Senin, 21 Agustus 2017

Home » » Memberikan ASI Eksklusif itu Kewajiban Muslimah

Memberikan ASI Eksklusif itu Kewajiban Muslimah

ASI makanan sempurna bagi bayi baru lahir, payudara didisain berfungsi untuk menghasilkan ASI

Oleh dr. Yayang Aditia Dewi

  
Memberikan ASI Eksklusif itu Kewajiban Muslimah | ilustrasi net
Mafaza
-Online |
“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna…” demikian kutipan terjemah ayat Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 233.

Betapa jelas dan gamblang tuntunan Al-Quran tentang cara merawat anak. Al Quran telah menunjukkan sejak dulu, keajaiban Air Susu Ibu (ASI). Kini bukti ilmiah bermunculan tentang keajaiban ASI. Maka program memberi ASI eksklusif pun digalakkan kembali.

Sebagai muslimah, sudahkah memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI eksklusif sebagaimana tuntunan Al-Qur’an?

ASI makanan sempurna bagi bayi baru lahir, selain itu, payudara wanita memang berfungsi untuk menghasilkan ASI, (Chumbley, 2004). Sedangkan ASI eksklusif menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 pada Ayat 1 diterangkan “Air Susu Ibu Eksklusif yang selanjutnya disebut ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain”.

ASI makanan terbaik untuk setiap bayi baru lahir. Sungguh Allah SWT begitu sempurna menciptakan manusia. Ketika janin mulai dibentuk, makanannya pun disiapkan. Segala perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita ketika hamil, semuanya satu paket sempurna.

Tubuh telah menyiapkan perkembangan janin sampai dilahirkan. Ketika janin berkembang dalam rahim, otomatis payudara juga menyiapkan perlengkapan. Payudara telah menyiapkan amunisi untuk memenuhi tugasnya untuk menyuplai makanan.

Inilah yang sering luput dari pemikiran para calon ibu; semua sudah dirancang sedemikian rupa dengan sempurna oleh Allah Sang Pencipta. Namun, seringkali kita dengar alasan, “ASI tidak keluar.” Kata-kata itu muncul sebagai alasan ketika seorang ibu ditanya, “kenapa tidak menyusui?”

Sungguh suatu pemikiran yang salah. Anggapan itu akan memulai lingkaran setan, sehingga ASI benar-benar tidak keluar. Pemikiran ini harus diluruskan agar bisa memberi ASI eksklusif. Sayangnya di kalangan tenaga kesehatan pun masih banyak yang belum memahami cara kerja produksi ASI.

Seperti Penulis sampaikan, sejak janin berkembang, payudara disiapkan untuk menghasilkan ASI. Begitu bayi lahir, oleh pengaruh hormon-hormon dan isapan bayi, maka ASI akan dikeluarkan. Prinsip produksi ASI adalah “supply by demand” (produksi sesuai kebutuhan). Untuk memulai pengeluaran ASI diperlukan isapan bayi untuk merangsang hormon yang dapat membuat ASI keluar.

ASI sudah tersimpan di payudara, tinggal menunggu dikeluarkan oleh isapan bayi. Pada proses awal ini para ibu justru sering membuat blunder. Hal ini terjadi terutama pada ibuyang baru pertama kali melahirkan. Kelelahan setelah melahirkan, mendengar bayi menangis membuat stress tersendiri untuk ibu baru. Efek sering menunda menyusui, bayi tidak bisa segera menghisap puting untuk memulai proses pengeluaran ASI.


Memberikan ASI Eksklusif itu Kewajiban Muslimah | ilustrasi net
Padahal hisapan pertama dan sesegera setelah proses melahirkan, mempengaruhi keberhasilan menyusui jangka panjang. Inilah yang disebut, Inisiasi Menyusui Dini.


Begitulah prinsip supply by demand: ketika bayi tidak menghisap, maka sinyal ke otak memberi tahu bahwa bayi tidak butuh ASI. Maka ASI ditahan produksinya.

Ketika bayi menghisap pada awalnya ASI yang keluar baru sedikit. Ini disalahartikan ASI tidak keluar, Padahal jumlah sedikit itu sesuai kebutuhan bayi. Sesuai pada awal kehidupannya. Banyak yang belum mengetahui, ketika dilahirkan, bayi masih memiliki cadangan makanan yang dibawa dari rahim.

Cadangan ini membuat bayi mampu bertahan selama hampir 72 jam. Jadi, ASI yang dipandang sedikit di awal kelahiran sebenarnya cukup untuk bayi. Pun lambung bayi masih seukuran kelereng yang bisa menampung ASI hanya sedikit sekali.

ASI yang keluar “sedikit” itu membuat si ibu merasa tidak mampu menyusui. Muncul pilihan susu formula. Munculnya susu formula membuat bayi tidak diajari lagi menghisap payudara. Karena bayi tidak menghisap putting, sinyal yang sampai ke otak pun memberitahu untuk mengurangi produksi ASI. karena dianggap bayi tidak perlu ASI.

Inilah yang membuat lingkaran setan sehingga ASI benar-benar berkurang produksinya. ASI pada awal kelahiran sedikit dianggap sebagai tidak keluar ASI-nya sehingga bayi diberi susu formula. Ketika bayi tidak menghisap payudara maka otak merespon dengan mengurangi produksi dan terus semakin berkurang.

Belum lagi bicara faktor stress yang diatas Penulis singgung. Agar produksi ASI bagus dan bisa keluar dengan lancar diperlukan suatu hormon tertentu. Hormon ini akan terhambat bila dalam kondisi stress. Karena itu menyusui harus dalam kondisi rileks. Kalau pikiran tenang, produksi dan pengeluaran ASI akan lancar.

Kurangnya pengetahuan, kurang pemahaman tentang proses menyusui pasti akan mempengaruhi psikis ibu. Bayi menangis sering diartikan sebagai “kelaparan”. Bayi rewel, ini membuat ibu makin stress. Padahal bayi menangis tidak melulu lapar. Bukankah komunikasi yang bisa dilakukan hanya menangis?

Jadi sebaiknya jangan terburu-buru menyimpulkan bayi menangis karena lapar. Kepanasan, kedinginan, ingin di timang itu beberapa sebab yang juga membuat bayi menangis.

Dengan mengetahui proses menyusui, diharapkan ibu lebih rileks. Ibu jadi lebih percaya diri untuk bisa memberikan ASI pada anak. Bayi sering menghisap payudara maka produksi ASI pasti akan semakin banyak karena sinyal otak menangkap, “bayi perlu makan” sehingga ASI semakin ditingkatkan produksinya.

Ya, menyusui —terutama di awal kelahiran— perlu kepercayaan diri yang tinggi. Dengan memiliki pengetahuan, akan memiliki kesiapan mental dan kepercayaan diri untuk memberi ASI pada anaknya. Plus dukungan lingkungan sekitar (seperti suami dan orang tua/mertua) diharapkan lingkungan bisa memberi dukungan. Bisa memberi suasana menyenangkan untuk bisa ibu menyusui anaknya.

Alangkah indahnya bila semua ibu bisa memberi ASI pada anaknya. Dengan menyusui kita tidak hanya memberikan hak anak kita, tapi sekaligus melaksanakan kewajiban kita sebagai muslimah untuk mentaati petunjuk Tuhan, sebagaimana tercantum dalam
Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 233.

Berita Populer:  

 

Share this article :

Posting Komentar