Rabu, 06 September 2023

Home » » PR Besar Anies

PR Besar Anies

Sebagaimana mafhum, tidak mudah mendapakan pasangan dalam Pilpres, menyatukan mindset adalah masalah lain yang timbul setelah mendapat pasangan

Mafaza-Online | Selain maut, nasib dan rezeki, jodoh adalah urusan “langit”. Pastinya, tidak seorang pun tahu siapa jodohnya kelak. Hanya Dia, Allah SWT, pemilik dan penguasa alam semesta beserta isinyalah yang paling mengetahui dan berhak menentukannya.


Kira-kira seperti itulah “perjodohan” antara Anies Baswedan (ABW) dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dalam kontestasi Pilpres 2024. Benar-benar di luar prediksi banyak orang.  


Jadiannya, begitu cepat, bak kilat. Belum juga cukup ta’aruf, tenda “pelaminan” untuk pernikahan, telah digelar. Disaksikan para tokoh kedua belah pihak, pasangan Anies-Imin, dideklarasikan. Sah. 


Anies-Imin resmi menjadi pasangan dan siap berlaga dalam kontestasi Pilpres 2024 akan datang.


Terlepas dari terjadinya “gempa” politik di barisan partai KPP, “perjodohan” Anies-Imin yang super kilat ini, ada hikmahnya. Anies-Imin tercatat menjadi pasangan pertama Capres-Cawapres yang “jadian”. Sebagaimana mafhum, tidak mudah mendapakan pasangan dalam Pilpres. 


Dibutuhkan kalkulasi politik yang tidak hanya matang, tapi juga tepat sasaran. Salah kalkulasi, alamat “kiamat”. Perolehan suara bakalan tak terangkat. Boro-boro bisa menang, jungkir balik, mungkin. 


Di sisi lain, lawan politik, tentu tidak berpagut lutut. Setiap saat, mereka senantiasa mengintip dan mencari titik lemah lawan. Sambil menyiapkan berbagai trik untuk mengunci dan menyandera lawan politiknya. Inilah alasan mengapa tidak  mudah memilih Cawapres. Semua kemungkinan dikalkulasi dan dihitung.  


Kini, Anies-Imin telah resmi “berumah tangga”. Bahkan, selangkah lebih maju dari para pesaingnya. Namun, sebagai “pasangan baru”, pekerjaan rumah Anies-Imin dan barisan partai KPP (Partai Keadilan Sejahtera, Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa), terbilang tidak mudah. 


Salah satunya adalah menyatukan mind set, persepsi, arah, sikap politik Cawapres Imin dengan platform politik dari KPP. Sehingga langkah kebijakan pasangan ini dapat seiring dan sejalan. Hal ini wajar dilakukan karena selama ini keduanya berada di dua kubu politik yang berlawan. 


Anies sebagai representasi kubu “perubahan” dan Imin sebagai bagian dari rezim yang berkuasa.


“PR” berikutnya adalah menyatukan kekuatan “mesin politik” partai. Baik kekuatan struktur partai dan kekuatan di tingkat grassroot, massa pendukung loyal tradisional masing-masing partai politik. “PR” ini, jauh lebih rumit karena menyangkut banyak orang dan kepentingan. Lebih rumit ketimbang menyatukan platform antara Capres dan Cawapres Anies dan Cak Imin.  


Sebagai partai modern, PKS dikenal memiliki mesin politik partai yang dikenal cespleng, solid dan didukung para kader dan simpatisan yang militan dan gigih berjuang di tingkat grassroot. Nasdem memiliki founding father, Surya Paloh yang sangat berpengalaman, memiliki kematangan politik dan sumber daya yang mumpuni. 


Sedangkan PKB memiliki basis massa pendukung kalangan nahdiyyin yang kuat lumbung suaranya, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Tidak menutup mata, selama ini, tidak jarang terjadi “pergesekan” di tingkat akar rumput masing-masing partai. Saling tuding dan curiga terjadi. 


Para relawan Anies, PKS dan lainnya yang bergaris pemikiran modernis sering diframing sebagai pengikut Muhammadiyah, tidak toleran dengan hal-hal yang bersifat tradisional, anti tahlil, WAHABI dan lainnya. Yang mana selama ini dianut loyal oleh pengikut PKB yang notabene mayoritas kaum Nahdiyyin.


Padahal, perbedaan antara Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), tidaklah prinsipil. Berbeda hanya di bidang furuiyah (cabang-cabang). Berbeda dalam sudut pandang dan ijtihad yang dikembangkan oleh kedua organisasi yang memiliki pengikut terbesar di Indonesia tersebut. 


Jika ditarik lagi benang merahnya ke belakang, perbedaan tersebut terjadi pada proses polarisasi pemikiran dan pengalaman pendidikan 2 (dua) tokoh utama Muhammadiyah dan NU, yaitu KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. 


Perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa takzim dan hormat kita kepada kedua tokoh yang berjasa besar bagi kemajuan bangsa dan negeri ini. 


Bersatunya “mesin politik” di barisan KPP ini berpotensi melahirkan kekuatan yang powerfull, dahsyat. Sebaliknya, potensi besar ini tidak akan berarti apa-apa bila tak dikelola dengan baik. Apalagi bila dibiarkan saling “curiga” seperti yang terjadi selama ini. 


Saya percaya, berbekal kematangan berpolitik para tokoh yang berada di barisan KPP, seperti Anies Baswedan, Cak Imin (PKB), Surya Paloh (Nasdem), Ahmad Syaikhu (PKS) dan para tokoh lainnya, “PR” besar tersebut dapat diatasi. 


Sehingga, perahu layar Anies-Cak Imin, termasuk PKS, Nasdem dan PKB, tak hanya dapat berlayar, tapi juga mampu mengatasi serbuan badai yang menerjang hingga sampai pada tujuan: memenangi elektoral Pilres 2024 untuk perubahan demi bangsa dan rakyat  Indonesia yang lebih baik. Selamat. 

 

Saulus Rivai Hutapea, Kalibata, Rabu 6 September 2023.


Sebelumnya :

Anies dan Kecerdikan Menangkap Peluang


Mafaza TV

Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah







Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. Mafaza Online: PR Besar Anies . All Rights Reserved