Senin, 22 Mei 2017

Home » » Melihat Indonesia dari Sudut yang Berbeda

Melihat Indonesia dari Sudut yang Berbeda

  
Mafaza-Online | Hari ini banyak muslim yang kecewa dengan ketetapan Allah akhir-akhir ini pada bangsa ini. Karena jalan kebaikan bagi indonesia (sesuai rencana sebagian kita) menjadi terhenti, dan tidak bisa dilihat kelanjutannya dengan ketetapan Allah akhir-akhir ini. Ketetapan yang saya maksud adalag hasil Pilkada jakarta kemaren dan eksesnya.

Saya ingin pinjamkan mata saya bagi yang membutuhkannya, melihat indonesia dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin terluput dari banyak orang, karena emang pengalaman hidup dan perjalanan hidup yang berbeda.

Duluuuuu(dulunya lama sekali  :D ). awal kuliah saya adalah simpatisan PKS, sejak saya punya hak pilih dan dikasih kesempatan memilih maka saya memilih PKS(PK) . Walau saya cuman simpatisan, tapi saya termasuk barisan yang paling depan untuk mempromosikan orang terdekat untuk milih pks, keluarga bahkan teman2 kuliah sekalipun.

Sampai akhirnya teladan2 petingginya membuat saya kecewa. Jika pembenci Pks anggap semua blunder pks dengan bersorak-sorai karena akhirnya punya senjata untuk mengolok-olok dan merendahkan/membungkam kader pks dalam perdebatan., maka saya melihat itu adalah pembersih bagi simpatisannya(wallahua'lam dengan kadernya).

Dari sisi saya yang simpatisan, Itu adalah kasih sayang Allah, pedih dan serasa tidak percaya namun dengan meredhai kenyataan pahit tersebut Allah lepaskan saya berharap dari makhluk, dari partai politik. Allah bahkan buat saya tobat nasuha untuk mengandalkan orang-orang politik sebagai penyelamat bangsa ini.  :D .. Allah buat saya merasakan pahitnya maksiat berharap pada makhluk (baik partai ataupun perseorangan).

Saat pembenci pks mentertawakan dan mengejek pks dulu, maka emang begitulah rasa pahit simpatisannya(terutama saya) pertama sadar dari ilusi berharap pada pks.

Setelahnya pengalaman itu saya bisa menyikapi semuanya dengan lebih jernih, melihat semua orang yg bertarung di kancah politik sesuai kenyataannya, mereka manusia biasa, ada salah ada benar, ada kepentingan , ada ambisi. Ngga ada yang wali apalagi malaikat. Jadi ngga ada satupun yang saya harapkan untuk menjadi juru selamat.

Saat sesuai aspirasi saya, biasa saja, saat ngga sesuai juga biasa aja. Saya ngga jadi benci ke politik, tetap aja saya lihat itu adalah ladang saya untuk mendapat redha Allah. Dengan cara husnudhon dihal yg ghaib pada yg terlihat buruk, dan memilih berdasarkan data yang terlihat saja oleh saya. Mana yang terlihat dimata saya yang Allah sukai. Tanggung jawab saya ke Allah, hanya berbuat setakwa mungkin(sesuai syariat Allah) menyikapi hal2 yang terlihat oleh saya. sementara untuk yg masih ghaib dari saya, saya serahin ke Allah.

Sampai akhir 2013 Habib Munzir wafat. Saya dengan kehendak Allah berlabuh di aswaja. Sebenarnya saya udah lama ninggalin belajar agama dan sibukkan diri mempelajari ilmu2 dari sisi pencapaian manusia. Namun saat saya di aswaja, ilmu agama yang rasanya dulu terbatasi hanya mengenai bidah dan sunnah sempit(lahir) menjadi terbuka lebar dan emang sesuai dengan fokus saya saat itu, kepada pembersihan jiwa(tasawuf).

Sejak saat itu, saya ganti kaca mata saya mengenai kebaikan. Kebaikan adalah saat orang bisa lebih baik mengenal dirinya, yang menghasilkan semakin berkasih sayang dan hatinya semakin menerima orang yang berbeda dengannya. Dan puncak kebaikan saat manusia bisa berdamai dengan yang dia dengki. Jadi setiap Ketetapan Allah bagi bangsa ini saya lihat dari timbangan tersebut.


Dan saya melihat/saksikan semua ketetapan Allah adalah emang kebaikan bagi bangsa ini, sesuai dengan kacamata baru tersebut.

dulu awal 2014 saat saya google mengenai habib munzir, maka sangaaat sedikit yang akan kita temukan(kecuali di web MR saat itu yg tampilannya kurang friendly) Malahan top searchnya selain berita kewafatan beliau adalah tulisan2 yang berseberangan dengan beliau, yang jelek2in beliau  :D ... saya mencoba beberapa bulan untuk nyari bahan ajaran beliau untuk dipelajari. tapi tetap saja ngga ada. bahkan saya ingat meragukan adanya habib quraish al baharun, karena nama beliau ngga ada sama sekali di google.

setelah itu ada pilpres, kemenangan jokowi dan kekalahan prabowo. Saya termasuk pemilih prabowo, dan sejarah saya untuk inginkan beliau jadi presiden adalah cukup lama yaitu sejak awal 2000, karena saya dulu di menwa, jadi para tentara yang bina kami bercerita banyak ttg beliau. Jadi bisa dibilang sejak ada pilpres saya nunggu2 ada partai yang nyalonin beliau jadi presiden. Maka saat beliau akhirnya bisa berlaga di pilpres saya ngga terlalu tenggelam dalam semua carut marut pilpres saat itu. Saya ngga terpengaruh dengan yang muji(karena udah tau duluan) apalagi sama yg jelek2in dengan tendensius  :D.

Eh taunya Prabowo kalah, saya nangis loh  :D ... sekarang yang bikin saya patah hati bukan prabowonya, tapi Allah. Pelajaran selanjutnya bagi saya adalah, Walau orang itu baik dimata kita, ngga ada kesalahannya, tetap aja yang nentuin adalah Allah. Kebaikan yang mampu Allah liat untuk setiap ketetapan2Nya adalah lebih jauh dari yang manusia mampu lihat.

Setelah saya berdamai dengan ketetapan Prabowo kalah, maka saya lihat siapa yang dibersihkan, yg ditundukkan dengan ketetapan tersebut. Dan saya lihat PKS lah yang dibersihkan.

Jika dulu tokoh Pks adalah dari orang-orang yg punya PD tinggi(ujub) bahwa mereka orang-orang terbaik pilihan Allah(seperti yg juga dulu saya percayai sebagai simpatisan). Maka satu persatu pks berubah arah, bahkan akhirnya tokoh aswaja mendapat kesempatan mendominasi, seorang habib jadi ketua majelis syuronya.

Kekalahan/keterpurukkan/rasa terancam akan mengeluarkan versi terburuk kita dalam berusaha. Makanya disebut kefakiran mendekatkan pada kekufuran.

Kekalahan prabowo pun memunculkan Tokoh medsos dari simpatisan pks yg banyak pengikutnya tesebut  :D . Dan yang akhirnya membuat pks bercermin sendiri mengenai cara2 dan adab mereka selama ini di dunia nyata dan medsos.

Akhirnya terjadi pembersihan, bahkan seleb medsos itu sendiri mengakui bahwa dia sekarang udah ngga wakilin pks lagi, karena udha banyak dari pks yg menegur dirinya, dia sekarang ngebawa dirinya sendiri, tidak ada lagi yang dia tawadhu padanya.

sementara itu saat saya google kembali di internet subhanallah, dawah habaib tumbuh bak jamur di musim hujan. Postingan yang menjelekkan habib munzir ngga nambah, tapi postingan ilmu2 dari habaib(tidak hanya habib munzir) semakin banyak. Subhanallah. benar kewafatan beliau membuat bangkit ribuan pendawah lanjutin apa yang beliau tinggalkan  :'( .

Pks sebelumnya adalah wahabi versi teringannya. karena emang berpolitik, maka otomatis mereka harus melunakkan diri. apalagi dunia medsos membuat kita semakin bergaul dengan banyak kalangan. membaca dan dibaca orang lain.

selesai PKS maka tahap berikutnya adalah wahabi yang lebih kerasnya. Dan itulah hikmah dari rangakaian sejarah ahok menjadi gubernur kemaren. Ahok menjadi musuh bersama umat islam yg tidak suka adabnya, yg menolak aspirasi umat islam(sebagai yang dia pimpin) dengan arogan.

Lalu demo berjalan berdampingan berjilid-jilid, bahkan bisa istighasah di monas saat peristiwa keramat 212, Dari kacamata saya itu adalah mukjizat luar biasa. bukan dari jumlahnya saja, bahkan yang pro ahokpun saya tau ada yang ikut aksi tersebut, karena emang bentuknya bukan demo, melainkan istighosah bersama. Yang buat saya menyaksikan pekerjaan Allah adalah, saat orang yang selama ini menghinakan istighasah sebagai amalan yg bikin masuk neraka, mau ikut dalam barisan tesebut.

Berjuang berdampingan membuat kita mencintai teman seperjalanan kita, mau memahami dan berempati, melihat dari sisi orang lain. tidak seperti sebelumnya. Habaib yang dulu diperangi dan dikasih cap sesat, syiah, syirik. mulai di ikuti. Peran Habib Rizieq sangat besar disini.

ulama-ulama aswaja mulai muncul mendapat tempat karena aksi tersebut. Tentunya saya berharap saat udah bisa saling menerima perbedaan pemahaman satu sama lainnya, maka kita semua akan mulai fokus untuk melanjutkan perjalanan membersihkan hati dengan lebih dalam lagi. siap memulai perjalanan pada Allah seperti seharusnya.

maka Indonesia hari ini jauh lebih baik dimata saya., konsolidasi semakin dekat daripada masa sebelum2nya, konsolidasi dari hati. dan itu semua adalah pekerjaan Allah. Allah yang menetapkan jokowi menang sehingga kasih kesempatan ahok melakukan peran pentingnya yang udah dipersiapkan oleh Allah sejak jauh-jauh hari.

Dan sekarang pembersihan dimulai pada teman2 yang membenci umat islam yg udah mulai berkonsolidasi saat ini. Saya melihat adab2 buruk dan ngga pakai akal sehat mulai keluar karena kekalahan ahok kemaren.

Saya bisa memahami, karena emang udah pernah merasakannya lebih dahulu. Ini ibaratnya udah diatas puncak, lalu dibanting keras oleh Allah, buyar semuanya, lalu sekarang berusaha dengan segala daya yg tersisa untuk kembali naik ke atas, ke tempat yg telah nyaman selama ini di duduki. Hal yg sebenarnya telah dialami lebih dahulu oleh "lawan2 " anda.

Coba kita semua ganti kacamata, bahwa yang baik adalah hal-hal yg Allah sukai, bukan sekedar hal2 yg kita inginkan(yg menurut kita baik) dan yang Allah sukai adalah kita berdampingan bersaudara dari hati berkasih sayang dan bertoleransi. dan yang Allah benci adalah kita bertahan dalam permusuhan dengan sangat gigihnya.

Jika mau melihat demikian maka kita akan bersyukur memiliki Allah sebagai Tuhan kita, Yang begitu sabar mau membimbing kita semuanya, walau di suuzonin sama yg dibimbing/disayangi sekalipun.

Dan JANGAN UJUB, semua kebaikan yang terjadi adalah ketetapan Allah,bukan hasil usaha kita. Dan semua yang menyakitkan adalah obat ujub bagi kita. Jadi kalau mau hindari pil pait dari Allah, maka lebih baik kita sendiri yang singkirkan penyakit ujub dari dalam diri kita masing2

Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ada seseorang berkata, "Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak", maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka." (HR. Muslim)

Keterangan Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: "Larangan semacam di atas itu (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rusak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram.

wallahua'lam
Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim


Status FB Diah Listyani
Share this article :

Posting Komentar