Kamis, 07 September 2017

Home » » Peran Mursyid Sufi dalam Menggelorakan Dakwah (2-Selesai)

Peran Mursyid Sufi dalam Menggelorakan Dakwah (2-Selesai)



Ketika virus cinta dunia dan takut mati menghinggapi dada kaum muslimin, pedang di tangan tentara Islam pun menjadi tumpul. Siapa sangka seorang Syekh Mursyid justru menundukkan Raja Tartar dengan kebersihan hatinya
Oleh: Ustadz Luqmanul Hakim
 
  
Mafaza-Online | Walaupun manusia sering lupa, namun sejarah tak boleh melupakan pengaruh seorang Alim Robbani Syekh Jamaluddin Ali. Berkat pengaruhnya, cucu Jengis Khan, Taqlaq Timur Khan masuk Islam bersama semua orang di bawah kekuasaannya.
Kisah masuk Islamnya Taqlaq Timur Khan ditulis oleh Abul Hasan An Nadawi dalam bukunya Rijalul Fikri Wad Da'wah Fil Islam. Inilah petikannya:

Sultan Kasygor yang asalnya bernama Taqlaq Timur Khan masuk Islam pada 1347 -1363 M di tangan Syekh Jamaluddin yang berasal dari Bukhara. Ini cuplikan kisahnya:

Ketika Syekh Jamaluddin dalam perjalanan bersama para pengikutnya, mereka melewati daerah kekuasaan raja Taqlaq yang dipersiapkan untuk tempat berburu. Serta-merta penguasa Mongol memerintahkan menangkap, mereka segera dihadapkan pada Raja.

"Kenapa kalian masuk daerah kekuasaanku tanpa izin?" bentak Raja.
"Kami orang asing, tak sengaja memasuki daerah terlarang," jawab Syekh.

Ketika mengetahui mereka orang lran, Raja berkata dengan nada mengejek, "Anjing saja lebih baik dari orang-orang Iran!"
"Ya," jawab Syekh. "Anda benar, seandainya Allah SWT tidak memulyakan kami dengan agama yang benar, kami pasti lebih hina dari anjing."

Mendengar jawaban itu sang raja merasa tergelitik. Konsentrasi berburunya terganggu, kata-kata Syekh Jamaluddin tersebut tak bisa enyah dari fikirannya. Selesai berburu dia meminta petugas untuk membawa kembali syekh kehadapannya. Setelah para personel yang mengawal syekh meninggalkan ruangan, Raja bertanya, "Terangkanlah apa yang kau katakan kepadaku pada pertemuan pertama? Apa yang kau maksud dengan agama yang benar?”

Merasa ada kesempatan yang baik, Syekh Jamaluddin pun menjelaskan Islam dengan sangat indah, sehingga hati Sang Raja tertarik. Beliau juga menggambarkan kekufuran dengan gambaran yang membuat Raja merasa cemas. Rasa ngerinya melebihi medan pertempuran manapun. Padahal Raja Mongol ini sudah melewati pertempuran paling ganas sekalipun.  Akhirnya Raja pun yakin, dirinya dalam jalan yang sesat dan berbahaya.
Namun penguasa Mongol ini belum berani menyatakan keislamannya, dia belum punya kekuasaan untuk mengajak pengikutnya masuk Islam. Dia meminta agar syekh menemuinya kembali kalau dia sudah diangkat menjadi raja Mongol. Karena saat itu kekuasaannya masih terbatas, daerah penaklukkan. Ia melihat bahwa cara seperti itu lebih menguntungkan.

Ketika pulang ke Bukhara, Syekh Jamaluddin sakit keras hingga meninggal dunia. Menjelang wafatnya beliau berpesan kepada putranya Rosyiduddin, "Suatu saat Raja Taqlaq Timur Khan akan menjadi seorang Raja Besar. Jika kamu mendengar berita itu, menghadaplah kepadanya. Sampaikan salam dariku dan ingatkanlah dia dengan janjinya untuk masuk Islam setelah menjadi Raja".

Ketika Taqlaq Timur Khan naik tahta, Syekh Rosyidudin datang ke barak sang raja untuk melaksanakan wasiat ayahnya. Namun para pengawal melarangnya masuk istana, maka dicarilah jalan untuk menemui sang raja. Di suatu pagi beliau adzan dengan suara yang sangat keras dekat kemah sang raja. Raja terbangun dari tidurnya, seraya marah karena merasa terganggu oleh suara lantang yang seolah-olah merobek telinganya. Maka diperintahkannya agar si pengganggu ditangkap dan dihadapkan. Ketika Syekh Rosyiduddin sampai di hadapan raja Taqlaq, beliau langsung menyampaikan salam Syekh Jamaluddin untuk raja. Mendengar nama Jamaluddin, Taqlaq Timur Khan tidak jadi marah.

Taqlaq Timur Khan teringat janjinya dan rajapun berikrar masuk Islam. Tersebarlah Islam di kalangan pengikutnya, bahkan menjadi agama resmi di negeri-negeri yang ada di bawah kekuasaan putra-putra Jagtay bin Jengis Khan yang selama ini menganut agama Budha".

Peristiwa ini terjadi setelah penyerangan bangsa Tartar terhadap dunia Islam pada abad ke-7 Hijriah. Mereka telah membumi hanguskan dunia Islam, tak ada yang mereka sisakan selain jiwa-jiwa yang lemah. Pada masa seperti itu pedang perjuangan tumpul, bahkan patah, tidak lagi punya kekuatan. Pedang-pedang yang dulu terhunus kini terpaksa disarungkan kembali karena dirasa tak lagi berguna. Semua orang menyangka, kekuatan banqsa Tartar tak mungkin ditandingi. Negeri-negeri Islam seolah-olah sudah ditaqdirkan untuk tunduk di bawah kekuasaan bangsa yang biadab. Seakan-akan Islam tak punya eksistensi di masa depan. Habis riwayatnya!

Namun Allah SWT berkehendak lain. Dengan caranya yang unik, Dia mempersiapkan para ulama rabbani, para dai yang ikhlas dan jujur. Mereka 'menyelinap' di antara barisan kebengisan dan kebiadaban para tentara Tartar. Mereka membuka hati para penguasa agar bisa melihat cahaya Islam. Para dai ini tak gentar menyampaikan kebenaran, hingga terbukalah hati dan jiwa manusia.

Tidak lama setelah bangsa Tartar menaklukkan negeri-negeri Islam, mereka merasa tertarik kepada Islam itu sendiri kemudian memeluknya. Mereka berbalik menjadi pembela-pembela Islam dan pembawa panji-panjinya. Ajaib, diantara mereka ada pula yang menjadi fuqaha; para da'i, dan mujahidin.

Hal itu terjadi berkat keutamaan dan jasa para mursyid robbani dan da'i-da'i yang ikhlas. Mereka telah berhasil meyelamatkan umat manusia dari berhala dan kebiadaban. Mereka berhasil mengajarkan bagaimana seharusnya menghargai nilai mulia manusia dan melepaskan diri dari cengkraman kekufuran? Mursyid Tarekat ini mengajarkan hidup dalam taman indah: ibadah dan keimanan.

Itu semua tidak lain karena keutamaan pancaran ruhani, berkat dakwah robbaniyah, serta perjuangan mereka yang gigih dalam menyampaikan Al-Haq dan perbaikan umat. Semoga Allah membalas budi baik mereka terhadap Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya. Semoga Allah mengangkat mereka ke derajat yang tinggi di akhirat kelak.

Itulah salah satu kisah diantara sekian banyak kisah tentang mereka yang punya pengaruh dalam sejarah manusia dan menjadi suri teladan bagi generasi-generasi berikutnya.

Seandainya kita mau mengumpulkan kisah-kisah mereka yang berpengaruh dan mampu memperbaiki kondisi umat, niscaya akan kita dapatkan jumlah yang tidak terbilang. Seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Hasan Al Basri, Imam Al Fudhail bin lyadl, Imam Ma'ruf Al Karkhi, Imam Al Bagdadi, Imam Hujjatul lslam Al Ghozali, Imam Jalaludin Rumi, Imam Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Abu Yazid Al Busthami, Imam Sahl At Tustari, Imam Sa'id An Nursi, Imam Hasan Al Banna dan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus yang lain-nya....

Dalam Ruhaniyyah ad Da’iyyah’, Dr. Abdullah Nashih Ulwan menulis, para imam rabbani ini yang memikul kepemimpinan dakwah. Mereka menegakkan misi ishlah (perbaikan) dan mengemban tanggung Jawab hidayah. Mereka itulah yang mampu menyatukan ibadah dan jihad. Mereka menempatkan hak-hak Allah SWT dan hak-hak hamba- Nya sesuai dengan takarannya.

Mereka mengumandangkan suara kebenaran di telinga para penguasa yang zalim. Tampil menghadang penjajah yang rakus dengan penuh keberanian. Dengan dakwahnya, mereka berhasil memperbarui nilai-nilai Islam. Mereka memasukkan umat manusia ke dalam pangkuan Islam dengan penuh kesadaran dan pemahaman. Padahal sebelumnya Islam hanyalah dianggap warisan dan kebiasaan belaka.

Mursyid ini berhasil membuat para pengikut dan murid-muridnya merasakan manisnya Islam dan nikmatnya iman. Tadinya mereka hanyalah tubuh-tubuh kekar yang kosong, tanpa ruh dan perasaan. Para Mursyid ini telah membebaskan sekelompok manusia dari cengkraman hawa nafsu, perbudakan, syahwat dan kepongahan dunia menuju cahaya kebenaran, petunjuk Islam, dan kenikmatan taat serta munajat.

Sebelumnya:


Artikel lainnya:

Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar