Rabu, 16 Maret 2016

Home » » Ketika Kita Sakit

Ketika Kita Sakit

Berobat disaat sakit adalah wajib, karena haram hukumnya membinasakan diri sendiri
 
Oleh : KH. Imam Santosa, S.Ag.


  
KH. Imam Santosa, S.Ag
Mafaza-Online |
Setiap orang tentu pernah merasakan sakit, bahkan kematian kebanyakan dihantarkan dengan sakit. Karenanya memahami hakikat sakit dan bagaimana mensikapinya sangat penting bagi setiap mukmin.


Pertama, Bagi Mukmin Sakit Adalah Penghapus Dosa

 عَنِ النَّبِىِّ  وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الخُْدْرِىِّ
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلا وَصَبٍ وَلا هَمٍّ وَلا حُزْنٍ وَلا »
أَذًى وَلا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلا كفَّرَ ا ﻟﻠﻪُ ﺑِﻬَا مِنْ خَطَاﻳَﺎهُ
(رواه البخاري

Dari Abu Said al-Khudry dan Abu Hurairah dari Nabi sabdanya: “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan, penyakit, kesedihan atau kesusahan, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosa dengannya akan kesalahannya” HR. Bukhari.

رِدِ لله بِهِ )) : قَالَ : قَالَ رَسُولُ لله ، وعن أبي هريرة
خَيْر اً يُصِبْ مِنْه )) رواه البخاري
Dari Abu Hurairah katanya; Bersabda Rasulullah : “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah padanya kebaikan (keberuntungan), maka diberinya penderitaan” HR Bukhari.


إِذَا أَرَادَ لله بعبدِهِ )) :  قَالَ : قَالَ رَسُول لله ، وعن أنسٍ
الخَيرَ عَجَّلَ لَه العُقُوبَة في الدُّنْيا ، وَإِذَا أَرَادَ لله بِعَبدِهِ الشَّرَّ
أمْسَكَ عَنْه بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يومَ القِ يَامَةِ )) .
( إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر/ 10
إنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإنَّ للهَ )) : وَقالَ النَّبيُّ
تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، ومَنْ
سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ )) رواه الترمذي ، وَقالَ: (( حديث حسن
.((

Dari Anas, katanya bersabda Rasulullah :

“Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya menyegerakan siksanya di dunia, dan jika Allah menghendaki kebinasaan terhadap hambanya ditangguhkan akan dosanya sehingga dituntutnya kelak di hari kiamat”

Kedua, Bersabar Ketika Sakit agar Terhapus Dosa dan Mendapatkan Kebaikan

( إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر/ 10

“Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]:10).


إنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإنَّ للهَ )) : وَقالَ النَّبيُّ
تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، ومَنْ
سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ )) رواه الترمذي ، وَقالَ: (( حديث حسن
.((

Dan bersabda Nabi saw: “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bala’, dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum memberinya ujian, maka siapa yang ridha mendapatkan keridhaan Allah, dan siapa murka mendapat kemurkaan Allah.” (HR Tirmidzi, dan katanya hasan).

Dari Malik Al-Asy’ary katanya: Bersabda Rasulullah saw: “Kesucian itu syarat iman, dan Alhamdulillah memenuhi timbangan, dan subhanallah walhamdulillah memenuhi keduanya atau memenuhi antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, shadaqah bukti iman, sabar adalah penerang, dan Al-Qur’an adalah hujjah bagimu yang membenarkannya atau menentangnya, setiap manusia di waktu pagi menjual dirinya ada yang membebaskan dirinya dan ada yang membinasakan dirinya.” (HR Muslim).

Ketiga, Berobat Ketika Sakit

Dan Tuhanku, yang dia memberi makan dan minum kepadaku, Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 79-80)

Berobat disaat sakit adalah wajib, karena haram hukumnya membinasakan diri sendiri, (QS Al-Baqarah [02] : 195).

Dan dari Abu Darda berkata : Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan bagi setiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tapi jangan berobat dengan yang haram." (HR. Abu Daud dalam sunannya).

Karena berobat wajib, maka wajib pula adanya ahli pengobatan (dokter) tenaga para medis (perawat bidan) dan rumah-rumah sakit, tempat perawatan dan pengobatan yang syar’i, sehingga kita mendapatkan pengobatan sebaik-baiknya;

Lahirnya kita meski berobat sebaik-baiknya ketika sakit, sebagai ibadah melaksanakan kewajiban berobat ketika sakit, namun bathiniah kita harus meyakini bahwa Allah SWT yang menyembuhkan penyakit, atau tidak menyembuhkannya karena Allah SWT berencana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Keempat, Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Sakit yang berat dan berlarut-larut bagi yang tidak kuat iman bisa membuat putus asa, sedang berputus asa dari rahmat Allah adalah sifat kekafiran (QS. Yusuf [12]: 87).

Dari Anas katanya: Bersabda Rasulullah :

“Janganlah diantara kamu mengharapkan kematian disebabkan penderitaan yang menimpanya, tetapi jika terpaksa maka katakanlah: Ya Allah hidupkanlah saya jika hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah saya jika kematian itu lebih baik bagiku”. (Muttafaq ‘alaih).

Maksudnya, jika hidup bermanfaat dan bertambah amal shalih, dan jika mati dengan husnul khatimah yang menyelamatkan dari berbagai keburukan.

Kelima, Banyak Beristighfar

Karena sakit merupakan penghapus dosa bagi mukmin, maka untuk segera mendapatkan kesembuhan ketika sakit mestinya banyak beristighfar (mohon ampun) dari segala dosa, diiringi dengan muhasabah (instropeksi) akan perbuatan dosanya dan bertaubat.

Demikian, maka sesungguhnya setiap mukmin yang sakit membutuhkan pengobatan jasmani dan bimbingan rohani yang tepat, agar mendapatkan kebaikan dari sakitnya.




Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda

Share this article :

Poskan Komentar