Sabtu, 27 Agustus 2016

Home » » Andai Kita Ismail

Andai Kita Ismail

“Tidak ada amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban” (HR Tirmidzi dan Hakim).
Oleh: Tri Handayani*

  
Mafaza
-Online|
IBRAHIM berkata: ” Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab,  “ Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Qs Ash Shaaffaat [37]:102)

Peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim as merupakan ujian yang nyata dari Rabbnya. Karena ketaatan keduanya (Ibrahim dan putranya Ismail), maka Allah SWT menebus Ismail dengan seekor hewan sembelihan, yakni domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Allah SWT mengabadikan kisah kekompakkan anak-bapak ini agar menjadi ibrah.

Andai kita Ismail, mampukah bersikap sama? Tak jarang kita mendengar anak remaja menghardik orangtuanya, karena apa yang diinginkan belum dipenuhi. Anak-anak memang kerap menuntut orangtua agar menuruti kemauannya. Banyak pula di antara mereka yang enggan mendengar nasihatnya. Jika sudah demikian,  mana mungkin mereka mendengar seruan Allah SWT?

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Kautsar ayat dua, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”  Betapa banyak kebaikan dan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, maka sebagai ungkapan rasa syukur padaNya, shalatlah dan berqurbanlah dengan ikhlas karena mengharapkan ridha dari Allah SWT. Berkurban, sunah muakkad, yaitu sunah yang ditekankan dan disyariatkan bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, jika memiliki kelapangan maka wajib berkurban. Berkurban juga bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa, namun anak-anak dan remaja pun dianjurkan.

Qurban, Syiar Agama Islam

Allah SWT menetapkan waktu dan cara berkurban kepada umat Islam. Berkurban merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan. Jika kita mampu membeli  handphone yang mahal tetapi enggan menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban, maka ada yang perlu diluruskan dari orientasi hidup kita. Masa remaja yang kita lalui akan berdampak pada kehidupan yang akan datang. Berkurban memiliki nilai ibadah sehingga harus disebarluaskan kepada khalayak agar senantiasa dilakukan oleh hamba-Nya.   

Pasti luar biasa ya,  jika ada remaja yang hatinya terpaut dengan masjid. Ia lebih suka mengejar shalat wajib tepat waktu dibandingkan mengejar monster dalam game Pokemon Go. Patut dijadikan renungan juga bagi remaja, seandainya di usia muda ia bisa menjadi entrepreneur yang nantinya bisa berkurban dengan uang sendiri. Semua itu akan mungkin jika kita yakin dan senantiasa fokus dengan cita-cita.

Gali Potensi                                          

Tidak akan rugi jika kita menyisihkan sebagian uang jajan kita untuk melaksanakan perintah Allah SWT.  Mengapa harus malu dengan memakai pakaian yang biasa saja tanpa brand terkenal? Sepatu yang nyaman dipakai sudah cukup bagi kita untuk berjalan di bumi Allah ini tanpa kesombongan. Tas yang kuat untuk membawa buku-buku kita sudah lebih dari cukup. Allah SWT tidak akan menilai penampilan kita berdasarkan mahal tidaknya pakaian yang kita kenakan, tetapi Allah menilai ketakwaan yang melekat pada diri kita.

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, makaTuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah.” (Qs Al Hajj:34)

Identitas Keislaman

Apa buktinya jika kita mengaku beragama Islam? Sungguh tidaklah mudah seandainya hanya mengakui saja tanpa melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah SWT. Ketika kita diberi kelapangan rezeki, maka sudah selayaknya membeli hewan kurban sebagai ungkapan rasa syukur karena Allah SWT telah memberi rezeki. Bahkan Allah SWT mengancam, bagi mereka yang mampu namun enggan berkurban.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat ied kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Makna Sosial

“Hari raya kurban adalah hari raya untuk makan, minum dan dzikir pada Allah.” (HR Muslim).  Pernahkan kita membayangkan kaum dhuafa di sekitar kita yang jarang sekali menikmati hidangan lezat? Sekerat daging yang jarang disantap akan membuat mereka sedikit berbahagia. Karena pada harta kita ada sebagian hak mereka, yaitu kaum dhuafa.

Dari Zaid Ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata ; “Wahai Rasulullah saw, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: ”Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab. Apakah keutamaan yang akan kami peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab.”Setiap satu helai rambutnya adalah kebaikan.” Mereka bertanya: ”Kalau bulu-bulunya?” Rasul menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebagai qurban dimanapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR . Ibn Majah dan Tirmidzi)

Ampunan Allah SWT

Rasulullah saw bersabda kepada puterinya Fatimah : “Ya Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah : Sesungguhnya  sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah SWT, Rabb alam semesta  (HR Abu Daud dan At Tirmidzi).

Sahabatku Pemuda Islam, betapa dalamnya makna dibalik Adha. Betapa agungnya syiar qurban ini. Andai kita adalah Ismail, mampukah kita bersikap setegar itu? Mampukah kita mengorbankan harta yang paling kita cintai? Sementara, hasrat untuk narsis, permainan dan senda gurau menjadi keseharian kita? Maka sudah sepantasnya kita memohon ampun kepada Allah. Beristighfar tanpa henti dan terus berusaha memperbaiki diri. Wallahu’alam 

*Guru KB TKIT Asy Syaffa 1 Kampung Tulung Kota Magelang

Silakan Klik:
 
Share this article :

Posting Komentar