Senin, 24 Februari 2014

Home » » Tanpa Gus Dur, Mungkinkah Poros Tengah Jilid II?

Tanpa Gus Dur, Mungkinkah Poros Tengah Jilid II?

Diskusi Publik POLCOMM Institute, Bicara Peluang Poros Tengah Jilid II | (Foto: Nefosnews/aprilia hariani)


Mafaza–Online.Com|JAKARTA -  Pengalaman koalisi Poros Tengah pada Pemilu 1999 sukses mengantar Gus Dur jadi presiden. Keberhasilan Poros Tengah jilid I tersebut menjadi acuan wacana koalisi Poros Tengah jilid II. Mungkinkah?

Heri budianto dari Political Communication (POLCOMM) Institute mengatakan, koalisi partai Islam tersebut tidak mudah diwujudkan dalam Pemilu 2014. Hal tersebut karena belum ada tindakan nyata untuk mewujudkan koalisi antarpartai Islam. Sulitnya partai Islam bersatu, tercermin dari realitas masing masing partai mengusung petingginya untuk maju menjadi capres.

"Partai Islam atau Poros Tengah jilid II semakin jauh, ketika munculnya realitas politik bahwa koalisi dibangun bukan atas dasar ideologi melainkan hanya kepentingan kekuasaan," ujar Heri, dalam diskusi “Publik Bicara Peluang Poros Tengah Jilid II” di Cikini, Jakarta, pada Minggu  siang (23\2\2014).

Melihat realitas itu, menurut Heri,PolcoMM Institute mengadakan survei untuk memotret persepsi publik tentang adanya wacana Poros Tengah jilid II.

Alhasil, berdasarkan survei ditemukan bahwa mayoritas publik menyatakan koalisi partai-partai Islam akan mampu bersaing dalam Pemilu 2014. Sebanyak 47,4 persen menyebutkan , partai akan mampu bersaing jika berkoalisi. Hanya 19,2 persen yang menyatakan tidak mampu. Sedang yang menjawab tidak tahu sebesar 33,4 persen.

Survei dilakukan pada 15 Januari hingga 15 Februari dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 96,6 persen. Dalam survei tersebut menunjukkan, elektabilitas tertinggi Poros Tengah ditempati PAN sebesar 9,7 persen. Disusul Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 9,2 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 6,4 persen, serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 4,7 persen dan Partai Bulan Bintang (PBB) memperoleh 4,4 persen.

Mengapa begitu? Heri menjelaskan, berdasarkan survei itu, publik melihat PAN adalah partai yang paling terbuka, nasionalis dan lebih fleksibel ketimbang partai lain.

Lalu, PPP sebagai partai yang dianggap publik paling berpengalaman. PKB dinilai publik memiliki basis massa besar dan kekuatan PKS dinilai publik berada pada soliditas kader. Kemudian yang terakhir, PBB dinilai publik sebagai partai Islam yang didirikan oleh Yusril Ihza Mahendra.

Tak hanya itu, survei juga menyebutkan,adanya elektabilitas tokoh alternatif sebagai capres partai Poros Tengah jilid II dalam Pemilu 2014. Yakni, Din Syamsudin memperoleh presentasi sebesar 12,7 persen. Lalu muncul Ali Masykur Musa ketua ISNA memperoleh porsi 10, 4 persen. Tokoh perempuan NU, Khofifah Indar Parawansa mendapatkan porsi sebesar 9,3 persen.

Sementara Anies Baswedan sebagai tokoh dari dunia pendidikan dengan memperoleh presentase sebesar 7,2 persen. Terakhir, ada Said Agil Siradj ketua PBNU mendapat presentase sebesar 3,9 persen. "Itu figur alternatifnya," jelas Heri.

Namun, ada tokoh dengan tingkat elektabilitas capres tertinggi dari partai Poros Tengah, yaitu Jusuf Kalla (JK) dengan presentase sebanyak 17,6 persen. Disusul dengan Hatta Rajasa dengan 10,8 persen. Kemudian diikuti oleh Yusril Ihza Mahendra 9,3 persen. Mahfud MD 7,3 persen dan Hidayat Nur Wahid dengan raihan sebesar 4,2 persen.

Heri menambahkan, survei ini dilakukan untuk memberi motivasi Poros Tengah untuk menyiapkan figur yang kokoh.

"Kita ini semacam kompor, agar partai Islam lebih menyiapkan tokoh," imbuhnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Muhammad Najib, Ketua DPP PAN mengatakan, Poros Tengah muncul karena adanya gagasan melalui Poros Tengah atau jalan tengah. Saat itu, katanya, Bambang Sudibyo memunculkan gagasan itu. Tapi kristalisasi harus ada melalui pemunculan tokoh. “Waktu itu kita angkat Gus Dur sebagai tokoh pluralis,” katanya.

Selain itu, menurutnya, yang menonjol pada Poros Tengah jilid I satu adalah isu reformasi, itu gagasan awal. Sejak runtuhnya orde baru, ada semangat Soekarnois, sisi lain ada kelompok sisa orde baru yang ingin bertahan terhadap infrastruktur politik pak Harto. Untuk itu, Poros Tengah muncul dengan alternatif ideologi yang berbeda.

"Saya kira masyarakat sudah pragmatis. Masyarakat tidak melihat ideologi partai, melainkan langsung pada figur yang ada kaitannya dengan bagaimana dia menyelesaikan masalah pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," jelas Najib.

Najib sendiri menilai, bahwa masyarakat saat ini sudah pragmatis dalam memilih capres-cawapres. Jadi, mungkinkah Poros Tengah jilid II muncul? Kita lihat saja! (NefosNews/aprilia hariani)



Silakan di Klik:  

Share this article :

Poskan Komentar