Rabu, 08 Juni 2016

Home » » Kajian ala Mahasiswa Gontor

Kajian ala Mahasiswa Gontor

Saya dan mahasiswa Fakultas Ushuluddin hanya bisa terkaget mengetahui trio alumni Gontor ini. Sempat terpikir, seandainya mereka sama – sama mengabdikan diri di kampus Gontor, maka pasti akan banyak mahasiswa yang dapat menguasai pemikiran Ibnu Sina, Algazali, dan Fakhruddin Razi

Oleh: Erdy Nasrul

  
Mafaza-Online | Cendikiawan Prof Nurcholish Madjid (Cak Nur) sempat mengunjungi pesantren tempatnya belajar, Darussalam Gontor. Kunjungan itu terjadi pada 2003, dua tahun sebelum dia meninggal dunia pada 2005.

Sejumlah mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (sekarang Unida) sangat bangga berjabat tangan dengannya. Mereka sempat berfoto.

Cak Nur juga sempat berbincang santai dengan sejumlah dosen institut tersebut. “Apa saja yang diteliti mahasiswa?” tanya dia.

Kemudian dosen yang mendampingi menerangkan ada yang mengkaji pemikiran filosof Muslim Muhammad Iqbal. Mahasiswa juga mengkaji pemikiran hujjatul Islam Imam Algazali tentang ketuhanan, alam, Sufisme, dan banyak lagi. “Ini penelitian yang bagus,” ujar Cak Nur tersenyum.

Mengkaji pemikiran Islam adalah kebiasaan mahasiswa di Gontor. Formatnya diskusi nonformal. Tempatnya berpindah-pindah. Pernah digelar di kamar, teras masjid, dan pelataran gedung Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS).

Kajian berlangsung sederhana. Pemateri kerap melemparkan persoalan yang kerap memancing perdebatan. Misalnya, dalam pembahasan teologi Islam, mazhab Mutazilah berpendapat ucapan Allah (kalamullah) adalah ciptaan (makhluk). Sifatnya tidak kekal.

Kemudian seorang mahasiswa berbicara, kalau berpatokan kepada Mutazilah, maka Alquran sama dengan manusia. Dia akan usang, sehingga tak lagi menjadi referensi umat Islam.

“Tidak begitu,” ujar mahasiswa lainnya, sebut saja B. Mutazilah berpendapat seperti itu untuk menyikapi kondisi muslim di zamannya yang berlebihan dalam memuliakan Alquran, sehingga terjerumus menyekutukan Allah.

Dua mahasiswa itu saling beradu argumentasi serius. Beberapa peserta kajian lainnya ikut memaparkan pendapatnya. Masing – masing merujuk kepada referensi yang sudah mereka baca.

Meski berdebat serius, tak ada mahasiswa yang menendang meja seperti yang dilakukan anggota DPR dalam sidang paripurna 2014 lalu. Tak ada kericuhan karena banyaknya interupsi. Mereka duduk santai sambil memaparkan argumentasinya. Kadang mereka tertawa karena selipan humor yang tiba – tiba memecah ketegangan.

Biasanya kajian seperti ini menghabiskan waktu selama 120 menit. Setelah itu mereka beristirahat.

Semangat untuk mengkaji Pemikiran Islam menguat ketika salah seorang putra pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi, Dr Hamid Fahmy kembali aktif mengajar pada 2005. Dia membawa ‘segudang’ referensi menarik tentang studi Islam, Orientalisme, dan pemikiran Barat.

Saya ketika itu adalah mahasiswa semester V. Kami menyempatkan diri berdialog dan berdiskusi tentang pandangan hidup. Hamid selalu menekankan hal tersebut, karena itu menggambarkan cara pandang seseorang.

Orientalis banyak yang mengkritisi, bahkan mendistorsi Islam, karena mereka memandang dengan kebencian akan Tuhan. Barat memiliki pengalaman traumatik dengan Tuhan, sehingga mereka cenderung sekuler. Sebaliknya, Islam justru tak bisa lepas dari Tuhan. Konsep Tauhid adalah inti dari cara pandang Islam. Karena itu, mahasiswa diimbaunya untuk berhati – hati mengkaji Orientalisme.

Saya dan sejumlah teman sempat bertanya-tanya dalam hati tentang pengalaman pendidikannya. Pengalaman itu sudah pasti yang sangat memengaruhi sikap dan pemikirannya saat ini.

Di dalam gedung CIOS, Hamid menyimpan foto cendikiawan Muslim asal Bogor, Jawa Barat, Prof Syed Muhammad Naquip Alattas. Hamid berguru kepada Alattas yang dikenal sebagai ahli filsafat Islam.

Selama berguru dengan Alattas, Hamid fokus mengkaji pemikiran Algazali. Hampir semua karya hujjatul islam dimilikinya.

Dia membuat disertasi tentang kausalitas Algazali. Ada yang berpandangan bahwa sebab dan akibat itu keniscayaan. Namun, Algazali ternyata tak berpandangan demikian. Hamid mengilustrasikan pandangan Algazali dengan kisah Nabi Ibrahim yang dibakar. Kalau kausalitas itu keniscayaan, maka Nabi Ibrahim akan hangus dan mati karena terbakar, tapi kenyataannya tidak.

Ibrahim tetap hidup dan tidak hangus. “Di situ ada intervensi Tuhan,” ujar Hamid menjelaskan secuil isi disertasinya.

“Di situ ada intervensi Tuhan”
 
Selama di Malaysia, Hamid berteman dengan alumni Gontor lainnya, Adnin Armas, dan Syamsudin Arif. Kedua orang itu sama- sama mengkaji filsafat Islam. Cendikiawan Adian Husaini menjelaskan Adnin membuat tesis tentang konsep waktu Fakhruddin Alrazi. Adnin menilai konsep waktu itu sudah berkembang 500 tahun lebih dulu ketimbang yang digagas Isaac Newton.

Syamsudin Arif lebih luar biasa lagi. Dia dijuluki sebagai ahli Ibnu Sina. Putra berdarah Betawi ini membuat kajian serius tentang intuisi dan kosmologi Ibnu Sina.

Mereka dibimbing juga oleh ahli filsafat Islam asal Turki, Prof Alparslan Acikgenc. Pesan Alparslan kepada Syamsudin adalah harus serius mengkaji Ibnu Sina. Menurut dia, yang terakhir mengkaji Ibnu Sina adalah Prof Fazlurrahman, guru Cak Nur. Rahman menulis penelitian tentang psikologi Ibnu Sina. Pandangan Ibnu Sina tentang jiwa dikupas di dalamnya.

Setelah Rahman, cendikiawan muslim asal Iran Seyyed Hossein Nasr juga mengkaji sekilas pemikiran Ibnu Sina. Dia juga mendalami pemikiran Albiruni dan Ikhwan Safa tentang kosmologi.

Saya dan mahasiswa Fakultas Ushuluddin hanya bisa terkaget mengetahui trio alumni Gontor ini. Sempat terpikir, seandainya mereka sama – sama mengabdikan diri di kampus Gontor, maka pasti akan banyak mahasiswa yang dapat menguasai pemikiran Ibnu Sina, Algazali, dan Fakhruddin Razi. Mereka bisa membimbing kajian mahasiswa menjadi lebih menarik, meskipun dilaksanakan di teras, dengan makanan ringan seadanya.

(Tulisan ini sudah di muat di suplemen Islam Digest Republika)
 
Share this article :

Poskan Komentar