Rabu, 22 Februari 2017

Home » » Meneladani Sang Pendekar

Meneladani Sang Pendekar

Dari sosok Imam Syafi'i kita memahami bahwa air tenang jangan dianggap tidak berbuaya. Dari sosok Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari kita belajar agar jangan sekali - kali membangunkan macan tidur 

Eko Jun @ Majelis I'tibar

  
Mafaza
-Online |
Secara umum, para ulama sangat membenci berbagai wacana keagamaan yang dikembangkan oleh kaum muktazilah, yang lazim disebut dengan ilmu kalam. Mereka menjauhi penganutnya serta memberikan peringatan kepada umat tentang bahaya dan akibat yang dibawanya. Umumnya mereka juga tidak mempelajari serta tidak membicarakannya didalam majelis - majelis keilmuannya. Namun jangan dianggap mereka tidak memiliki pendekar - pendekar yang mumpuni untuk membungkam wacana kaum muktazilah.

Kita bisa belajar pada dua sosok yang istimewa, dengan pola dan karakternya yang khas. Pertama adalah sosok Imam Syafi'i yang dikenal dengan julukan nashirus sunnah. Beliau memang ahli ilmu yang luar biasa, karena 3 hal sekaligus, yakni menguasai beragam ilmu syari'at, menciptakan disiplin ilmu baru (ushul fiqh) dan mempelajari ilmu lawan (ilmu kalam). Sama sebagaimana ulama dizamannya, beliau juga tidak suka membicarakan ilmu kalam dimajelisnya. Bedanya, jika ulama lain cenderung menghindar saat diajak debat oleh kaum muktazilah, maka beliau mau melayani tantangan mereka. Seperti biasa, mereka pun bertekuk lutut dan jatuh tersungkur didepannya. Sampai - sampai ada diantara mereka yang ingin belajar ilmu kalam kepadanya. He..9x.

Kedua adalah sosok Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari. Jika Imam Syafi'i sejak kecil memang bergelut dengan ilmu hadits dan fikih (istilah kerennya ksatria putih), maka Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari sebelumnya dikenal sebagai pembela paham muktazilah. Sampai akhirnya hidayah Allah datang dan beliau memutuskan untuk berhijrah ke paham ahlus sunnah. Tidak berhenti disitu, beliau mengumumkan secara terbuka dimasjid, mengarang sebuah kitab khusus yang mematahkan dalil muktazilah dan mendatangi berbagai majelisnya kaum muktazilah. Jika Imam Syafi'i bersikap pasif (melayani debat), maka Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari bersikap aktif (mendatangi dan menantang debat).

Sosok Imam Syafi'i mengingatkan kita dengan perilaku Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq ra. Setelah masuk Islam, beliau fokus mendatangi, mendakwahi dan mendampingi orang - orang shaleh. Namun jika situasinya memaksa, beliau akan memberikan pembelaan hebat atas perlakuan jahat dari kaum Quraisy. Sedang sosok Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari mengingatkan kita dengan sikap Sayyidina Umar bin Khathab ra, yang setelah mengikrarkan diri masuk Islam, beliau malah mendatangi tokoh dan majelis kaum Quraisy untuk menjelaskan siapa dirinya dan memberi peringatan agar tidak macam - macam kepada kaum muslimin.

Dari sosok Imam Syafi'i kita memahami bahwa air tenang jangan dianggap tidak berbuaya. Dari sosok Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari kita belajar agar jangan sekali - kali membangunkan macan tidur. Sangat penting bagi para aktivis dakwah untuk menghidupkan karakter Imam Syafi'i dan Imam Abu Al Hasan Al Asy'ari dalam dirinya. Terlebih dimasa sekarang, dimana ruang publik seolah dikuasai oleh wacana kaum ruwaibidhah. Wallahu a'lam.


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Sebelumnya:
Share this article :

Posting Komentar