Senin, 15 Agustus 2016

Home » » Menapak Jejak Daud

Menapak Jejak Daud

@ Esai Kemerdekaan | Eko Junaedi

Mafaza-Online| Mendengar nama Daud, kita akan segera ingat dengan sosok nabi yang kejatuhan belalang emas, diberi tambahan umur dari jatahnya Nabi Adam as, bertasbih bersama dengan burung dan gunung, ahli puasa hingga nama puasanya disematkan kepada namanya (Afdholush shiyaam, Shiyaamu dawuud), nabi yang diberi kerajaan dan diberi kitab (zabur). Baiklah, beragam masalah itu sudah banyak dibahas diberbagai majelis ilmu. Kali ini, mari kita fokuskan pembahasan terhadap perjalanan Nabi Daud hingga bisa naik tahta. Semoga bisa bermanfaat bagi kita.

Ekspedisi Militer
Daud yang masih remaja bergabung dalam mobilisasi militer yang dipimpin oleh Thalut. Thalut adalah sosok panglima perang yang hebat, yang digambarkan dalam Al Qur’an “Basthatan fil ‘ilmi wal jism”. Pasukan ini bergerak melewati medan yang sulit dengan jarak yang jauh, untuk berperang melawan pasukan Jalut. Daud yang masih remaja berhasil menempuh perjalanan yang melelahkan, berhasil melewati ujian berupa sungai dan pada akhirnya dia juga yang berhasil membunuh Jalut.

Sosok Daud sering digambarkan sebagai seorang anak kecil. Ini perlu dikoreksi karena dalam islam, seseorang baru diijinkan berperang apabila usianya sudah 16 tahun. Pada saat perang Badar, Abdullah bin Umar ra ingin mengikuti rombongan pasukan tetapi tidak diijinkan karena belum cukup umur. Baru pada saat perang Uhud, dia diijinkan untuk ikut karena usianya sudah 16 tahun. Jadi pada saat mengikuti ekspedisi militer, Daud bukanlah sosok anak kecil tapi sudah berusia remaja.

Keterlibatan seseorang dalam mempertahankan negerinya harus dimulai sejak remaja (baligh). Proses interaksi yang lama memastikan tidak adanya “Pemimpin karbitan”, sekaligus memudahkan penelusuran rekam jejak dalam proses penilaian dan kenaikan pangkat, jabatan, penghargaan dan kedudukan. Rasulullah saw sudah berpartisipasi dalam perang fijar saat berusia remaja. Kita terlibat dalam proses pemilu (memilih pemimpin atau wakil rakyat) saat berusia 17 tahun. Dan seterusnya.

Tetap Berkiprah
Setelah Jalut berhasi dikalahkan, Thalut naik tahta. Kita tidak mengetahui secara pasti peran dan posisi Daud setelah peperangan itu. Kita juga tidak tahu kapan Daud diangkat menjadi nabi dan menerima kitab Zabur. Kita hanya tahu bahwa setelah Thalut mangkat, maka Daud-lah yang naik tahta menggantikannya.

Dalam sistem kerajaan, biasanya seorang raja akan mewariskan tahtanya pada anaknya. Sebagaimana halnya Mu‘awiyah bin Abu Sufyan ra mengangkat Yazid bin Mu‘awiyah menjadi khalifah penerusnya. Kita juga tidak tahu apakah Thalut punya anak atau tidak, tetapi yang jelas Daud bukanlah anaknya Thalut. Lalu bagaimana bisa Daud naik tahta?

Jalur pemberontakan sepertinya tidak mungkin, karena tidak ada riwayatnya. Terlebih, beliau pasti tahu keutamaan Thalut sebagai panglima yang dipilih oleh nabi Bani Israel pada masanya. Maka yang paling mungkin adalah faktor kedekatan, loyalitas, prestasi dan hal - hal profesional lainnya sehingga dia naik tahta menjadi raja. Apakah karena diwasiatkan oleh Thalut atau karena dibai’at oleh rakyatnya, kita tidak tahu.

Kita bisa menduga dengan dugaan kuat, bahwa Daud terus berkiprah pasca pertempuran membunuh Jalut. Entah sebagai tentara, birokrat atau lainnya, kita tidak tahu. Berbagai capaian prestasinya menjadi catatan dan berbuah pengakuan, hingga akhirnya diangkat menjadi pemimpin. Kisahnya mungkin bisa disamakan dengan wasiat Abu Bakar untuk mengangkat Umar bin Khathab, atau wasiat dari Sulaiman bin Abdul Malik untuk mengangkat Umar bin Abdul Azis.

Ketika terjadi krisis besar disuatu negeri, banyak orang - orang hebat yang akan melakukan kerja - kerja besar dan amal - amal kepahlawanan. Mereka keluar dari kehidupannya, dari lingkungannya, dari pekerjaannya, dari kesibukannya untuk berjuang, bahu membahu mengusir penjajah, mengatasi krisis, menanggulangi bencana dll. Namun setelah penjajah terusir, krisis mereda dan bencana tertangani, banyak dari mereka yang kembali ke peran, kesibukan dan lingkungannya semula.

Mereka terpanggil untuk merebut kemerdekaan, tapi kurang terpanggil untuk mengisi dan menjaga kemerdekaan. Akibatnya, banyak posisi penting baik ditingkat birokrat, partai, NGO, pengusaha, militer, media dll yang diisi oleh orang - orang yang tidak ikut berjuang dan tidak memiliki idealisme kemerdekaan. Mereka membawa negeri ini ke arah yang salah, tanpa merasa bersalah. Dan akhirnya banyak orang hebat dan segaa kiprah pengabdiannya, hanya menjadi penonton atau bahkan korban kebijakan.

Berkaca pada kisah Daud, semestinya mereka yang telah berkiprah untuk berjuang sejak awal memiliki tanggung jawab moral untuk ikut berpartisipasi membangun negeri. Bukan hanya diranah privat, tapi juga diranah publik. Bukan hanya melalui jalur kultural tapi juga dengan gerakan struktural. Para pemimpin membutuhkan sokongan dan dukungan, bukan hanya dimasa krisis tapi juga dimasa normal. Karena hajat sebuah negara juga bukan hanya agar bisa bertahan, tapi juga bisa terus tumbuh dan berkembang.

Rantai Kejayaan
Daud ikut berpartisipasi membuka gerbang kemenangan bagi bangsanya. Dia juga menguatkan pemimpin yang terpilih. Dia menerima estafet kepemimpinan dari Thalut. Dan setelahnya, dia mewariskan kepada anaknya yang disebut - sebut sebagai Raja dan Nabi yang paling kaya, paling sukses dan besar kerajaannya, yakni Sulaiman As. Kita mudah mendeteksi peran Daud, yakni sebagai mata rantai penghubung kejayaan bangsa.

Perjuangan yang kita lakukan, belum tentu bisa kita nikmati hasilnya. Apakah akan langsung berada ditangan kita atau menunggu sekian waktu lagi, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Jikapun nanti kita berkesempatan untuk naik ke panggung sejarah, apakah kejayaan puncak akan terjadi dimasa kita atau masa sesudah kita, hanya waktu pula yang bisa menjawabnya. Tetapi peran - peran untuk menjadi mata rantai kejayaan itulah yang harus terus menerus kita lakukan.

Para pendahulu kita telah mengorbankan segalanya untuk merebut kemerdekaan. Tidak layak jika bangsa ini kita tinggalkan karena dianggap sebagai bangsa yang menganut hukum thaghut. Tidak layak pula jika kepemimpinan dan kekayaan bangsa ini kita serahkan pada bangsa lain karena merasa inferior. Sebaliknya, kita harus berperan sebagai mata rantai kejayaan. Yakni mengambil kesempatan jika dimungkinkan serta menyiapkan landasan yang kokoh bagi generasi penerus kelak.

Khatimah
Generasi Thalut sudah pasti berlalu dari bangsa ini, karena pergerakan fisik mengusir penjajah memang sudah dilalui. Kami sungguh berharap generasi saat ini adalah generasinya Daud yang berkiprah membangun negeri dan pada saatnya nanti berhasil naik ke pucuk pimpinan negeri. Mungkin kita sendiri juga tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk memajukan negeri ke puncak kejayaan. Hm, biarlah itu jadi tugas generasi selanjutnya, yakni generasinya Sulaiman.

Pertanyaanya, sudahkan kita memainkan peran sebagai generasinya Daud? Sudahkah kita menyiapkan generasinya Sulaiman? Hm,.. Hanya Allah dan antum yang tahu. Semoga demikian.

Silakan Klik:


Silakan klik:
                                                         Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Posting Komentar