Selasa, 07 Februari 2017

Home » » Indonesia, Kebahagian dan Integritas

Indonesia, Kebahagian dan Integritas

Mereka yang memiliki integritas merekalah yang maju
Oleh: Muhammad Fauzi*

  
Mafaza-Online | "Tidak seperti di sini, di mana-mana saya mendapati wajah penuh kegembiraan." Itulah suasana berbeda yang dijumpai Pak Dahlan Rais ketika bertemu dengan masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Sebagaimana saat meresmikan Masjid Al Ikhsan di Komplek Islamic Center Bantir di Kemawi, Sumowono, Kab. Semarang, pada Ahad (15/1) lalu, kegembiraan tampak dalam menyambut kehadiran beliau. Betapa tidak, kedatangan beliau seperti tiba-tiba, hampir tidak ada yang mengetahui kalau beliau akan hadir.

Kepada yang hadir, beliau menceritakan pengalaman ketika berkunjung ke beberapa negara Asia yang dianggap maju beberapa waktu lalu, yaitu  Korea Selatan, Jepang, Taiwan dan Singapura. Di sana, beliau menemukan sebuah sisi positif yang memang belum dimiliki Bangsa Indonesia, yaitu kejujuran. "Mereka itu benar-benar memiliki integritas, makanya mereka maju," kesan itu begitu membekas pada beliau.

"Di sana, kalau tas kita ketinggalan di bus atau kereta, kita tidak perlu khawatir. Karena ketika kereta itu kembali tas itu akan masih utuh di tempatnya." Mendengarkan penuturan beliau, saya teringat dengan saudara yang menjadi TKI di sana. Ternyata memang benar demikian, mereka lebih memiliki integritas dari kita. Sebagaimana dulu saya mendengar cerita dari saudara tersebut, di sana, kalau dompet kita jatuh, bisa dipastikan dompet itu akan kembali kepada pemilik identitas yang ada di dalamnya. Di sana, tidak perlu ada kondektur yang menarik ongkos kepada penumpang, karena dengan kesadaran sendiri, para penumpang akan membayar sesuai tarifnya. Mereka berpikir, jika mereka tidak memiliki kesadaran membayar ongkos kendaraan, kemudian kendaraan itu bangkrut, mereka sendiri yang nantinya akan kesulitan mendapatkan transportasi.

"Di sana, mobil atau taksi, ketika parkir, tidak perlu dikunci, cukup ditutup pintunya," Pak Dahlan melanjutkan ceritanya. "Pernah ada mahasiswa asal Indonesia yang melapor kehilangan HP. Hal itu ditanggapi dengan sangat serius, bahkan menjadi berita besar. Satpam berupaya keras mencari pencurinya, dan ternyata pelakunya adalah sesama mahasiswa asal Indonesia."


“Tidak seperti di sini, di mana-mana saya mendapati wajah penuh kegembiraan"

Sebagai orang Indonesia, saya sempat iri mendengarkan penuturan beliau. Tetapi, di sana ada sesuatu yang hilang, yang tidak mereka miliki. "Di mana-mana saya hanya menjumpai wajah-wajah serius, saya tidak mendapati wajah-wajah kegembiraan. Tidak seperti di sini, di mana-mana saya mendapati wajah penuh kegembiraan." Mereka tertekan pada kerja-kerja yang berorientasi duniawi semata. "Tak heran, angka bunuh diri di sana sangat tinggi," tuturnya.

"Ketika mahasiswi di suatu kelas ditanya, apa di antara mereka memiliki keinginan untuk menikah, maka yang mengacungkan tangan hanya separuhnya. Dan ketika mereka ditanya, di antara yang mengacungkan tangan itu yang ingin memiliki anak, maka hanya tinggal separuhnya lagi. Di antara empat perempuan, hanya satu yang memiliki keinginan untuk memiliki anak," itulah yang beliau dapati, bahwa mereka adalah seperti masyarakat yang tidak memiliki lagi tujuan dan hakekat hidup. "Mereka tidak ingin menikmati betapa bahagianya memiliki anak, betapa lucunya momong seorang cucu."

Beliau menutup kisahnya dengan suatu harapan, bahwa Bangsa Indonesia kelak juga mampu membangun sisi-sisi positif sebagaimana yang telah mereka capai, tentang integritas dan etos kerja, bahkan yang lebih utuh, dengan pondasi tauhid.

*Anggota Relawan Literasi

Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda
Sebelumnya:
 
Share this article :

Posting Komentar