Minggu, 08 Januari 2017

Home » » Strategi Dakwah Kultural dan Dakwah Strukturalnya

Strategi Dakwah Kultural dan Dakwah Strukturalnya

Dalam praktiknya, kedua strategi dakwah tersebut bersifat komplementer dan sama-sama dilakukan oleh satu organisasi dakwah
Oleh: Eko Novianto


   
Mafaza-Online | Strategi Dakwah di Indonesia, mungkin strategi dakwah di mana-mana, mengenal 2 (dua) strategi, yaitu; Strategi Dakwah Struktural dan Strategi Dakwah Kultural. Tak perlu membayangkan bahwa satu strategi dakwah dengan strategi dakwah lainnya bersifat mutually exclusive. Yang terjadi dalam praktiknya, kedua strategi dakwah tersebut bersifat komplementer dan sama-sama dilakukan oleh satu organisasi dakwah.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendudukkan dua strategi dakwah itu dalam kedudukan yang adil, tidak mengunggulkan salah satunya, tidak meremehkan strategi yang satu, tidak menyesali strategi yang satunya, tidak genit dengan strategi yang satunya, dan supaya –tujuan sederhananya- agar kita tidak terjebak dalam semantic confusion.

Dakwah Struktural.

Biasa pula disebut dengan strategi dakwah politik. Karena sarana politik menjadi sarana yang diandalkan dalam menjalankan strategi dakwah struktural. Partai, LSM, legislatif, eksekutif, demonstrasi, aksi, mimbar bebas, apel akbar, tabligh akbar, dan aksi pemogokan adalah sarana-sarana yang biasa digunakan dalam menjalankan strategi dakwah ini.

Strategi Dakwah Struktural ditujukan untuk melakukan perubahan struktur. Jadi, strategi dakwah ini menginginkan adanya perubahan dari luar. Dengan duduk di dalam lembaga legislatif, Organisasi Dakwah bermaksud mempengaruhi legislasi dan pelaksanaannya. Strategi Dakwah Struktural juga termasuk dengan melakukan strategi ekstra parlementer ketika –seringnya- komunikasi politik yang diharapkan macet atau tersumbat. 

Kata kunci dari strategi dakwah struktural adalah empowerment. Pemberdayaan. Dengan strategi dakwah struktural ini, organisasi dakwah menjelaskan hak-hak warga dan mengharapkan ada aksi atas ketidakadilan, kesewenangan, penistaan, atau penindasan yang sedang terjadi. Unsur pemberdayaan dalam strategi dakwah struktural ini, biasanya, tidak disukai oleh para penguasa politik, penguasa ekonomi, atau para penguasa keamanan atau ketertiban. Sebenarnya, strategi dakwah struktural tidak selalu membawa pesan revolusi. Di antara varian dari strategi dakwah struktural adalah strategi reformasi, evolusi, dan cara-cara gradual. Strategi dakwah struktural juga tak otomatis bermakna anarki dan kekacauan. Karena kata kunci dari strategi dakwah struktural ini adalah empowerment, bukan revolusi atau anarki. 

Empowerment itu bersifat kolektif. Artinya, harus dilakukan bersama-sama. Strategi dakwah struktural memiliki jarak yang agak jauh dari makna individual. Strategi dakwah struktural lebih bersifat kolektif dari pada personal. 

Dalam strategi dakwah struktural, faktor persisten menjadi nilai kunci. Perdefinisi persisten adalah gigih, kanjang, tekun, gentur, sepenuh hati, keras hati, kukuh, berkesinambungan, konstan, sambung-menyambung, dan terus-menerus. Strategi dakwah struktural memerlukan kerja dan pekerja yang sanggup untuk menjalankan strategi tersebut dengan tekun, gigih, dan sifat-sifat semacam yang tersebut di atas.

Strategi dakwah struktural hanya cocok untuk kasus-kasus aktual yang membutuhkan aksi jangka pendek, kasus yang mendesak, dan harus dilakukan secara kolektif. Strategi ini menemukan posisi strategisnya dalam kasus-kasus yang membutuhkan respon di permukaan. Strategi dakwah struktural ini dimunculkan oleh organisasi dakwah bukan semata-mata karena strategi ini ada, tetapi strategi ini dimunculkan lebih karena ada kasus yang sungguh-sungguh membutuhkan strategi ini.

Strategi dakwah struktural bukan merupakan strategi dakwah yang statis. Strategi dakwah struktural mengalami penyesuaian. Mengalami pencanggihan, dalam istilah Kuntowijoyo. Menurut Kuntowijoyo, jika dahulu, DI/TII hanya mengenal satu jenis saja, yaitu pemberontakan bersenjata, sekarang strategi dakwah struktural ini bermacam-macam; ada yang terang-terangan, ada yang tidak terang-terangan, dan ada yang remang-remang.

Maka, strategi dakwah struktural adalah sesuatu yang terkait dengan pertimbangan khusus untuk menggunakannya untuk kasus tertentu, bersifat kolektif, pemberdayaan, mengubah struktur dari luar, dan sangat memerlukan persistensi.

Dakwah Kultural

Perbedaan penting antara kedua strategi dakwah tersebut adalah bahwa strategi dakwah kultural berusaha memberikan pengaruh pada perubahan perilaku sosial. Yang disentuh oleh organisasi dakwah dengan strategi dakwah kultural adalah perubahan pola pikir masyarakat dakwahnya. Maka, cara utama dari strategi dakwah kultural adalah penyadaran melalui seminar, diskusi, simposium, penerbitan atau media, lobi, dan semacamnya. Termasuk pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan semacamnya.

Hal penting dari strategi dakwah kultural adalah tujuan perubahan dari dalam dan tanpa paksaan. Semua perubahan berasal dari dalam dan dakwah bertugas memberikan inspirasi. Dakwah dengan strategi dakwah kultural meletakkan agama sebagai sumber moral, etika, dan intelektual. Dalam strategi dakwah kultural agama adalah sumber inspirasi dalam arti ajaran agama menjadi petunjuk untuk berperilaku bagi obyek dakwahnya.

Jika dalam strategi dakwah struktural kita nyaris tak dapat membaca faktor personal dan justru harus dilakukan secara kolektif, maka dalam strategi dakwah kultural, kita dapat mengandalkan atau menunjuk pada peran perorangan. Karena tujuan dari strategi dakwah kultural adalah mengubah cara berpikir perorangan, bukan cara berpikir kolektif yang disasar. Karena sentuhan personal ini, strategi dakwah kultural disebut-sebut lebih awet dari pada strategi dakwah struktural. Pada strategi dakwah struktural, jika faktor luar berubah –politik, informasi, budaya, atau ekonomi- kesadaran kolektif itu relatif lebih mudah berubah. Oleh karenanya, strategi dakwah kultural ini bersifat jangka panjang. Keberhasilannya baru benar-benar dirasakan dalam jangka panjang. 

Pada praktiknya, strategi dakwah kultural dilakukan melalui berbagai media dakwah dan pranata budaya untuk menguatkan basis kebudayaan dan intelektualitas umat untuk mendorong mobilitas vertikal ummat dalam berbagai lapangan baik birokrasi, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan ekonomi dan filantrropi, agenda kebudayaan, intelektual, sosial, maupun politik. 

Sekali lagi, strategi dakwah struktural dan strategi dakwah kultural biasa dilakukan secara bersama oleh organisasi dakwah. Perjuangan nilai-nilai Islam secara sruktural dilakukan organisasi dakwah melalui jalur politik. Sedangkan perjuangan nilai-nilai Islam secara kultural dilakukan melalui kader dan mitra strategis sebuah organisasi dakwah. 

Strategi Dakwah Kultural dan Dakwah Strukturalnya.

Pada bagian ini, penulis akan memberikan beberapa catatan atas pelaksanaan strategi dakwah kultural dan relasinya dengan strategi dakwah strukturalnya. Catatan-catatan tersebut adalah sebagai berikut;

1. Strategi dakwah struktural dan strategi dakwah kultural bersifat komplementer. Kedua strategi dakwah ini bersifat saling melengkapi. Kedua strategi dakwah ini lazim digunakan secara bersama oleh satu organisasi dakwah.

2. Tidak ada yang lebih unggul dari kedua strategi dakwah tersebut. Tetapi strategi dakwah struktural digunakan atau ditonjolkan untuk kasus tertentu dan dalam waktu-waktu tertentu. Pada awalnya dan pada aslinya dakwah itu bersifat kultural, perubahan dari dalam, dan berorientasi jangka panjang.

3. Strategi dakwah struktural membutuhkan persistensi yang tinggi. Strategi dakwah struktural harus dilakukan dengan gigih, kanjang, tekun, gentur, sepenuh hati, keras hati, kukuh, berkesinambungan, konstan, sambung-menyambung, dan terus-menerus. Strategi dakwah struktural memerlukan kerja dan pekerja yang sanggup untuk menjalankan strategi tersebut dengan tekun, gigih, dan sifat-sifat semacam yang tersebut di atas.

4. Tidak boleh ada anggapan, bahwa mengaktifkan strategi dakwah kultural itu karena bosan, lelah, capek, tidak sabar, atau tergesa-gesa setelah lama menunggu hasil dari strategi dakwah struktural yang tak kunjung datang.

5. Mengaktifkan atau lebih mengaktifkan strategi dakwah kultural tidak boleh dilakukan sebagai pelampiasan kekecewaan politik, ajang eksistensi personal, dipicu dorongan personal untuk memimpin dan ‘tampil’ ke permukaan, atau hal semacam itu.

6. Strategi dakwah kultural memungkinkan dilakukan secara personal. Strategi dakwah kultural tidak harus dilakukan secara kolektif. Sehingga, pembahasan terpenting dalam pembahasan seputar strategi dakwah kultural bukanlah pada pembentukan strukturnya.

7. Strategi dakwah kultural tidak boleh dimulakan dari curhat-curhat yang berkembang soal eksistensi personal dalam struktur dakwah. Strategi dakwah kultural bukan dimulakan dari soal profesionalisme, keterampilan, kemampuan, kepakaran, atau jabatan pemerintahan yang dirasakan ‘tidak dianggap’ oleh struktur dakwah.

8. Strategi dakwah kultural tidak menitikberatkan dan membahas soal-soal yang berkaitan dengan levelisasi kader, muwashofat dan pembentukan unit-unit dakwah yang bersifat struktural. Tidak perlu mengangankan bahwa seorang yang paling piawai dalam bidang kultural tertentu sebanding dengan levelisasi kaderisasi yang telah ditetapkan. 

9. Aktivis dakwah struktural mungkin saja terjebak dalam ketidakadilan dalam menatap kebijakan untuk lebih menggerakkan strategi dakwah kultural. Aktivis dakwah struktural mungkin saja curiga, enggan mendukung, dan enggan melepas kadernya untuk lebih banyak berkiprah di dakwah kultural. Aktivis dakwah struktural dapat terjebak dalam ukuran-ukran jangka pendek dan ukuran-ukuran politik semata. Tetapi para penyuka dan aktivis dakwah kultural memiliki potensi ketidakadilan yang sama. Para aktivis dan penyuka dakwah kultural bisa bersemangat karena ego dan semangat eksistensi personal. Para aktivis dan penyuka dakwah kultural bisa terjebak dalam tujuan-tujuan jangka panjang yang subyektif dan tujuan-tujuan jangka panjang tak bisa diukur atau dievaluasi.

Penutup.

Setelah sekian tahun para aktivis dakwah bersemangat dalam menjalankan strategi dakwah struktural, setelah sekian lama hampir semua sumber daya dakwah dikerahkan untuk mendukung strategi dakwah struktural, dan setelah sekian lama perubahan itu seperti tak membawa hasil, ada potensi ketidakadilan dalam diri para aktivis dakwah dalam menatap dan menyambut istilah strategi dakwah kultural. Dan tulisan ini dimaksudkan untuk menatap kedua strategi dakwah itu dengan adil.

Semoga.

Aamiin.

Jakarta, 5 Januari 2017

Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Sebelumnya: 
Share this article :

Posting Komentar