Jumat, 01 November 2019

Home » » Kisah-Kisah Karamah Umar bin Khaththab

Kisah-Kisah Karamah Umar bin Khaththab


At Taj as Subki mengemukakan, salah satu karamah Khalifah Umar al-Faruq ra dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi, “Di antara umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah Umar.”

Mafaza-Online | Khalifah Umar bin Khaththab merupakan seseorang yang dipercaya memiliki beberapa karamah. As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa menyebutkan beberapa karamah Sayyidina Umar bin Khaththab beserta riwayatnya. Semua riwayat terkait kisah dan karamah Umar bin Khaththab dalam Tarikh Khulafa bersanad sahih dan hasan. 

Komando Pasukan dari Jarak Jauh
Diceritakan, Umar bin Khaththab ra mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menyerang Persia. Di Gerbang Nahawand, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah.

Pada saat yang sama di Madinah, Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, ia berteriak seperti memberi komando, “Ya sariyyatal jabal!” sebanyak tiga kali. Umar berseru dengan suara lantang.  “Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh serigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!” 
  
Umar bin Khaththab | ilustrasi


Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf menenangkan Umar dan beberapa jamaah shalat Jumat yang hadir. Abdurrahman bin Auf mencoba mengklarifikasi ucapan Umar. Karena akibat teriakannya, "Ya sariyyatul jabal!" beberapa orang mencela umar.

Dengan tenang Umar menjawab, “Saya mendapati pasukan muslim berperang. Sedangkan musuh mengepung mereka dari berbagai tempat. Ketika saya mengucapkan ya sariyyatal jabal, saya berharap pasukan bergerak ke arah gunung.”

Ternyata ucapan Umar kepada Abdurrahman bin Auf ini benar adanya. Hal ini dibuktikan dengan datangnya utusan dari pasukan yang berperang satu bulan kemudian.

Utusan itu pun bercerita bahwa ketika mereka berperang pada hari Jumat, tiba-tiba mereka mendengar suara kencang yang meneriakkan kata-kata “ya sariyyatal jabal” sebanyak tiga kali. 

Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nahawand dapat mendengar suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, “Itu suara Khalifah Umar.” Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.
Kemudian para pasukan muslim pun bergerak menuju gunung dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan musuh dan memenangkan peperangan.

Padahal peperangan tersebut berada di Nahawand, Persia, sedangkan posisi Umar pada saat berkhutbah adalah di Madinah.

Al Taj as-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin as-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah Umar lalu ia ditanya, “Apa maksud perkataan Khalifah Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?” 

Ali menjawab, “‘Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” 

Setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui umat muslimin di Madinah, maksud perkataan Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas.

Menurut al Taj as Subki, dari peristiwa ini Umar ra tidak bermaksud menunjukkan karamahnya. Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nahawand dapat melihatnya dengan mata telanjang. Seolah-olah Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah. Seluruh panca indra Umar merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nahawand. 

Sariyah berbicara dengan Umar seperti dengan orang yang ada bersamanya, baik Umar benar-benar bersamanya secara nyata atau seolah-olah bersamanya. 

Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar biasa yang dikeluarkan oleh Allah melalui lisan mereka dan terkadang tidak mengetahuinya. Kedua hal tersebut adalah karamah.
   

Silakan Klik

Jawaban Penghuni Kubur
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan, ketika Umar bin Khaththab ra melewati pemakaman Baqi, ia mengucapkan salam, 

“Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa istri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah dibagi.” 

Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut, “Hai Umar bin Khaththab, kukabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan.” (Dikemukakan dalam bab tentang kubur)

Yahya bin Ayyub al-Khaza’i menceritakan bahwa Umar bin Khaththab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, “Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga (QS Ar Rahman [55]: 46). 

Dari liang kubur pemuda itu, terdengar jawaban, “Hai ‘Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga.” (Riwayat Ibnu ‘Asakir)

Alarm Kebakaran
Diceritakan bahwa Umar bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” 

Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” 
Umar bertanya lagi, “Siapa ayahmu?” 
Ia menjawab, “Syihab (lampu).” 
Umar bertanya, “Keturunan siapa?” 
Ia menjawab, “Keturunan Harqah (kebakaran).” 
Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” 
Ia menjawab, “Di Al Harrah (panas).” 
Umar bertanya lagi, “Daerah mana?” 
Ia menjawab, “Di Dzatu Lazha (Tempat api).” 
Kemudian Umar berkata, “Aku melihat keluargamu telah terbakar.” 
Dan seperti itulah yang terjadi.

Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa salah satu kampung di Madinah dilanda kebakaran. Kemudian Umar menulis di secarik kain, “Hai api, padamlah dengan izin Allah!” Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam. 


Lengkapi Pustaka Anda dengan:

Diamlah Pembohong
Selain karamah-karamah di atas, Umar juga memiliki karamah mengetahui kebohongan yang dilakukan seseorang. Bahkan pernah diceritakan bahwa Umar pernah menolak suatu hadis yang pernah disampaikan seseorang karena Umar mengetahui bahwa ia telah berbohong.

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin Umar ra, berkata, “Setiap kali Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar.”

Riwayat dari Ibnu Umar dalam kitab Hujjatullah ala al Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah Umar yang lainnya yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu Umar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, “Setiap kali aku berbohong kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam.”

Diamlah Bumi
Dalam kitab asy Syamil, Imain al Haramain menceritakan Karamah Umar yang tampak ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ditengah kepanikan orang-orang, Umar malah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah. Padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Kemudian Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” 

Seketika Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al Haramain, pada hakikatnya Umar ra adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya. Dengan begitu, Umar mampu memerintahkan dan menghentikan gerakan bumi,  sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi.

Wahai Nil Mengalirlah
Imam al-Haramain juga mengemukakan kisah tentang sungai Nil dalam kaitannya dengan karamah Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tidak mengalir sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut. 

Ketika Islam datang, sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, tenyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering. Agar kembali mengalir harus diberi tumbal: melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya. 

Kemudian Amr bin Ash ra berkata kepada mereka, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut.” 

Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya Sungai Nil. Akibatnya mereka benar-benar menderita.

Amr bin Ash menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khaththab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk ‘Amr bin Ash, Umar menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!” 

Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan, “Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.” 

Kemudian Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-bcnar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.

Mencium Niat Jahat
Imam al-Haramain menceritakan karamah Umar lainnya. Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga Umar berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi `Umar untuk ketiga kalinya dan Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut terdapat pembunuh ‘Utsman dan Ali r.a.

   

Dikawal Dua Singa
Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap Umar. Utusan itu mencari rumah Umar dan mengira rumah Umar seperti istana para raja. Orang-orang mengatakan, 

“Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu.” 
Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat `Umar telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. 

Terperanjatlah utusan itu melihat Umar, lalu berkata, “Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini.” 

Dalam hati ia berjanji akan membunuh Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. 

Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. 

Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa. "Apa yang telah terjadi?!" Umar bertanya kepada utusan itu. Ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para Raja dan Pemimpin. 

Pembaca, dari buku-buku sejarah yang Anda baca, apakah Anda menemukan pemimpin seperti Umar? Pemimpin besar dan disegani.  Jadi, dari semua kisah di atas, karamahnya yang paling hebat adalah: Umar sangat welas asih menghindari sikap memaksa. Tapi kepemimpinannya sukses gemilang. Itulah kelebihannya dari pemimpin-pemimpin lainnya.

Sebagaimana nabi   telah mensinyalir, “Di antara umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah Umar.”

Wallahu A’lam bishawwab

Silakan Klik
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar