Jumat, 04 Desember 2020

Home » » Peran Sentral Ulama Rabbani di Muka Bumi

Peran Sentral Ulama Rabbani di Muka Bumi

 

Murabbi Ruhina Bak Purnama yang menerangi

Murabbi lebih berkonsentrasi penghayatan sesuatu ilmu, sekaligus membentuk kepribadian, sikap dan kebiasaan anak didiknya. 

MafazaOnline | Murabbi secara luas diartikan melebihi tingkat muallim . Konsep Murabbi mengacu kepada pendidik yang tidak hanya mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam waktu yang sama membimbing rohani, jasmani, fisik, dan mental murid-muridnya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.


Justru, Murabbi lebih berkonsentrasi penghayatan sesuatu ilmu, sekaligus membentuk kepribadian, sikap dan kebiasaan anak didiknya. 


Jadi, tugas "Muallim" banyak melayang di "akal" namun tugas Murabbiy hingga menyelam di hati.


Firman Allah SWT:


اِنَّا عَرَضنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالاَرۡضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِنْسَانُؕ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوۡمًا جَهُوۡلًا


"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh". (QS Al Ahzab [33] : 72)


Hikmah di balik ayat tersebut adalah:

1. Tujuh lapis langit dan bumi, dll memiliki rasa (ada ruh)

2. Amanah Agama adalah mahal


Bumi dan langit tahu diri, tidak mampu memikul amanah. Amanah agama pantas diberikan kepada manusia, karena telah disetting penciptaannya dengan telah bermusyahadah. Hal ini supaya manusia juga tahu diri bahwa ia telah diberi potensi besar dan penciptaannya lebih baik daripada makhluk lainnya. 


Dengan mengenal dirinya akan menyebabkan manusia mudah bersyukur. Celakanya, kebanyakan manusia justru menuntut kenikmatan yang rendah, bersifat duniawi.


Firman Allah SWT: 


وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ  إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ


Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Penyayang. (QS An Nahl [16] : 18)


Nikmat Allah SWT adalah semua pemberian-Nya walau tidak memiliki, seperti: oksigen, cahaya matahari, dll. Termasuk nikmat besar adalah diciptakan sebagai manusia (yang lebih baik penciptaannya dibanding makhluk yang lain). Di balik kelebihan tersebut diberikan amanah Agama. 


Rezeki seperti harta bisa dihitung, namun nikmat Allah tidak bisa dikalkulasi (mis. diberikan kemampuan hadir di majelis ilmu/dzikir Mursyid). Bersyukur itu (ditujukan) atas nikmat Allah, bukan sekadar rezeki. Karena rezeki merupakan bagian dari nikmat Allah.




Silakan Klik:

۞Gerakan Wakaf al Quran۞

Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah



Marifatullah Ilmu Tertinggi


Ilmu yg tertinggi dalam agama adalah Marifatullah (mengenal Allah). Penyebabnya adalah karena tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk mengenal-Nya. Kenal disini, bukan karena Dia butuh kepada makhluk-Nya.


Barang siapa marifatullah (pengenalan yang dalam kepada Allah), maka orang itu akan menyaksikan Allah SWT pada tiap sesuatu. Maksudnya di balik keberadaan makhluk terdapat  Keagungan dan Kesempuraan Sifat Pencipta-Nya. 


Termasuk turunnya musibah Covid-19. Allah  SWT yang mengizinkan datangnya musibah tersebut.


Pangkat (jabatan) Kenabian memiliki batas waktu, setelah wafat selesai. Namun martabat Kewalian abadi. Karena kewalian itu menandakan posisi kedekatannya kepada Allah SWT. Semua manusia memiliki potensi menjadi Wali Allah, dekat kepada-Nya.


Ulama itu banyak yang disematkan oleh manusia. Ulama Rabbani (hakiki) adalah ulama yang menjadi Wakil Allah Taala di muka bumi (waratsatul Anbiya). Ulama yang mengikuti Sifat-sifat Allah Yang Mulia.


Manusia membutuhkan Ulama Rabbani atau Mursyid Hakiki untuk meraih marifat kepada Allah yang dalam. Tanpanya, tidak akan lengkap dan mendalam.


Para Ulama Rabbani sejak dulu selalu memohonkan ampun kepada kaumnya, karena tidak berdaya menghadapi hidup dan kehidupan. Apalagi di zaman modern saat ini. Betapa sulit menggiring hati manusia agar marifat dan tunduk kepada Allah SWT. 


Bahkan di zaman Nabi Musa yang kehidupannya masih sederhana, umatnya banyak yang berpaling. Ketika ditampakkan mukjizat barulah tunduk.


Manfaat teknologi untuk kebaikan amat besar sekali, begitu pula madharat (bahaya)nya. Di satu sisi teknologi merupakan bagian dari rahmat Allah, di sisi lain banyak membuat manusia lalai dengan anugerah tersebut. Waktu lebih banyak terbuang sia-sia, padahal waktu dan usia yang diberikan Allah hanya singkat. Rata-rata usia umat Nabi Muhammad   antara 60-70 th. 


Orang yang banyak bersedekah (ilmu, harta, tenaga) harta dan usianya akan ditambah/diberi keberkahan. Ibarat mancing ikan, hasilnya bergantung ukuran umpannya.


Jika menunjukkan rasa syukur kepada Allah Taala dengan mengeluarkan sedekah (wajib atau sunnah) maka Allah akan menambahkan yang lebih besar dari yang dikeluarkannya. Tujuan ditambahkan usia adalah agar bertambah pula amalnya.



Silakan Klik

JAYANING Jahe Wangi Super 

DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang



Seperti Mata Rantai


Seorang yang berguru pada Ulama Rabbani digambarkan seperti berada dalam satu rantai yang tersambung kepada para Mursyid sampai kepada Rasulullah . Ketika ia mengadu dan menjerit atas suatu persoalan, maka seluruh mata rantai silsilah tersebut akan bergerak. Artinya para ruhani suci yang berada dalam silsilah tersebut akan membimbing, menolong, membantunya.


Bumi ini masih berputar, karena masih adanya para Wali Allah Taala. Karena Wali-wali Allah sebagai tanda adanya (wakil) Allah di muka bumi ini. Ketika Allah murka karena melihat manusia banyak bergelimang dengan kemaksiatan, larut dengan kezaliman, tindakan melampaui batas, menjadi surut karena ada segelintir wali-wali-Nya yang dzikir dan mengharapkan ampunan bagi diri dan orang lain.


Allah Taala mempertemukan seseorang kepada Ulama Rabbani karena layak wushul (sampai) kepada-Nya. Tugas Ulama Rabbani membimbing umat di jalan Allah agar wushul ilallah.


Arti wushul secara sederhana adalah meninggalkan seluruh kehendak diri dan mengikuti Kehendak-Nya (menjalankan ketaatan yang paripurna [lahir batin]). Istilah Al Quran 'haqqo tuqootih', yakni taqwa (menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya) yang sesungguhnya.


Apabila sudah dipertemukan dengan Ulama Rabbani, janganlah menunda kesungguhan (totalitas) dalam perjuangan (mujahadah). Kemampuan ibadah (menjalankan tugas) itu semata-mata anugerah Allah SWT. Tanda ibadah yang ikhlas akan merasakan hal tersebut.  



Murabbi Sejati

Ulama Rabbani adalah ulama yang berusaha mengikuti Sifat-sifat Allah yang mulia. Segala tindakan dan programnya diliputi kebijaksanaan. Di balik kemarahannya terdapat nilai kasih sayang. Keberadaannya menyebabkan kedamaian, karena selalu memohonkan ampunan bagi  umat. Dialah Murabbi sejati yang mendidik menjaga dan memelihara murid-muridnya, atas izin Allah SWT. 


Allah Ta’ala berfirman:


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ


“Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (hai Muhammad, pent) berada di antara mereka, dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang (mereka) senantiasa beristighfar (minta ampun kepada Allah).” (QS. Al-Anfaal [08] : 33).


Banyak beristighfar merupakan kunci agar manusia terbebas dari krisis, bencana, atau azab. Orang yang beristighfar bukan sekadar lisan. Tapi hatinya mengakui kesalahan dan berazam untuk tidak mengulangi, mengiringinya dengan memperbaiki diri (beramal saleh).


Hadirnya Wali-wali Allah penyebab jauhnya manusia dari bencana, karena banyak memohonkan ampunan kepada umat dan mengingatkan/mengajak manusia untuk banyak bertaubat kepada Allah. 


Agama itu pasti. Sehingga orang yang mengikuti bimbingan agama melalui Ulama Rabbani akan merasakan buahnya ketika di dunia. Ibarat seperti produk mahal, akan memberikan garansinya agar dipercaya.


Orang beriman akan selalu beruntung, karena memandang segala sesuatu (kejadian) itu dengan positif. Semuanya membuatnya semakin dekat dengan Allah. Diberi musibah ia bersabar, dan diberi nikmat ia bersyukur.


(Arbain Jakarta, 9 Agustus 2020/19 Dzulhijjah 1441 H)



Share this article :

Posting Komentar