Selasa, 23 Februari 2016

Home » » Suatu Siang yang Penuh Hikmah

Suatu Siang yang Penuh Hikmah

 Jumat pagi, 8 juni 2012….
Mafaza-Online.Com | FORUM -Bunyi sms menyapa pagi saya, ” Assalamualaikum akhwatfillah, di mohon kehadirannya untuk rapat di base camp. Penting…” Sms dari Kabidpuan Dpra. Dalam hati saya bertanya-tanya, lha, kan baru rapat kemarin, dah rapat lagi. Memang, kita semua sedang ada rencana untuk pekan kompetensi ibu-ibu majelis taklim dan binaan TPA-TPQ di sekitar Ciketing Udik. Belum lagi rencana dauroh janaiz yang melibatkan seluruh majelis taklim.

Sore hari, rapat yang cuma di hadiri 6 orang saja itu, di sampaikan bahwa, Ciketing udik akan kedatangan tamu istimewa, istri Gubernur Jawa Barat, Ibu Netty Prasetyani Heryawan. Istri Gubernur Jawa Barat…!!!!! Dan kami cuma punya waktu 2 hari saja untuk bersiap-siap. 2 Hari !!! Dengan dana yang terbatas pula. Namun Bismillah…..Bersama Allah SWT pasti bisa. Mulailah kerja serabutan kami. Mulai nyari tempat yang bisa kami jadikan tempat menerima tamu besar kami itu. Pesan konsumsi , mengundang majelis- majelis yang tersebar di daerah Ciketing Udik , dan sebagainya.

Setelah kompromi sana-sini, seperti biasa, banyak yang alergi kalau kami punya hajat, mereka keberatan dengan acara kami, takut bawa bendera. Kami sudah paham, apalagi ini sudah dekat dengan aroma PILKADA. Akhirnya kami dapat tempat, Musholla Nurul Janah, yang baru saja rampung di renovasi dapat dana dari APBD.

Acara di susun…Ahad pagi jam 7.30

“Assalamualaikum bu Sri, anti di harap meluncur segera ke Nurul Janah. Bantu dekorasi tempat yaa…” Begitu sms yang sampai ke pada saya. Selesai beres-beres rumah, dan mengamanah-kan si kecil kepada kedua kakak nya, saya berangkat. Betapa kaget saya melihat tempat nya berubah dari acara semula. Saya lihat ibu-ibu majelis taklim mushola Nurul Janah yang menjadi binaan dakwah kami berseliweran penuh kesibukan. Ada yang bolak-balik bawa dus air mineral, mempersiapkan dus konsumsi, bahkan memegang arit dan cangkul, untuk membersihkan rumput-rumput liar yang tingginya separuh betis orang dewasa. Seolah mengerti keheranan saya, beberapa di antaranya mulai ramai bercerita.

Bahwa, secara tiba-tiba pihak-pihak tertentu mengancam akan memboikot acara ini bila berlangsung di Musholla. Mereka beranggapan bila acara partai tak boleh berlangsung di tempat ibadah. (alasan klasik…gak kreatif..meng ada-ada….lagu lama…..***teriak hati saya…jelas-jelas spanduk acara nya tertulis Tabligh Akbar dan temu wicara dengan Ibu Gubernur Jawa Barat….pada tinggal di mana sih tuh orang….****)

“Duuuh, ibu….saya teh, sampe pengen nangis ngeliat tempatnya bu….mana becek, banyak rumput nya…liat tenda nya bu…Masya Allah….” cerita salah seorang ibu.

Mata saya tertumbuk kepada tenda yang…ahhh, kalau di bandingkan, tenda orang yang hajatan jauuuuhhh lebih layak. Terbuat dari terpal yang jauh dari bersih, apalagi di bilang bagus. Sambungan bambu-bambu jemuran milik warga sekitar, banyak yang berlubang pula. Terlebih saya melihat ke depan, panggung kecil, gak lebih dari 2 meter persegi, di tutup karpet mushola yang berlubang di sana- sini, dan yang menjadi latar belakangnya adalah….bekas kandang ayam, yang di tutup spanduk bertuliskan “TABLIGH AKBAR DAN TEMU WICARA DENGAN IBU GUBERNUR JAWA BARAT, NETTY PRASETYANI ” , itupun tak tertutupi seluruhnya karena spanduk yang  terbatas. Kandang ayam yang baru tiga bulan tak terpakai lagi karena yang empu nya ayam sudah menghadap Yang Maha Kuasa.

Lalu deretan kursi yang telanjang tanpa sarung, jumlahnya kurang dari 100 buah. Lalu…ah, tak terbayang bila hujan turun pas acara….dapat dipastikan tanahnya akan bertambah becek, apalagi sebagian besar tamu majelis taklim di pastikan “lesehan” beralaskan tikar menutupi tanah yang basah….

Mata saya menatap langit, mungkin kalau boleh cemas, saya punya alasan, sejak 2 hari Ciketing Udik di guyur hujan. Kegelisahan saya mengurai doa, “Yaa Allah, ku tahu hujan adalah rahmat Mu..tapi jangan saat ini….Bila hujan benar turun, apalagi deras, maka orang-orang yang menentang kami dan membenci dakwah ini, akan bersorak, bersuka cita dengan kegagalan ini…..”

Saya tersenyum, menatap ibu-ibu yang mulai di landa kegusaran dan kecemasan. ” Ga papa bu…biar keliatan Ciketing UDIK nya….” kata saya berseloroh. Mereka tersenyum. Bahkan ada yang tertawa,” Ah, si ibu, bisa aja…”

Lalu  kami semua kembali bekerja, dengan perasaan bahagia, tentu saja. Tanpa sungkan menghiasi panggung kecil itu dengan deretan pot bunga yang di comot, pinjam sana-sini dari warga sekitar. Menghias meja registrasi dan konsumsi dengan kain. Sambil bercengkrama tentang apa saja, bahkan tentang kebersahajaan kami. Alhamdulillah.

Lewat tengah hari yang di jadwalkan, ratusan ibu-ibu undangan dari berbagai majelis taklim telah berkumpul. Sebagian besar, seperti yang sudah di pastikan, duduk lesehan beralaskan terpal dan tikar. Bahkan berulang kali kami menambahkan jumlah alas karena  peserta yang terus bertambah. Belum lagi teras-teras rumah warga yang  jadi tempat lesehan sementara. Alhamdulillah, Subhanallah..berkali kami memuji Allah atas antusiame para undangan yang tak mempedulikan keterbatasan kami.

Setelah beberapa saat, datanglah tamu yang kami tunggu-tunggu. Mengenakan batik, rok merah, dan jilbab merah, Ibu Netty Prasetyani Heryawan singgah di tempat kami. Tanpa canggung sedikit pun, menjejakkan kaki di tanah yang sedikit lembab terkena hujan kemarin, dan menyalami panitia yang terdiri dari tukang jamu, buruh cuci dan setrika, istri supir angkot Bantar Gebang-Cileungsi yang sudah 3 tahun jadi binaan kami…Subhanallah…

Terlebih, beliau tak merasa risih sama sekali melihat tenda dan panggung yang kami sediakan, bahkan meminta izin melewati barisan ibu-ibu yang lesehan di kanan kiri tenda. Legaaa rasa nya. Hilang sudah satu kecemasan dari hati, paling tidak, Ibu Gubernur tak memperlihatkan rasa tak nyaman akan tempat yang kurang begitu “layak”. Meski sekilas nampak raut mengkhawatirkan dari dua orang ajudannya, tapi…so what gitu loh…the show must go on.

Namun kecemasan kembali datang, melihat rintik-rintik hujan yang mulai turun. Beberapa orang yang lesehan mulai terlihat gelisah, bahkan beringsut merapat ke tenda dan sedikit berdesakan, ada juga yang pindah tempat ke teras rumah warga. Lalu seorang ajudan menghampiri, “Bu..kalau hujan bagaimana..???”

Saya tersenyum lebar, “Belum hujan kok…ga papa…” Berusaha saya menutupi keresahan hati saya. Di belakang saya berdiri, saya lihat ibu-ibu panitia menatap ke atas, saya tahu mereka berucap doa yang sama dengan saya.

Tepat azan ashar, acara selesai. Tak terbayangkan betapa lega perasaan kami, bahkan terselip bahagia, bercampur bangga, kami berfoto bersama Ibu Gubernur, sebuah kesempatan yang sayang untuk di lewatkan. Bahkan ada yang menitikkan air mata haru. Saya paham,untuk orang yang baru mengaji 3 tahun, sungguh berat berhadapan dengan penentangan dan penuh kebencian, bagi saya dan mereka yang baru belajar untuk mempertahankan  ke tawakalan kepada Allah, ini laksana Perang Badar, yang mempertaruhkan haq dan bathil. Hanya “pemenangan” dari  Allah saja, hidup dan mati nya dakwah kami ke depan sana. Dan Allah memberi kami pemenangan itu, meski sempat di uji Nya ke yakinan kami dengan rintik-rintik hujan,sedang kami memang tak siap untuk itu. Subhanallah…Allah sebaik-baik pemberi Pertolongan.

Dari sini saya merenung, betapa hari ini Allah banyak memberi saya tarbiyah. Tentang keyakinan, ketawakalan, bahkan kesederhanaan. Bahwa kebersahajaan bukanlah suatu aib yang harus di tutupi dengan kepalsuan. Ia bukanlah sebuah kekurangan, kesederhanaan adalah anugerah dan tanda cinta dari Yang Maha Kuasa. Orang yang mensikapi kesederhanaan dengan benar adalah pemenang kehidupan. Kesederhanaan juga bentuk rasa syukur nikmat bagi seorang Hamba Allah yang sejati. Kekayaan, kecantikan, jabatan, kekuatan, kepandaian, kecerdasan, bahkan rasa hormat dari sesama manusia, lahir dari cara seseorang yang bersahaja dalam penampilan, perkataan, perilaku dan gaya hidup. Dan dari sanalah lahir juga penghargaan dari sesama. Bukan karena intimidasi apalagi intervensi. Maha Suci Allah…

Terima kasih Ibu Netty Prasetyani yang telah mengajarkan kepada saya arti seorang yang berjiwa besar. Menghargai sesama manusia tanpa memandang rupa dan tampilan saja. Menjadi orang yang tetap membumi walau jabatan melangit. Semoga pemimpin-pemimpin umat yang lain juga akan ber i’tibaa seperti ibu. Barakallah buat rakyat Jawa Barat yang memiliki pemimpin yang sederhana dan bersahaja, merakyat namun berkharisma….

Terima kasih juga kepada majelis taklim Musholla Nurul Janah yang telah banyak memberi pelajaran yang penuh hikmah kepada saya. Tentang ketawakalan, keyakinan , keikhlasan juga rasa bersyukur pada semuaaaa yang telah di berikan Allah kepada kita. Segudang teori saja yang telah saya berikan, namun kalian semua adalah karya nyata dari buah hikmah kehidupan yang sesungguhnya. Kalian lah sumber mata air anugerah Ilahiyah yang mengalir sepanjang perjalanan dakwah nan jernih di antara bebatuan terjal yang menghadang. Tetaplah saling berpegangan. Agar tegar kita semua menghadapi rintangan. Sekarang dan selama nya dalam ikatan indah tali yang bernama ukhuwwah Islamiyyah….

Sri Suhartini – Catatan Emak | 


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda


Share this article :

Posting Komentar