Selasa, 23 Februari 2016

Home » » Tragedi Kutu Buku

Tragedi Kutu Buku


@ Renungan Sore

Buku – buku ini menyadarkanku, ...

  
Bahwa ilmu masih terus akan berkembang. Dulu, kita tahu fikih sesuai dengan bab – bab yang tertulis dalam kitab Subulus Salam, Fathul Mu’in, Al Mughni dll. Jika dulu ada Fikih Thaharah, Fikih Muamalat, Fikih Munakahat, maka sekarang ada diskursus baru seperti Fikih Minoritas, Fikih Tradisi, Fikih Kebangsaan, Fikih Kebhinekaan dll.


Mau tidak mau, kita harus ikut membaca dan mendalami, minimal mengenal. Agar tahu kemana arah berpikir sebuah generasi dan arus besar intelektual yang diciptakan oleh para pemikirnya.

Kadang, kita pun dibuat bingung. Antara keinginan untuk mewarisi turats para ulama terdahulu dengan semangat mengkaji dan mewarnai khazanah ilmu kekinian. Apakah kita ingin seperti Syaikh Wahbah Az Zuhaili atau ingin menjadi Adian Husaini.

Buku – buku ini menyadarkanku, ...
 
Bahwa terlalu asyik dengan buku bisa berbahaya. Kita bisa menjadi penelaah yang mahir, pemikir pilih tanding dan ideolog papan atas. Tapi, aksi kita hanya sebatas diruang diskusi, seminar dan kopdar. Kecenderungan jiwa pun bisa bergeser ; dari ahli beramal menjadi ahli berdebat, dari pekerja menjadi pengamat, dari pemain menjadi penonton.

Padahal, kerja – kerja nyata mutlak harus dilakukan. Baik diranah dakwah, pekerjaan, bisnis, sosial dll. Semuanya menguras waktu, tenaga dan pikiran. Semuanya menuntut kontribusi terbaik dan upaya maksimal dari diri kita. Untuk sesaat, kita bisa melakukannya. Selanjutnya, kita lebih sering menyetorkan alasan ketimbang menyetorkan hasil pekerjaan.

Betapa mulianya ulama – ulama zaman dahulu. Mereka ilmunya setinggi langit, kitabnya berjilid – jilid, tebal dan berbobot. Tapi mereka tidak pernah ketinggalan shalat jama’ah, selalu berpuasa, terjaga dimalam hari dan hadir di medan jihad. Entah jamu apa yang harus kita minum agar bisa sekuat dan sesemangat mereka. Entah bagaimana caranya merekonstruksi generasi emas seperti mereka.

Buku – buku ini menyadarkanku, ...
 
Bahwa tidak cukup waktu untuk menguasai semua perbendaharaan ilmu. Empat lemari besar sudah penuh dengan aneka kitab dan buku. Sebagian besarnya juga belum khatam dibaca dan belum mendalam dikuasai, tapi tetap saja ngiler jika lihat buku. Entah mau ditaruh dimana buku – buku ini. Entah kapan juga mau dibacanya.

Dulu kami berbangga, bahwa hobi membeli buku adalah jalan yang baik dalam membelanjakan uang. Bisa jadi, kami tak lebih dari sekedar keledai yang membawa tumpukan kitab. Sekedar kolektor buku, bukan pencari ilmu.

Malam ini, buku – buku ini menyadarkanku, ...
Bahwa diatas langit masih ada langit. Dan kita tidak lebih dari semut merah yang berbaris di dinding sekolah. Atau semut hitam yang mencoba merangkak keluar dari gelapnya tanah.

Eko Jun


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
 

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. Mafaza Online: Tragedi Kutu Buku . All Rights Reserved