Senin, 11 Februari 2019

Home » » Surat Nariratih Kepada Kamandanu

Surat Nariratih Kepada Kamandanu


CERPEN Surat Nariratih Kepada Kamandanu | Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan/detikcom 


Apa kabarmu, Kakang? 

Malam ini, sebelum masuk kamar, aku sempat mendengar berita dari seseorang yang menemui ayahmu bahwa engkau sedang giat berlatih olah kanuragan pada Empu Ranubaya di Hutan Kurawan. Kau masih saja setia pada ilmu silat, Kakang. Malah kudengar kini kau sedang memperkuat tenaga dalam dan memperdalam ilmu meringankan tubuh. 

Sebenarnya apa yang sedang kau cari dengan ilmu-ilmu ketangkasan itu? Apakah benar kata orang bahwa dengan ilmu silat itu kau akan memberontak pada Kertanegara, Raja Singosari yang kudengar sebagai pemabuk dan pecandu wanita itu? 

Kakang, aku ingat, sekian kali bersama menghabiskan waktu bersamamu, aku tak kunjung menemukan kelebihanmu selain bertarung. Kebersamaan kita lebih banyak kau habiskan untuk melatih otot-otot tubuh dan ketangkasanmu berkelahi. Berkelahi, Kakang, apa yang bisa diperbuat ilmu silat dalam sebuah hubungan asmara? 

Meskipun ilmu silatmu itu pernah menolongku dari perkosa berandal Desa Manguntur, aku belum bisa mengubah pandangan hidup bahwa silat hanyalah suatu cara untuk saling bermusuhan. 

Setelah kau menolongku waktu itu, aku justru dihinggapi rasa tidak tenteram. Aku selalu khawatir sewaktu-waktu kau diserang gerombolan orang yang pernah kau buat memar wajahnya itu. Pasti ada dendam dalam dada orang itu. Padahal, jika saja kau tak menolong, aku bisa saja bersiasat menghadapi berandal itu dengan kepura-puraan untuk bersedia disetubuhi di lain waktu. Akan aku katakan padanya: memperkosa itu tidak lebih baik daripada olah asmara di bawah purnama muda dan aku akan menyerahkan seluruh isi dada. Aku yakin, berandal beringasan itu akan menahan berahinya demi kepuasan badani yang diimpi-impikannya akan lebih dahsyat, tapi tidak akan pernah ia dapat. 

Siasat, Kakang, siasat lebih hebat daripada silat.

Kakang, tiap kali melihatmu berlatih, aku selalu terpesona dengan dada bidang, tangan kekar, rambut panjang tergerai damai, dan tentu ketangkasan gerak tubuhmu. Namun, aku justru selalu merindukan tubuhmu itu diam. Mematung serupa arca Wisnu. Ketika tubuh gagah itu diam, mungkin aku bisa memelukmu. Menaruh kepalaku di atas dada bidangmu dan mendengarkan perkataanmu langsung dari dada. Jika demikian, aku mengharap sekali tanganmu membelai rambutku, begitu damai, begitu nyaman. 

Apa kau tak pernah mengerti hal-hal semacam itu, Kakang? Ingatkah rajukanku sesaat setelah kau selamatkan aku dari berandal desa?

"Kang, peluk aku, Kang. Peluk aku, Kakang. Ini saat-saat yang paling kuimpikan."

Tapi, kau begitu dingin menolak rajukanku. Memeluk, hanya memeluk, dan kau tak memberikannya. Kau justru menghajar Dwipangga ketika ia telah memberikan pelukan terlekatnya padaku di sebuah bangunan tempat kita biasa menghabiskan senja. Setelah memukul Dwipangga, kau hina kami sebagai manusia rendahan yang tak bermoral sembari membanggakan diri sebagai manusia suci. 

Kakang Kamandanu, 

Apakah kau masih sering mengatakan kata-kata kasar seperti jahanam, bedebah, dan bajingan? Sesering dulu aku mendengar kata-kata kutukan semacam itu dari mulutmu, meskipun bukan untukku? Dulu, begitu keras kau mengucapkannya seperti mewakili kerasnya hatimu. Selama kita berkasmaran, sekalipun tak pernah keluar kata-kata indah dari mulutmu. Rindu dan cinta, barangkali hanya dua kata yang sekali genggam rontok di tanganmu. Kau tak pernah mengatakan aku cantik atau mengatakan gelungan rambutku indah. Bahkan, sekadar memuji pakaian yang kukenakan pun kau seperti tak mampu. Aku tak gila puji, tapi ingin sekali saja kau menghargai penampilanku yang selalu kusiapkan sesempurna mungkin untuk bertemu denganmu. 

Kakang, selama ini aku lebih banyak diam, menyimpan isi hati rapat-rapat agar kau bahagia saat kita bersama. Aku lebih banyak menuruti caramu dalam berhubungan. Pagi hari kita bersama di sungai. Kau berlatih silat di atas batu-batu kali, sementara aku mencuci pakaian. Senja hari kita berkejaran naik kuda mengelilingi Desa Manguntur dan Kurawan. Hampir setiap hari kita melakukannya dalam sepekan.

Kau tahu, Kakang, kebersamaan kita itu lebih banyak merentangkan batas. Ketika kau berlatih di atas batu kali, pikiranmu pasti mengarah ke gerakan-gerakan jurus silat. Sementara, aku harus benar-benar memperhatikan apakah cucianku sudah bersih atau belum. Aku harus selalu bersikap hati-hati kalau-kalau ada baju yang hanyut di sungai meskipun aku yakin, tanpa kuminta, kau pasti akan mengejarnya jika ada yang hanyut.

Di saat-saat pagi hari seperti itu kita memang sesekali saling berpandangan, tersenyum beberapa jenak, lalu kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Padahal, kau bisa saja mendekat, memelukku dari belakang, lalu kita cuci bersama baju-baju itu, sebelum akhirnya kita turut mencuci diri di sungai. Bersama, bersama-sama, di dalam air. 

Banyak senja kita habiskan dengan berkuda melewati pematang dan candi-candi. Kadang aku di depan, seringkali aku di belakang. Kita berkejaran. Aku tertawa renyah meskipun dalam hati ingin sekuda denganmu: aku di depan, kau di belakang memelukku. Tapi, itu tak pernah terjadi. Dan, kebersamaan kita di kala senja seperti itu selalu diriuhkan derap kaki kuda dan ringkiknya yang lebih keras daripada suara tawa hingga kadang aku pura-pura tertawa padahal hanya membuka mulut, seperti orang tertawa, tapi tak mengeluarkan suara. 

Kakang, sebab segalamu tentang kekerasan, aku mulai mencari seseorang yang dapat memelukku sembari memujiku dengan penuh kelembutan. Kau pun akhirnya tahu siapakah seseorang itu. Ia kangmasmu sendiri, Arya Dwipangga. 

Entah siapa yang memulai asmara di antara kami, tapi saat itu aku menyalahkanmu. Kau menjadi pemantik asmara kami. Ketika kau tak memedulikan rajukanku untuk dipeluk, aku tersulut dan mulai terbakar sajak-sajak Dwipangga. Aku larut, hilang dalam puja-pujinya. Kata-katanya seperti ditulis di dadaku, begitu garit, demikian lekat. 



MOIIA Silky Pudding


Barangkali ada yang pernah liat...

Terus lupa siapa yg jual ๐Ÿ˜ 

๐Ÿ’ฅYes..I'm here ๐Ÿ˜ƒ 
⇩⇩⇩
Silakan Klik:


hujan turun dengan sedihnya
bulan tenggelam di atas telaga
kulewati malam yang dingin ini
sambil kubelai namamu bagaikan kembang

oh Nariratih, oh Ratnandana, sinar teja di pelupuk mata
Nariratih, di mana kau sembunyikan harum wajahmu
di mana kau simpan desah napasmu
solah bawahmu halus bagaikan rajakanya
pribadimu elok bagaikan puspitansa *)

Sampai akhirnya kami pun larut dalam olah asmara di sebuah senja, di tempat biasa kita berdua. 

Aku menyesali perbuatan kami itu sebelum kau datang dan menghajar Dwipangga di hadapanku. Kau tahu, saat itu aku lebih memilih memanggilmu yang berlari dengan kuda daripada memperhatikan Dwipangga yang ada di sisiku, yang memar oleh pukulanmu. Tapi, kau tak mau mendengar dan mengerti panggilanku. Kau terus saja memacu kudamu ke arah senja seperti mengejar matahari.

Setelah pertengkaran sore itu, kita baru bertemu di pesta pernikahan. Aku dan Dwipangga duduk di pelaminan, sementara kau terus menatap ke arahku dengan dada membusung. Kau terlihat mengembus napas panjang yang entah cemburu pada kangmasmu atau marah kepadaku. Ah, embus napasmu sungguh kuat hingga sesekali aku melihatnya mampu merundukkan pijar-pijar api di atas bambu yang dipacak sekitar pelaminan dan pelataran yang ramai oleh nayaga, para sinden dan ledek, serta tamu-tamu. 

Kau pasti ingat, malam itu, ketika alunan gamelan yang berbunyi sejak senja tiba-tiba berhenti, sepasukan prajurit Singosari datang. Sungguh, saat itu aku sangat berharap Dwipangga terlibat suatu kejahatan dan malam itu juga akan dibawa ke kotapraja dihukum. Apa pun yang terjadi, malam itu aku sangat berharap ada sesuatu yang membatalkan pernikahan kami. 

Nyatanya, pasukan itu justru mengawal utusan Singosari bernama Kebo Tengah untuk memberi hadiah pernikahan. Sekotak peti berukir yang tak aku tahu isinya apa. 

Seolah mewakili ketaksukaanku, kau memukul peti itu ketika Kebo Tengah sedang memberikannya kepada ayahmu, Hanggareksa. Seluruh isinya jatuh dan berserakan tanpa kau pedulikan. Justru Dwipangga yang kelabakan mengumpulkan seluruh isi peti berupa uang kerajaan yang ada di tanah tinimbang mengejarmu sebagai seorang kakak yang ketakutan akan kehilangan adik. 

Namun, sekali lagi, aku meragu, aku tak tahu, apakah kau marah kepada utusan Kertanegara yang congkak itu, atau kepada kami hingga kau merusak hadiah pernikahan itu? 

Kau kembali pergi, aku kembali berteriak memanggil namamu.

Suara ramai pesta kembali tersaji. Alunan gamelan dan suara-suara orang menari bersama ledek sorak kembali. Percakapan tamu-tamu yang dimabuk tuak makin marak. Tapi, seriuh apa pun suasana saat itu, tak mampu meredam suara hatiku yang terus berteriak memanggili namamu. 

Sejak malam pernikahanku dengan kangmasmu itu, aku kembali jatuh cinta padamu, Kakang.

Dan, malam ini, ketika lagi-lagi aku tak bisa tidur karena memikirkanmu, aku memberanikan diri menulis surat ini padamu di atas daun lontar dan tinta yang hampir kering karena Dwipangga tak lagi menulis sajak untukku sejak malam pernikahan.

Nariratih sudah rampung membaca ulang suratnya. Ini adalah surat terpanjangnya, kalau bukan yang terakhir, yang setiap malam ia tulis. Ia lalu menggulungnya dengan rapi. Mencabut sehelai rambut panjangnya untuk mengikat gulungan itu, dan perlahan-lahan, seperti yang setiap malam ia lakukan, memasukkanya ke dalam tungku api. 

*) Diambil dari film Tutur Tinular: Pedang Naga Puspa (1989) dengan skenario oleh S Tidjab

Asef Saeful Anwar menulis kajian komunitas sastra berjudul Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (UGM Press, 2015), novel Alkudus (Basabasi, 2017) yang meraih penghargaan Bahasa dan Sastra Tama Prayojana 2018 dari Balai Bahasa Yogyakarta, dan album puisi berjudul Searah Jalan Pulang (Kibul, 2018). Kini bekerja sebagai staf pengajar di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada


Baca Juga: 

SIGAP MAFAZA 
SOLIDARITAS Umat ISLAM Galang Aksi Pembaca Mafaza
Norek: 7112182707  Bank Syariah Mandiri 
Whatsapp: 081229088016


Share this article :

Posting Komentar