Kamis, 29 Oktober 2015

Home » » Patriotisme Pemuda 1928 Harus Jadi Inspirasi Para Pemimpin

Patriotisme Pemuda 1928 Harus Jadi Inspirasi Para Pemimpin

Indonesia bahkan sudah lahir dengan lahirnya Sumpah Pemuda, meski baru diproklamasikan 17 tahun kemudian pada tahun 1945


Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
  
A Zainuddin | FOTO: FPKS
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, usaha menuju ke arah kemerdekaan itu sudah dimulai jauh sebelumnya. Bahkan kegigihan semangat patriotisme para pemuda di tahun 1928, menjadi akar kemerdekaan Indonesia 17 tahun kemudian.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua FPKS MPR RI, Ahmad Zainuddin di Kompleks MPR-DPR Senayan, Jakarta, Selasa (27/10/2015).

Zainuddin mengatakan, para pemimpin Indonesia saat ini harus benar-benar mengambil inspirasi patriotisme dan nasionalisme dari para pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928.

Inspirasi, lanjut Zainuddin, mengutamakan persatuan, menafikan perbedaan. Inspirasi optimisme Indonesia pasti akan merdeka dan maju. Inspirasi soal kedaulatan, kemandirian dan nasionalisme.

“Juga inspirasi tentang ke-Indonesia-an secara utuh," ujarnya.
Zainuddin menuturkan, literatur-literatur sejarah banyak menyebutkan bahwa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia sudah dimulai sejak awal abad 20. Puncak gelombang pergerakan pertama terjadi saat digelarnya kongres pemuda pada 1926 yang berujung pada lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928.

Menurut anggota komisi I DPR RI ini, Indonesia bahkan sudah lahir dengan lahirnya Sumpah Pemuda, meski baru diproklamasikan 17 tahun kemudian pada tahun 1945.

"Tokoh-tokoh pemuda saat itu sudah bicara soal Indonesia secara utuh. Padahal negara ini belum ada. Dan tokoh-tokoh pemuda tahun 1928, sebagian besar mereka juga lah tokoh-tokoh di balik berdirinya negara ini tahun 1945," cetus Zainuddin.

Oleh karena itu, lanjut politisi asal Ponorogo Jawa Timur ini, para pemimpin Indonesia sebagai pengambil kebijakan pemerintahan dan negara saat ini harus memiliki patriotisme dan nasionalisme kuat di tengah lingkungan dunia yang terus berubah dinamis.

"Utamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara, berorientasi pada menjaga kedaulatan. Tidak mudah bergantung pada asing. Komitmen teguh pada kemandirian bangsa dan kesejahteraan," pungkasnya.

Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah

Share this article :

Poskan Komentar