Rabu, 30 Desember 2015

Home » » Perempuan-Perempuan yang Dibanggakan Allah

Perempuan-Perempuan yang Dibanggakan Allah



"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman [31]: 14 )

Oleh: Eka Safitri
Deputi Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga Bidang Perempuan dan Ketahan Keluarga (BPKK) PKS DKI Jakarta

  
Mafaza-Online.Com | IBROH - Pada zaman seperti ini, di mana Al-Quran masih dijauhi oleh umat, Islam belum merata menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, bahkan yang sudah ber-KTP Islam, dan kehidupan dunia menjadi dambaan umumnya manusia, karena tidak paham dan tidak tertarik dengan kehidupan akhirat. 

Jika ditanya sosok perempuan seperti apakah yang menjadi dambaan dalam menjalani hidup ini, maka bisa dipastikan sumbernya atau referensinya  adalah televisi, koran, majalah, dan lain-lain. Hasilnya adalah perempuan dambaan itu hanyalah perempuan-perempuan yang sukses dalam kehidupan dunianya, mereka itu adalah para artis, selebiritis, entertainer, dan lain sebagainya. 

Menjadi sangat wajar jika pemikiran umat seperti ini, karena yang diakrabi bukan Al-Qur'an atau petunjuk Rasulullah SAW berupa sunnahnya dan kehidupan salafussalih yang mulia. Karena wirid hariannya bukan lagi Al-Qur'an, namun perkembangan kehidupan ahluddunya lah yang selalu dipantau dan dinanti-nanti.Fa laa haula wa lla quwwata illa billah.


Disinilah pentingnya tulisan-tulisan seperti ini, betapa pun kecil perannya, dibanding dengan derasnya arus sumber informasi yang selalu menginformasikan kehidupan dunia dan perhiasannya. Namun Allah Maha Tahu niat hamba-hamba-Nya yang selalu optimis dalam mengubah kehidupan umat betapapun kecil daya dukungnya. Dengan keyakinan keberkahan dari setiap amal yang diridhai Allah, maka insya Allah tulisan sederhana ini, mampu memberi pencerahan kepada umat, agar menjadikan tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Quran lah yang harus menjadi panutan kehidupan yang sangat singkat ini, dan mereka yang  seharusnya menjadi dambaan dan  panutan dalam kehidupan ini.
   

Al-Quran Memuliakan Perempuan

Cukuplah seorang perempuan itu menjadi seorang Ibu, maka dirinya  adalah sosok manusia yang sangat dimuliakan oleh Al-Qur'an dan Rasulullah SAW. Hal ini karena jasa dan perannya yang spektakuler dalam membesarkan generasi yang Allah titipkan kepadanya  yang akan menjadi cikal bakal terbentuk suatu generasi yang salih menuju peradaban, yang akan membahagiakan semua manusia. Semua tokoh-tokoh besar di negeri ini dan di tempat lain, sungguh tidak terlepas dari peran wanita sebagai seorang ibu. 

Allah SWT berfirman : 
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS. Luqman [31]: 14 )

Agar seorang ibu bersemangat membesarkan generasi yang dilahirkan, maka seorang anak harus menghargai dan menjunjung setinggi-tingginya ibu yang telah melahirkannya. Seorang bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakukan yang sebaik-baiknya? Rasulullah saw menjawab; Ibumu, siapa lagi ya Rasulullah? Ibumu. Siapa lagi Ya Rasulullah? Ibu mu”.

Begitulah Rasulullah menempatkan posisi seorang ibu dalam kehidupan keluarga. Alangkah ruginya perempuan muslimah yang tidak merasakan penghargaan  ini dalam kehidupan keluarganya, hanya karena kurang memahami konsep rabbani  ini. Seorang penyair Syauqi mengatakan, ”Ibu adalah bagaikan  lembaga pendidikan, jika dipersiapkan dengan baik, maka akan menghasilkan generasi yang berkualitas”.

Sepatutnya para ibu muslimah belajar dari ibu Imam Syafiii, setelah melahirkan bayinya yang kelak menjadi ulama besar bernama Imam Asya Syafii di Gaza Palestina. Beliau berjuang, menempuh jarak yang jauh mengembara ke tanah suci Makkah, untuk menyiapkan lingkungan yang lebih baik untuk putranya, agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas, setelah kurang lebih tujuh tahun, beliau pindah ke Al-Madinah, agar anaknya menimba ilmu dari guru besarnya Imam Malik rahimahullah. Inilah peran minimal seorang ibu untuk keluarga.

Namun jika seorang ibu muslimah menjadikan ibu-ibu berprestasi besar menjadi acuan hidupnya, maka Al-Qur'an dan sirah Rasulullah saw-lah yang pantas menjadi panduan hidup yang sangat visualis untuk diteladani dan diterjemahkan dalam realita kehidupan. Dengan semangat dan kesungguhan yang besar, sejarah akan terus berulang dalam kehidupan zaman ini. Namun jika kita membacanya dengan penuh pesimis, alih-alih ingin menerapkannya, membaca dan mengkajinya pun kita sudah merasa keberatan.

Baca Selanjutnya: 

Share this article :

Posting Komentar