Kamis, 10 Agustus 2017

Home » » Munas IV Jsit Indonesia dan Tenun Songket Patuh

Munas IV Jsit Indonesia dan Tenun Songket Patuh

   
Tenun (ilustrasi) | Liputan6
Mafaza
Online |
Sesampai di Lombok, di pagi hari yang dingin, sejuk, kami sarapan di rumah makan cahaya. Seperti biasa untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Apalagi perjalanan menyiapkan Musyawarah Nasional (Munas) IV JSIT terbilang tidak mudah. Sesudahnya 4 mobil berangkat menuju pusat tenun khas Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Desa Sukarare terkenal akan kain tenun asli lombok yang sangat bagus. Pembuatannya saja untuk 1 kain bisa menghabiskan waktu sekitar 1 bulan bahkan lebih. Dikerjakan oleh para ahli yang sudah cukup berumur. Yang saya lihat mereka adalah para wanita. Ibu-ibu. Saya kagum pada mereka. Di desa ini bisa ditemukan tenun ikat dan sulam hand made masyarakat. Salah satu yang cukup terkenal adalah “PATUH artshop” Kecamatan Jonggat Lombok Tengah. Ada banyak  asesori berbagai motif Lombok yang dijual. Mulai dari sarung, mukena, peci, jilbab, bahan dasar, pernak pernik khas lombok, baju jadi atau sekedar berfoto di depan rumah adat “lumbung” Lombok di halaman. Parkirannya cukup luas. Bisa untuk bus pariwisata. Pada bagian ruang depan, kita bisa saksikan langsung proses pembuatan tenun secara tradisional. Hasil tenunnya dipajang di belakang mereka. Harga bisa ditawar. Mulai 200ribu bahkan bisa sampai jutaan. Tergantung kualitasnya.

Saya berbincang sebentar dengan ibu penenun. Sudah berumur. Tua. Raut wajahnya tenang. Tangannya cekatan. Matanya masih awas. “Bu, sudah lama menenun?”  “Sudah.”  “Ibu menikmati kerjaan menenun ya?, Iya pak. “Berapa lama menghasilkan kain tenun? “Sebulan”. “Sehari kira-kira 15 cm”. Keterampilan menenun ini, kata pemilik Patuh, adalah harus dimiliki para wanita apalagi sebelum menikah sudah harus bisa menenun. Anak gadis sejak umur 11 tahun sudah bisa menenun.

Menenun. Apa itu menenun? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menenun berasal dari kata dasar tenun yakni hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan secara melintang pada lungsin. Menenun bermakna membuat barang-barang tenun.

Hasil tenunannya juga terkenal bagus-bagus. Saya belajar dari kunjungan tidak lama ke pusat tenun Patuh. Saya terpikir tentang Munas IV JSIT Indonesia ini.

Pertama, Munas IV JSIT ini adalah kenyataan dari mimpi dari Munas III lalu

Munas III yang berlangsung pada 28 Februari sampai 3 Maret 2013 di Kompleks Jakabaring Palembang Sumatera Selatan  berhasil merumuskan arah kebijakan munas untuk kepengurusan mendatang. Apa yang mesti dikerjakan oleh kepengurusan mendatang adalah mewujudkan apa yang menjadi arah kebijakan. Misalnya, dalam Munas III lalu disebutkan arah kebijakan adalah mewujudkan sekretariat permanen. Ternyata itu menjadi mimpi karena pada kenyataannya kepengurusan mampu mewujudkan sekretariat permanen. Sama seperti membuat kain songket dengan motif yang diinginkan. Maka diperlukan rancangan terlebih dahulu baru kemudian ditenun perlahan-lahan sampai jadi. Bayangkan 15 cm per hari hingga selesai 1 bulan 1 kain songket cantik.

Kedua, tidak ada yang instan dalam kehidupan

Betul. Tidak ada cerita sim salabim dalam membuat kain tenun. Tanyakan pada mereka. Pasti jawabannya adalah berproses. Raut wajah mereka, kekuatan duduk mereka, kejelian mata mereka tidak dapat dibohongi. Kesuksesan tidak ada yang instan. Perkembangan dan pertumbuhan JSIT Indonesia pun demikian. Tidak ada yang instan.  Kita akan mendengar. Kita akan mengikuti capaian-capaian JSIT Indonesia dalam Munas IV yang akan digelar 27-30 Juli 2017 mendatang. Menara Eifel tidak dibangun semalam. Monaspun tidak selesai semalam. Bahkan pertempuran menaklukan Konstantinnopel dibawah Sultan Al Fatih memerlukan 56 hari bertempur hebat.  Mimpi disiang bolong untuk memajukan sekolah Islam Terpadu secara instan. Kerja keras. Kerja cerdas. Kerja mawas. Kerja ikhlas. Kerja tuntas menjadi kunci kesuksesan. Dan tentu saja Kerja sama.

Ketiga, buatlah dream untuk perjalanan berikutnya

Motif tenun tidak akan ada matinya. Kreativitas menjadi sumbernya. Selalu ada corak dan motif baru. Selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jangan puas dengan yang ada. Jangan tertipu dengan capaian yang dibuat. Sementara kompetitor diabaikan. Belajar dari provider telepon genggam sekelas nokia dan blackberry. Dulu rajanya. Tapi mereka tidak antisipatif dengan kebutuhan masyarakat, dengan kecepatan teknologi yang menjadi tuntutan. Mereka kini jatuh. Kalah maju dengan pesaingnya seperti Samsung.

Begitu juga dengan Munas IV ini. Diharapkan para peserta mampu memberikan dream, gagasan, ide, dan pemikiran cemerlang untuk kemajuan JSIT mendatang. Narasi besar dimulai dengan ide besar. Visi menjadi pusat penggerak dan pemberdaya sekolah Islam menjadi efektif dan bermutu bisa menjadi kata kuncinya. Bagaimana menjadi penggerak yang lebih cepat. Lebih handal. Bagaimana menjadi pusat pemberdayaan yang berkeunggulan nasional dan berdaya saing global. Di tangan para pesertalah semua itu bisa terjawab.

Ini hanyalah lintasan pikiran setelah melihat hebatnya tenun songket di PATUH. Selamat ber-Musyawarah Nasional IV JSIT Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Suhartono, M.Pd, Ketua Departemen Pembinaan Siswa, Lombok 25 Juli 2017

Share this article :

Posting Komentar