Sabtu, 19 Maret 2016

Home » » Umar Mukhtar, Berjuang Hingga Tiang Gantungan

Umar Mukhtar, Berjuang Hingga Tiang Gantungan

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr [89]: 27, 28)
Oleh: Dr. Ali Ash-Shalaby

  
Mafaza-Online.Com
| IBROH -
  Umar Mukhtar senantiasa membaca Al-Qur`an dengan penuh penghayatan dan keimanan yang sangat dalam, sehingga Allah SWT berkenan memberinya rizki berupa keteguhan dan memberinya petunjuk kepada jalan yang benar. Tilawah Al-Qur’an sungguh telah menemaninya hingga nafasnya yang terakhir. Saat ia digiring ke tiang gantungan, ia membaca firman Allah Swt,

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr [89]: 27, 28)

Syekh yang mulia, Umar Mukhtar lahir dari kedua orang tua yang shalih, pada 1862, dikatakan pula tahun 1858. Ayahnya, Mukhtar bin Umar, berasal dari suku Menfeh dari keluarga Farhat, beliau lahir di Bathnan, Jabal Akhdhar. Umar kemudian tumbuh dan berkembang di rumah yang penuh kemuliaan dan keagungan, dihangatkan semangat juang kaum muslimin, budi pekerti yang luhur dan sifat-sifat terpuji yang mereka peroleh dari pengajaran tarekat As-Sanusiyah yang berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Ayah Umar Mukhtar meninggal dunia saat mengadakan perjalanan haji ke Makkah al-Mukarramah. Saat menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada sahabatnya, Sayyid Ahmad Ghiryani (saudara kandung seorang Syekh di Zawiyah, yang terletak di timur Tobruk), agar ia berkenan menyampaikan kepada saudaranya bahwa Mukhtar menitipkan kedua anaknya Umar dan Muhammad untuk diasuh dalam bimbingannya.

Syekh Husein Ghiryani pun memelihara keduanya untuk memenuhi keinginan orangtua mereka. Ia memasukkan kedua anak itu ke Madrasah al-Qur`an al-Karim di Zawiyyah. Kemudian Umar mengenyam pendidikan di Ma’had Jaghbub dan bergabung dengan sahabat-sahabatnya dari berbagai kabilah lain dalam mencari ilmu.

Umar Mukhtar telah merasakan pahitnya menjadi anak yatim semasa kecilnya. Namun justru hal ini menjadi kebaikan baginya, menambah rasa cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Kondisi ini membuatnya selalu berlindung kepada Allah SWT sebagai sandaran yang Kuat lagi Perkasa dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya. Sejak kecil, telah nampak tanda-tanda kecemerlangannya, sehingga ia berhasil mencuri perhatian guru-gurunya di Jaghbub, yang saat itu merupakan mercusuar ilmu, tempat bertemunya para ulama, ahli fikih, sastrawan dan pendidik, mereka yang mendapatkan kehormatan untuk mengajar dan mendidik serta mempersiapkan generasi unggul kaum muslimin untuk membawa risalah Islam yang kekal.

Setelah bertahun-tahun mereka menerima ilmu dan pendidikan, mereka kemudian menyebar ke berbagai wilayah Libya dan Afrika untuk mengajarkan manusia dan mendidik mereka mengenai prinsip-prinsip Islam dan ajarannya yang luhur.

Umar Mukhtar tinggal di Ma’had Jaghbub selama delapan tahun menimba ilmu syariat yang beraneka ragam, seperti fikih, hadits dan tafsir. Di antara guru-gurunya yang paling populer adalah Sayyid Zarwali al-Maghribi, Sayyid Juwani, Al-‘Allamah Falih bin Muhammad bin Abdullah Azh Zhahiri al-Madani dan lain–lain. Mereka semua mengakui keunggulan dan kecerdasan akalnya, daya tahan tubuhnya yang kuat dan kecintaannya akan dakwah.

Umar kerap menjadi contoh bagi rekan-rekannya dalam mengerjakan berbagai kewajiban lain di samping menuntut ilmu. Ia adalah seorang yang ikhlas dalam amal-amalnya dan selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Tidak pernah para sahabatnya melihat Umar Mukhtar menangguhkan pekerjaannya sampai hari esok.

Demikianlah, Umar Mukhtar terkenal sebagai pribadi yang tekun, sungguh-sungguh, istiqamah dan sabar. Keistimewaannya ini membut para guru dan sahabat-sahabatnya menaruh perhatian besar kepadanya, padahal saat itu ia masih belia. Para guru selalu memberi laporan kepada Imam Muhammad al-Mahdi (sang mursyid) mengenai keadaan para siswa dan akhlak setiap mereka. Dan Umar Mukhtar selalu membuat Imam Muhammad al-Mahdi bertakbir ketika mendengar sifat dan segala perilakunya.

Umar menjadi seorang yang sangat perhatian dengan urusan lingkungan di sekitarnya, sangat memahami kondisi yang tengah terjadi saat itu, memiliki pengetahuan yang luas akan sejarah para kabilah dan apa yang terjadi pada mereka, mengetahui nasab dan ikatan yang mengikat kabilah-kabilah tersebut, seperti tradisi, kebiasan dan lokasinya. Ia juga banyak belajar bagaimana caranya memadamkan permusuhan antar kabilah serta mempelajari kecerdasan dalam mengambil sikap dan kebijakan.

Umar Mukhtar juga sangat ahli mengenai jalan-jalan gurun dan jalan-jalan pintas dari Barqah menuju Mesir dan Sudan di luar, serta dari Barqah menuju Jaghbub dan Kafrah di dalam. Ia sangat mengenal berbagai jenis tumbuhan dan khasiatnya di Barqah, pandai dalam mengenali penyakit ternak serta tata cara pengobatannya sebagai hasil dari pengalamannya bergaul dengan kaum pedalaman. Kepandaian ini didapat setelah mengalami uji coba yang demikian panjang dan pengamatan yang jeli.

Ia juga mengenali ciri khas setiap kabilah, bahkan ciri yang melekat pada unta, kambing dan sapi untuk memperjelas tanda kepemilikan bagi si empunya. Semua ini menunjukkan kecerdasan dan kepandaian Umar Mukhtar sejak masa mudanya.


“Wahai Umar, wiridmu adalah al-Qur`an”

Secara fisik, Umar Mukhtar adalah seorang yang berperawakan sedang, sedikit agak tinggi, tidak gemuk dan tidak pula kurus. Suaranya serak dengan logat pedalaman yang khas dan tenang dalam cara berpikirnya. Kata-katanya jelas, tidak membosankan, terukur, diselingi dengan senyuman, atau tawa kecil sesuai keadaan. Ia berjanggut lebat, sejak kecil ia memang sudah memanjangkannya. Wajahnya tampak berwibawa dan tenang, sungguh-sungguh dalam bekerja, mencerna setiap kata-kata dan teguh memegang prinsip. Sifat-sifat ini kemudian semakin matang seiring bertambahnya usia.

Umar Mukhtar adalah seorang yang sangat disiplin mengerjakan shalat tepat pada waktunya, rajin membaca al-Qur`an dan selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari. Hal ini ia lakukan sejak Imam Ahmad Sanusi berkata kepadanya, “Wahai Umar, wiridmu adalah al-Qur`an.”

Seperti yang diceritakan Muhammad Thayyib al-Asyhab, suatu hari ia memohon izin bertemu dengan Imam Muhammad Mahdi dari pengawalnya, Muhammad Hasan al-Baskari, di lokasi sumur Sarah yang terletak di jalan gurun antara Kafrah dan Sudan. Ketika ia masuk menemui al-Mahdi, sang Imam mengambil sebuah mushaf di sampingnya dan memberikannya kepada Umar Mukhtar, lalu ia berkata, “Apakah engkau menginginkan hal lain?”

Umar Mukhtar menjawab, “Tuan guru, sesungguhnya banyak dari saudara kami yang membaca wirid-wirid tertentu dan doa-doa yang mereka baca. Sementara aku tidak membaca wirid kecuali wirid ringan yang singkat setalah usai shalat. Karena itu, aku memohon engkau mengijazahkan wirid kepadaku.” Akan tetapi ia menjawab, “Umar, wiridmu adalah Al-Qur`an.”

“Aku kemudian mencium tangannya dan keluar dengan membawa hadiah yang sangat agung ini (mushaf). Dengan karunia Allah, aku senantiasa menjaganya, baik ketika mukim maupun ketika aku bepergian. Sejak saat itu, aku tidak pernah berpisah dengan mushaf hadiah tuanku. Setiap hari, aku selalu membacanya secara dawam, sehingga aku mengkhatamkannya setiap tujuh hari. Aku mendengar dari guruku, syeikh Ahmad ar-Rifi, bahwa sebagian para wali selalu membiasakan diri untuk membaca al-Qur`an dimulai dengan al-Fatihah hingga surah al-Maidah, kemudian dilanjutkan hingga surah Yunus, kemudian surah al-Isra, kemudian asy-Syu’ara, kemudian ash-Shaffat, kemudian Qaf hingga akhir al-Qur`an. Sejak saat itu, aku membaca al-Qur`an sesuai urutan tersebut,” demikian kata Umar Mukhtar.

Sesungguhnya mendisiplinkan diri dalam membaca al-Qur`an dan beribadah dengannya menunjukkan kekuatan iman dan kedalamannya di dalam jiwa. Keimanan yang luar biasa dalam diri Umar Mukhtar inilah yang memancarkan sifat-sifat yang terpuji dari dalam jiwanya, seperti keberanian, amanah, kejujuran, memerangi kezaliman, pemaksaan dan kehinaan. Keimanan ini tampak jelas dalam kedisiplinannya mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Allah swt beriman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa [04]: 103)

Ia menghambakan diri kepada Tuhannya dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya dan bersegera dalam melaksanakannya. Umar adalah seorang yang banyak mengerjakan shalat sunnah di waktu-waktu senggangnya, membiasakan diri shalat Dhuha dan menjaga wudhu meskipun di luar waktu shalat.

Diceritakan bahwa ia berkata, “Aku rasa, aku tidak pernah menemui seorangpun dari tuan-tuan tarekat Sanusiyyah dalam keadaan tidak suci, setelah Allah memuliakanku dengan bernasab kepada tarekat ini.”

Selanjutnya:

Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

 


Share this article :

Poskan Komentar