Kamis, 20 Juli 2017

Home » » Mengkompensasi Pendidikan Anak dengan Uang (2)

Mengkompensasi Pendidikan Anak dengan Uang (2)

  
Guru tengah mengawasi siswa-siswi yang tengah melakukan ujian. Foto/Dok/SINDOphoto
Mafaza
-Online |
Psikolog asal Semarang, Probowatie Tjondronegoro membenarkan bahwa kondisi tersebut banyak dialami oleh anak-anak yang berasal dari keluarga berada. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Menurutnya, ada salah persepsi orang tua bahwa sekolah bertanggung jawab menjadikan anaknya pintar dan berlaku baik karena telah membayar mahal. Padahal untuk membentuk mental anak dibutuhkan peran orang tua dari kecil hingga besar. "Harus terjadi segi tiga komunikasi antara orang tua, sekolah, dan anak itu sendiri," katanya.

Sesibuk apapun orang tua, mereka tidak boleh putus komunikasi dengan anak. Peran ibu dan ayah di rumah tetap harus dilakukan meski waktunya terbatas. Sebab, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan sosok orang tua bagi anak. "Yang penting kualitas, ajak anak-anak ngobrol, anggap mereka sebagai teman," tutur Probowatie.

Sudah saat orang tua menyadari bahwa mereka lah yang membentuk karakter anaknya sendiri. Jangan pernah bosan untuk berkomunikasi dengan mereka, ajari mereka sopan santun dan disiplin sejak dini, dan terus arahkan mereka ke hal-hal yang baik. Sekolah juga harus bersikap tegas terhadap anak-anak yang melanggar aturan sebagai bagian dari bimbingan terhadap anak didik. "Kalau memang harus tidak naik kelas ya, harus dilakukan," katanya.


Abdul Malik Mubarok | SindoNEWS


 
Artikel Sebelumnya:
Mengkompensasi Pendidikan Anak dengan Uang (1) 
 
Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Share this article :

Posting Komentar