Jumat, 25 Oktober 2019

Home » » Mengolah Energi Rohani Menjadi Gerak

Mengolah Energi Rohani Menjadi Gerak

Marcomm Idrisiyyah
Syekh Akbar Muhammad Fathurahman

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud," (QS Al Hijr [15]: 29)

Oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman*
Mafaza-Online | Perhatikanlah dirimu sendiri: Ketika semuanya sudah terencana dengan baik, tapi mendadak mood hilang? Apa yang terjadi? Mager alias malas gerak menyerang, kerjaan pun terbengkalai. Seseorang yang disapa, "Kamu kok pucat, abis sakit ya?" Maka dia akan langsung lunglai. Kepada seorang wanita, jangan bertanya: Warna kulit, umur atau berat badan, karena itu akan membuat macet obrolan. Alias hilang simpatinya pada lawan bicara. 

Pujian bisa melambungkan, cacian bisa melemahkan. Semua rasa itu berakibat pada fisik kita.  Perasaan, roh, sukma atau jiwa, itulah istilah yang kerap disematkan. Orang Barat menyebutnya dengan Soul atau jiwa. Sering juga dengan Spirit yang sering diterjemahkan dengan Semangat. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online mengaitkannya dengan jiwa, sukma atau roh. 

Jadi spiritualitas berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Muncul istilah, Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.

Semua manusia diberikan potensi yang sama, berupa roh. Ini tentu sangat istimewa, baik sumber maupun proses penciptaannya. Firman Allah SWT:  "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud," (QS Al Hijr [15]: 29)

"...dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku...." Maknanya, bukan berarti Roh Allah terbagi-bagi, tapi menunjukkan kemuliaan dan kebesaran potensi yang dimilikinya.
Risalah Muhimmah
Kekuatan Spiritual
Manusia hidup menapak kakinya di bumi. Urusan Rohani selalu dikaitkan dengan langit. Dunia dengan segala keindahannya adalah ladang ujian dan akhirat saatnya memetik panen. Maka terjadilah tarik menarik ini. Tarikan langit akan semakin melemah ketika manusia, menuruti hawa nafsunya. 

Hubbud dunya adalah pangkal dari segala kesalahan. Istilah ini sering diartikan dengan Cinta Dunia. Namun, jika hanya diartikan cinta dunia, orang pun akan protes mempertanyakan: "Kenapa sih gak boleh mencintai dunia?" Padahal kita hidup di dunia, butuh ini dan itu. Ibadah pun butuh perlengkapannya. 

Lebih tepatnya hubbud dunya diartikan: Gila dunia. Orang Gila itu tidak sadar. Tidak sadar terhadap yang dikejar dan dimilikinya. Korupsi, berzina, dll adalah tindakan yang disebabkan oleh hati yang sudah tergila-gila.

Tasawuf dibutuhkan untuk mengolah dan menguatkan potensi kekuatan ruhani. Namun yang diperlukan saat ini adalah untuk beribadah. Sebagai contoh ada seorang Jamaah masjid Al Fattah, Tasikmalaya yang sudah lanjut usia, tapi mampu datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Meskipun fisiknya sudah lemah, tapi mampu beribadah mengalahkan anak muda. Itulah, karena kekuatan ruhani yang menggerakkannya.


Kekayaan Nabi Sulaiman
Nabi Sulaiman adalah contoh dari sosok yang menggabungkan kekuatan lahir dan batin. Tidak ada lagi di bumi ini, Kerajaan yang melebihi Kerajaan Nabi Sulaiman as. Manusia, binatang dan jin menjadi balatentaranya. Namun, semua itu tidak membuatnya lalai dari mencintai Allah SWT. Kemewahan dan kebesaran kerajaan hanya ada di tangannya. Sedangkan hatinya tetap dipenuhi cinta total kepada Allah SWT.   

Kekayaan seantero jagad tidak membuat Nabi Sulaiman As terbuai atau tergila-gila. Bahkan semakin bersyukur diberikan kenikmatan berupa kerajaan lahir dan batin. Padahal, umumnya orang gagal ketika diuji dengan harta dan tahta seperti Fir'aun, Tsa'labah, dll.) 

Nabi Sulaiman berencana menyampaikan dakwah kepada Ratu Balqis yang menyembah matahari. Lalu Beliau mengumpulkan seluruh Menterinya untuk memberikan kejutan dengan memindahkan singgasana Ratu Balqis. Setelah ditawarkan kepada bangsa jin dan manusia, seorang pembantunya yang alim dan shidiq, Ashaf bin Barkhoya berhasil menandingi kecepatan Ifrit dari kalangan jin. Ashaf mampu memindahkan singgasana dalam tempo sekejap mata. Inilah berkat kekuatan spiritual.

Lengkapi Pustaka Anda dengan:

Kisah-kisah Kekuatan Spiritual
Perang Badar di masa Rasulullah pasukan kaum muslimin hanya berjumlah tiga ratus orang melawan tiga ribu orang. Bayangkan, satu berbanding sepuluh! Ternyata, para malaikat bersatu pada diri Sahabat Ra, membantu secara spiritual dalam berperang. Kekuatan itu yang membuat kemenangan bagi kaum muslimin.

Selain sebagai khalifah kedua, pengganti Abu Bakar, Umar bin Khaththab  merupakan seorang khalifah yang dipercaya memiliki beberapa karamah. As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa menyebutkan beberapa karamah sayyidina Umar bin Khatab beserta riwayatnya. Diyakini semua riwayat terkait kisah dan karamah Umar bin Khatab dalam Tarikh Khulafa bersanad sahih dan hasan.

Suatu hari, tepatnya di hari Jumat, Umar bin Khatab memimpin khutbah jumat sebelum pelaksanaan shalat jumat. Anehnya, ia malah tidak langsung menyampaikan khutbah seperti biasanya. Tiba-tiba ia meneriakkan kata “Ya sariyyatal jabal” sebanyak tiga kali.

Para jamaah yang hadir pada saat itu pun merasa aneh. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap bahwa Umar sedang gila.

Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf menenangkan Umar dan beberapa jamaah shalat jumat yang hadir. Abdurrahman bin Auf mencoba mengklarifikasi ucapan Umar tentang sariyyatul jabal yang mengakibatkan beberapa orang mencela umar.

Umar pun dengan santai menjawab: “Saya mendapati pasukan muslim berperang. Sedangkan musuh mengepung mereka dari berbagai tempat. Ketika saya mengucapkan ya sariyyatal jabal, saya berharap para pasukan untuk menuju ke arah gunung.”

Ternyata ucapan Umar kepada Abdurrahman bin Auf ini benar adanya. Hal ini dibuktikan dengan datangnya utusan dari pasukan yang berperang kepada Umar satu bulan kemudian.
Utusan itu pun bercerita bahwa ketika mereka berperang pada hari jumat, tiba-tiba mereka mendengar suara kencang yang meneriakkan kata-kata “ya sariyyatal jabal” sebanyak tiga kali. 

Kemudian para pasukan muslim pun bergerak menuju gunung dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan musuh dan memenangkan peperangan. Padahal peperangan tersebut berada di Nahawand, yakni negeri di luar tanah Arab. Sedangkan posisi Umar pada saat berkhutbah adalah di Madinah.

Ada Uwais al Qarni yang tidak berjumpa dengan Nabi Muhammad , tapi memiliki derajat kewalian yang tinggi. Hingga Nabi Muhammad meminta Umar ra untuk meminta doanya bila bertemu. 

Jauh sebelumnya, ada Nabi Nuh dengan bahteranya. Ada bayi Musa yang diasuh di Istana Firaun. Ada Isa yang mencapai puncak kehebatan pengobatan, karena bisa menghidupkan orang mati. 

Hal ini berlanjut, terjadi tak hanya di masa Nabi, Sahabat, Tabiin tapi terus dan terus akan terjadi selama kaum muslimin menjaga kedekatannya dengan Allah SWT.    Untuk nabi disebut sebagai mukjizat sedangkan untuk penerusnya disebut dengan karamah. Bentuk pertolongan akan disesuaikan dengan zamannya.    
Spiritualitas di Idrisiyyah
Dulu Syekh Ahmad Syarif Sanusi ditakuti oleh para penjajah Italia dan Eropa. Karena terus membayangi mereka. Tarekat Sanusiyyah dianggap menjadi batu ganjalan usaha mereka merebut wilayah-wilayah dan kekuasaan di Afrika Utara. Inggris sebagai super power waktu itu, bersama sekutu-sekutunya mengumumkan sayembara. Akan memberi hadiah kepada siapa saya yang bisa membawa Syekh Ahmad Syaris as Sanusi: hidup atau mati! 

Namun sejak diumumkan sayembara tersebut, para penjajah Eropa tidak berhasil mewujudkannya hingga Syekh Ahmad Syarif pindah dan wafat di Jabal Abu Qubais Makkah. Ketokohan Beliau yang heroik dan disegani kawan maupun dan lawan adalah disebabkan the power of spiritual.

Di Tarekat Idrisiyyah, ada juga cerita tentang karomah. Namun, alih-alih menimbulkan simpati kami justru khawatir akan kontraproduktif bila diekspos. Kami lebih senang mengatakan, "Sekali istiqomah lebih baik dari seribu karomah!" 

Tambak udang Qini Vaname, 7 tahun lalu hanya bermodal 50 jt kini sudah 6 M. Terobosan usaha ini diawali melalui bimbingan Ruhani, sejak gagasan dimulai hingga tahapan-tahapannya hingga sekarang. Tanpa kekuatan spiritual usaha bernilai milyaran tersebut sulit terwujud jika hanya mengandalkan kemampuan fisik atau akal semata. Karena memulai pendiriannya dengan Zikir berjamaah, mengiringi prosesnya dengan zikir hingga panen, maka masyarkat setempat menyebutnya sebagai Udang Shalawat. Sungguh nyata Udang Shalawat menggerakan ekonomi umat.  

Silakan Klik:

Motivasi Berjuang
Ruhani para Nabi As tidak terus menerus berada di alam barzakh. Tapi bisa berpindah-pindah, seperti kejadian Isra, dimana Nabi mengimami shalat beserta para Nabi As di belakangnya. Ruhani-ruhani para Nabi As diturunkan Allah untuk menambah kekuatan motivasi terhadap perjuangan Nabi Muhammad yang ketika itu sedang mengalami masa-masa kesedihan ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya. Para Mursyid pun selalu diberikan kekuatan spiritual oleh Allah ketika mengalami ujian dan kesedihan agar menguatkan kembali tugas perjuangan yang diembannya.

Apabila potensi ruhani diasah maka akan menunjukkan kekuatan spiritual. Hawa nafsu masih menguasai atau mendominasi dirinya –sehingga malas beribadah– pertanda spiritualnya masih lemah.

Kekuatan Mursyid dalam membimbing murid lebih cepat dari kecepatan cahaya. Peristiwa kekuatan spiritual bukanlah sekadar cerita masa lalu tapi juga hari ini  pun bisa terjadi. Karena masa kejayaan Islam akan tiba sesuai janji Allah. Keadilan akan kembali tegak di muka bumi ini ini padahal sebelumnya penuh dengan kemungkaran dan kesewenang-wenangan. 

Kondisi tersebut hanya bisa diwujudkan dengan kekuatan spiritual yang diasah dengan tasawuf. Sehingga muncullah jiwa-jiwa yang membaja seperti para Sahabat Ra. Meski jumlahnya terbatas, tapi mampu berjuang maksimal. Pada akhirnya dengan kekuatan ruhani, ketidakmampuan  dan kelemahan menjadi kekuatan dan dikalahkan menjadi kemenangan. Dengan pertolongan Allah SWT.

Ingatlah kaidah dari sebuah pertandingan: Atlit akan didukung oleh supporter bila bermain dengan baik. Sebaliknya bila bermain buruk, bukan dukungan yang didapat tapi malah kecaman yang berakibat hukuman. 

*Mursyid Tarekat Idrisiyyah
Kampoeng Futuh, 13 Okt 2019/14 Safar 1441 H.

Silakan Klik
Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

+ komentar + 1 comment

26 Oktober 2019 09.33

Madad Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman.M.Ag

Terimakasih Zainal Abidin atas Komentarnya di Mengolah Energi Rohani Menjadi Gerak

Posting Komentar