Senin, 23 September 2019

Home » , » Kami Masih Baik-baik Saja

Kami Masih Baik-baik Saja


"Kami Masih Baik-baik Saja"
Alhamdulillah, seperti yang dikatakan Pak Wiranto, langit di Provinsi kami sangatlah indah dan biru tidak seburuk yang diberitakan. 

Benar! Alhamdulillah kami masih baik-baik saja. 

Langit kami biru, hanya saja tertutup oleh asap. Tidak seburuk yang diberitakan.
Ya, kukira tak pula ada yang memberitakannya.

Ini hanyalah asap biasa, bukan asap berbahaya. Kami masih bernafas di kota ini, tak ingin lari kemana-mana. 

Cukuplah melihat dari kejauhan, cukuplah kami lihat segarnya udara di kota tempat pak Presiden kami dan cucunya menghabiskan akhir pekannya tanpa terasa ada yang mengganjal di hidung, tenggorokan atau paru-paru mereka. 
Semoga beliau dan keluarga baik-baik saja dan sehat selalu.

Hari ini, kami benar-benar sudah lelah. 
Kami lelah pura-pura bahagia sampai akhirnya rasa lelah itu berubah jadi tawar dan kami akhirnya benar-benar tegar.

Kata saudara-saudara kami, ini adalah azab untuk kami orang Riau yang dulu tak memilih pemimpin sekarang ini. 

Mungkin ini rezim Tuhan, sehingga kami dikutuk berbulan lamanya, diendapkan dalam asap, diazab sebab tak memilih rezim ini.

Kami masih kuat sekali, saat hinaan dan cacian itu datang tanpa simpati mengatakan ini semua ulah kami. Ulah kami rakyat kecil yang tak punya daya dan kuasa di tanah kami sendiri. 

Terimakasih saudara dan saudari, semoga senantiasa kalian tetap bisa menikmati udara segar.

Terimakasih kepada saudara semuanya yang membungkam kami dan tak boleh berteriak meminta keadilan dan tanggung jawab kepada pemimpin di negri ini. 
Ya! Ini bukan salah orang nomor satu di negri ini, bukan salahnya. 

Beliau orang suci dan tak pernah bersalah. 

Cukuplah kami meminta keadilan pada Tuhan kami.

Silakan Klik:


Terimakasih kami ucapkan kepada Gubernur kami yang telah menolak bantuan dari Goodbener JKT, demi Allah kami masyarakat Riau tidak satupun menolak, bahkan sangat bersyukur.

Tapi tak apalah, maaf Pak Anis. 
Lagi-lagi ini salah kami masyarakat, bukan salah pemimpin.

Terimakasih juga kami ucapkan kepada orang-orang nomor satu di negri ini telah menolak bantuan dari negri jiran untuk mengatasi masalah ini. 
Terimakasih!

Kami masih baik-baik saja sampai malam ini udara di provinsi sudah tidak terdeteksi lagi oleh ISPU.

Allah anugrahi kami kekuatan yang Maa Syaa Allah sampai kami benar-benar tawar untuk meminta keadilan. 

Biarlah kami mati. 


Silakan Klik


DUA VARIAN RASA Gula Aren dan Kayu Secang

Indonesia tidak butuh orang Riau, tapi Indonesia butuh sumber daya alam di Riau. 

Bukan manusianya yang selalu berteriak menentang kedzaliman di negri ini.
Kami pantas dihabisi di negri ini.

Ambillah! Ambil saja semua sumber daya alam kami. Ambillah hasil bumi kami!
Dirikan saja semua pabrik dan segala jenis perusahaan yang ingin kalian dirikan disini. 

Tebang saja semua yang ingin kalian tebang. 

Biarlah kami menangis dihadapan Tuhan. 
Bayi-bayi kecil yang mengadu pada Tuhannya, di surga sana mereka telah bercerita di pangkuan Tuhan dan mengisahkan bagaimana mereka dibunuh, mengadu bagaimana orang tua mereka dihina oleh saudara mereka sendiri sebangsa setanah air ketika memperjuangkan hak mereka dan hak anak-anak mereka untuk bernafas dengan tenang.

Biarlah, biar esok hari kami bercerita di pengadilan Tuhan. 

Kami telah menghabiskan air mata kami untuk meminta pada makhluk-Nya yang hatinya telah mati, matanya telah buta.

Kami masih baik-baik saja. 
Habiskan saja kami! 

Tenggelamkan kami seberapa lama lagi kalian mau Pak. 

Semoga kalian sehat selalu. 
Saudara-saudara kami yang menertawakan kami dan masih bisa bernafas dengan lega. 

Kalian tetap kami doakan agar tidak merasakan apa yang kami rasakan.
Hutan kami telah habis dibakar. 




Paru-paru bumi ini kian hari kian lenyap, semoga kalian di sana. Anak-anak kalian suatu hari masih punya kesadaran untuk menanam kembali hutan di kota kalian, di antara gedung-gedung tinggi atau di pot-pot kecil di teras rumahnya.

Jangan di Riau! Nanti dibakar lagi.
Masih ada 51% persen cadangan minyak bumi yang ada di bumi kami. 

Masih ada 11 proyek eksplorasi Blok Minyak di Riau yang belum terwujud. 
Masih ada puluhan tahun lagi waktu untuk terus membakar kami dan membangun gedung-gedung, menanam sawit dan membangun perusahaan.

Ya kami masih baik-baik saja. 
Dimata kalian yang menghina kami, semua ini ulah kami masyarakat kecil. 

Lupakan semua sabotase,
lupakan kalau negri Pertiwi ini sedang menyusu di bumi Melayu.

Biarlah semua azab kami. 
Iya ini azab kami!

Salam takziah dan berkabung untuk kematian hati para pemimpin dan saudara kami yang menghina perjuangan kami. 
Kalian yang mati hati, kalian yang buta mata, kalian yang tuli!

Alhamdulillah kami kuat dengan cacian itu, dan kami masih bernafas lega dengan 7 zat racun yang menggerogoti paru-paru kami tiap detik.

22 September
Galiantanah, Rokan Hulu, Riau

Silakan Klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

Posting Komentar