan itu. Targetnya, menyeret pemilik dan penanggung jawab perusahaan pencetak Obor Rakyat ke ranah hukum.

Padahal, apa yang dilakukan Obor Rakyat dengan pemberitaannya seputar kampanye negatif Jokowi tidak seberapa dibandingkan yang dilakukan The Jakarta Post sekarang atau Tabloid Monitor  edisi 15 Oktober 1990. Obor Rakyat hanya membuka lebih jauh tentang profil Jokowi sebagai calon presiden dari negara besar berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa bernama Indonesia. Tidak ada fitnah. Tidak ada pelecehan dan penistaan terhadap agama.

Pada 3 Juli silam, harian berbahasa Inggris yang mendukung Jokowi pada pilpres 2014 itu memuat kartun yang sangat menghina serta melecehkan Islam dan ummatnya. Pada kartun itu tertera kalimat tauhid, laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah) yang dicantumkan bersamaan dengan tengkorak khas bajak laut.  Gambar ini mengesankan seolah-olah Islam adalah agama bengis yang senang menumpahkan darah.

Penghinaan dan penistaan The Jakarta Post terhadap Islam dan ummatnya semakin kental, ketika pada bagian dalam tengkorak itu ditulis kalimat, Allah, Rasul, Muhammad. Ini jelas-jelas penistaan yang sangat keji terhadap Islam dan ummatnya.

“Kartun itu dimuat di halaman opini. Sebagaimana halnya editorial atau tajuk rencana, kartun di halaman opini adalah mewakili sikap resmi redaksi. Ini artinya, redaksi JP dengan sangat arogan menyatakan permusuhan dan penghinaan terhadap Islam yang dianut sebagai agama mayoritas penduduk negeri Indonesia. Sudah seharusnya ada sanksi tegas dan keras untuk penghinaan yang benar-benar keji ini,” papar Edy yang juga wartawan senior.


Edy Mulyadi, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Muballigh Jakarta (KMJ) Email: edymulyadilagi@gmail.com




Silakan klik:  
 


Share this article :

Poskan Komentar