Senin, 04 November 2019

Home » » KAJIAN ILMU TAUHID Sifat Sifat Allah SWT

KAJIAN ILMU TAUHID Sifat Sifat Allah SWT

Kajian Ilmu dan Zikir Tarekat Idrisiyyah
KAJIAN ILMU TAUHID Sifat Sifat Allah
Bersama: Syekh Akbar Muhammad Fathurahman


Mafaza-Online | Tauhid artinya mengesakan dalam pembahasannya, Ilmu Tauhid dibagi tiga:

Pertama, Tauhid Rububiyyah
Artinya meng-Esakan Allah dari dimensi Rububiyyah. Hanya Allah sebagai Rabb (Penguasa, Pemilik, Pemelihara). Di antara Ayat-Nya: alhamdulillaahi Robbil 'aalamiin

Kedua, Tauhid Uluhiyyah
Artinya meng-Esakan Allah dari dimensi Uluhiyyah. Hanya Allah sebagai Zat yang diibadahi. Di antara Ayat-Nya laa ilaaha illallaah

Ketiga, Tauhid Al Asma wa Shifatihi
Allah menunjukkan identitas Diri-Nya dengan Nama2Nya sebanyak 99 Nama dalam Al Quran. Ayat-Nya: walillaahil asmaa ul husnaa ... al malikul quddus ...

Banyaknya nama menunjukkan Kesempurnaan dan Kemuliaan. Seperti dalam penyebutan nama-nama orang yang dianggap hebat, nama dilengkapi dengan sederet gelar plus julukan. "Pak Kiai, Pak Jenderal, Pak Prof, atau Mike Tyson si Leher Beton." 

Sifat-sifat Allah ada yang disebutkan dalam Al Quran dan hasil Ijtihad Ulama. Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Artinya:
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya:
“Yang Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”


Para Ulama Aqidah Asy'ari merumuskan dengan ijtihadnya 20 Sifat-sifat Allah yang wajib dan mustahil ke dalam beberapa istilah wujud, qidam, baqa', dst. (Sifat yang Wajib). 'Adam, huduts, dst (Sifat yang Mustahil).

Karakter Wali Mursyid adalah wasatho dalam konsep kebijakannya. Ilmunya tidak terjebak dalam perselisihan (terlibat konflik salah satu paham). Tapi, meluruskan dan mendamaikan paham yang berseberangan. Salah satunya adalah menengahi masalah Keberadaan Allah (di mana Allah).

Ada yang berpendapat bahwa Allah SWT berada di mana-mana. Lalu, ada juga yang berpegang dengan firman-Nya: Allah bersemayam di atas Arasy. Imajinasi manusia terhadap makna 'bersemayam' adalah sebagaimana posisi manusia duduk. Padahal tidak seperti itu, tidak sama posisi duduknya Allah SWT dengan yang ada di benak kita.

Cara memahaminya adalah: 
Pertama, Melihat dari sisi wujud. Tentang Wujud Allah SWT adalah hakiki, sedangkan wujud makhluk, idhafi (bersandar). Manusia, memiliki kulit, sel dan unsur air. Meja, unsurnya, kayu benda padat, partikel-partikel. Sementara Zat Allah itu mutlak, tidak dibatasi.

Kedua, Dari sisi Zat-Nya. Zat Allah sempurna, tidak terbentuk dari unsur apapun seperti manusia (misalnya darah, tulang, dll). Unsur-unsur tersebut memiliki keterbatasan dan kelemahan.
Dengan memahami keduanya, maka tidak terimajinasikan Allah bersemayam seperti manusia/makhluk. Tentu, karena jauh sekali perbedaannya.

Menyikapi ayat tersebut adalah dengan memahami dan meyakini Allah SWT bersemayam di atas Arasy akan tetapi kaifiyat (cara)-nya tidak diketahui oleh siapapun. Akal manusia tidak mungkin mengimajinasikan Allah SWT bersemayam di atas Arasy. Tidak sampai, karena Arasy Allah saja tidak diketahui oleh manusia? Ibarat anak kecil yang hanya tahu permainan tradisional disuruh menggambarkan permainan anak-anak zaman modern.

Silakan Klik

Pandangan kelompok Islam tentang ayat tersebut terbagi dua: 

Disatu pihak, memahami apa adanya, Pihak yang lain justru memalingkan dengan makna lain dengan takwil, menjadi 'istawla' (استولى) (menguasai).

Perbedaan pendapat ini inilah yang memicu perdebatan dan menyebabkan perselisihan. Saking sengitnya hingga menimbulkan saling tuding yang berujung Takfir. 

Kelompok yang mentakwil menganggap kelompok Pertama dituding mujassimah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebaliknya kelompok Pertama menganggap kelompok Kedua tidak mengimani Ayat Allah sebagaimana adanya.

Alih-alih menambah keimanan, perselisihan itu justru menimbulkan keraguan. Perdebatan dengan kacamata kuda itu tidak mencari titik temu untuk kebenaran.

Berdasarkan pemahaman di atas, pertanyaan: "Di mana Allah?" Sangat bergantung dengan konteksnya. Jika disamakan dengan makhluk yang membutuhkan tempat, maka keliru! Tidak pantas untuk ditanyakan. Bukankah Allah yang tidak membutuhkan tempat, padahal yang disebut ruang dan waktu alias tempat itu adalah ciptaan-Nya.

Mahluk sebagai wujud Idhafi membutuhkan ruang dan waktu. Allah SWT berada di atas Arasy mesti diyakini, tapi keberadaan-Nya tidak seperti makhluk. Suci dari sifat makhluk yang penuh kekurangan.

Silakan Klik
DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang

Pendapat Imam Al Ghazali dalam kitabnya Qawaid al Aqaid memadukan kedua pemahaman di atas. Redaksi tidak ditakwil, tapi maknanya disesuaikan dengan kehendak Allah, laysa kamitslihi syai-un (Tidaklah Allah menyerupai sesuatu). Tidak dimaknai apa adanya tapi dengan penyucian dari segala makhluk-Nya.

Pemahaman istawla ada pada redaksi: mahmuuluuna bi luthfi qudrotihii wa maqhuuruuna fii qobdhotihii (Arasy dipikul oleh Allah dengan Kelembutan Kuasa-Nya dan dikuasai dalam Genggaman-Nya).

Pertanyaan ‘Di mana Allah?’ Bukan berarti pertanyaannya salah. Akan tetapi, pertanyaan tersebut menjadi keliru apabila mempertanyakannya seperti makhluk yang memerlukan tempat. Jika pertanyaan tersebut bermaksud semata-mata untuk kejelasan dan ilmu, maka jawaban yang jelas adalah Allah berada di atas Arasy. 

Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam beberapa ayat Quran.

Akan tetapi, Keberadaan di atas Arasy itu kondisinya tidak sama dengan makhluk. Allah bersemayam di atas Arasy Suci (munazzahah) dari kondisi sifat makhluk yang digambarkan ketika duduk, seperti menyentuh, menempati, bersandar, berdiam, bercampur, berpindah-pindah, dan lain-lain.

Pembahasan Tauhid seperti ini seharusnya menambah tunduk dan ta’zhim kita kepada Allah SWT karena merasakan Keagungan-Nya. Bukan malah kontraproduktif yang menyebabkan perselisihan dan saling menyalahkan (bahkan saling mengkafirkan). 

Padahal sama-sama bersyahadat dan shalat. 

Jika mempelajari tauhid dengan produktif, akan menambah keyakinan kepada Allah dan mengormati orang lain.

Kesimpulan. Wajib mengimani bahwa Allah bersemayam di atas Arasy yang tertera dalam Al Quran dan menunjukkan Sifat-Nya, tapi maknanya suci dari sifat makhluk.

Kampoeng Futuh, 30 Oktober 2019


Silakan Klik
Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar