Rabu, 04 November 2015

Home » » Mari Bangun Negeri dengan Kebersamaan dalam Keimanan

Mari Bangun Negeri dengan Kebersamaan dalam Keimanan

Politik adalah sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita, pondasi untuk meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah 
Taujih Habib Dr Salim Segaf Al-Jufri*


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Mafaza-Online.Com | TAKWIN - Setelah empat kali mengikuti pemilu, kita bisa melihat bagaimana dampak politik terhadap pribadi kita. Politik sungguh sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal-hal yang berhubungan dengan dakwah terjadi stagnasi bahkan penurunan.

Politik adalah sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita. Tapi pondasi untuk meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah.

Kita harus mensyukuri capaian yang telah kita raih. Kita mentargetkan membangun 20 sampai 25 lantai sehingga kita akan masuk 3 besar. Namun Allah baru memberikan kita 7 lantai. Ini harus kita syukuri, karena 7 lantai ini adalah 7 lantai yang kokoh.

Lebih baik kita diberi 7 lantai yang kokoh daripada diberi 25 lantai yang rapuh, yang justru itu membahayakan. Menang tapi justru membuat kita terpecah belah dan saling berebut satu sama lain. Tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rasulullah mengingatkan, "Sungguh bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tapi yang aku khawatirkan adalah manakala dibukakan pintu dunia ini seluas-luasnya kepada kalian."

Ikhwah fillah, soliditas kita adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Maka, dakwah dan tarbiyah harus menjadi panglima dalam kita bergerak dan berpolitik. Keimanan harus menjadi pondasi, karena dengan iman itulah Allah SWT akan membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang kita dakwahi.

Kita lihat Asiyah ra, istri Firaun. Wanita yang hidup ditengah istana kezaliman Firaun, namun dia menjadi beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Siapakah yang memberikan hidayah kepada istri Firaun tersebut?

Itulah cara-cara Allah SWT memberikan hidayah, melalui cara-cara yang penuh keimanan. Kita ingin membangun perpolitikan yang dibangun dengan keimanan, kejujuran dan amanah.

Kita tidak mengharamkan posisi, jabatan dan kekuasaan. Tapi semua itu untuk membangun negeri dan menegakkan kebenaran. Bukan untuk yang lain.

Firaun memiliki seorang Masithoh ra, seorang tukang sisir yang tugasnya khusus menyisir rambut anak Firaun. Pada suatu ketika Masithoh sedang menyisir rambut seorang anak Firaun, sisir yang digunakan terjatuh dan dia mengambilnya dengan membaca Bismillah. Hal ini lalu dilaporkan kepada Firaun.

Lalu apa yang dilakukan Firaun laknatullah? Dia lalu menyiapkan panci besar berisi minyak yang dididihkan dan memasukkan anak-anak Masithoh tersebut satu persatu. Pentas penyiksaan ini agar Masithoh mengakui Firaun sebagai tuhannya.

Namun sampai seluruh anak-anaknya dimasukkan ke minyak mendidih itu, Masithoh tetap teguh dengan keyakinannya. Akhirnya, setelah seluruh anak - anaknya selesai, Masithoh pun juga dimasukkan ke dalam minyak mendidih tersebut.

Ketika Rasulullah saw Isra Mi'raj, beliau mencium aroma yang sangat wangi, dan Jibril menjelaskan itu adalah wangi masithoh dan anak-anaknya yang teguh dengan kecintaannya kepada Allah SWT.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap teguh dengan keyakinan kita saat lemah maupun saat berkuasa?

Kalau kita rapat sampai jam 01 atau jam 02 malam, apakah kita lebih hebat dari Rasulullah saw? Kapan kita bermunajat kepada Allah SWT. Padahal momentum itu adalah saat-saat Rasulullah saw bermunajat kepada Allah SWT?

Kita ingin membangun Indonesia yang kokoh, yang solid dan sejahtera. Tapi saat ini Indonesia jauh tertinggal, termasuk dari Korea yang kemerdekaannya berbeda 2 hari dari Indonesia. Tapi Indonesia di sana lebih dikenal sebagai negara Pengirim pembantu Rumah Tangga!

Maka kita harus membangun negeri ini dengan kebersamaan kita dalam keimanan. Tidak ada yang lebih hebat dari Allah SWT. Kita membangun negeri ini untuk mendapatkan kecintaan Allah SWT. Bukan untuk kepentingan nafsu pribadi. Untuk ikhlas seperti itu memang tidak mudah, tapi jika sudah menjadi kebiasaan, dia mudah saja dan tidak menganggap itu sebagai keikhlasan. Itulah seorang mukhlasin, iblis pun tidak mampu menggodanya.

Partai ini panglimanya adalah dakwah, panglimanya adalah dzikrullah dan shalawat kepada nabi, panglimanya adalah ibadah kepada Allah. Lakukan dengan itqon dan ihsan.

Jazakumullah khair, terima kasih sudah membantu partai ini. Ucapan seperti ini memberi dampak yg sangat luar biasa dan menjauhkan kita dari keangkuhan. Darimana kita tahu bahwa seseorang atau partai itu mendapatkan cahaya Allah SWT? Itu terlihat dari hati-hati mereka yg selalu berdzikir kepada Allah.

Semoga partai ini mencintai dan dicintai Allah, dan memperoleh kemenangan di dunia dan akhirat.

Aamiin ya rabbal alamin
*Ketua Majelis Syuro DPP PKS

PKSJATENG.OR.ID

Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah

Share this article :

Poskan Komentar