Minggu, 04 Oktober 2015

Home » » Merindukan Sosok Shalahuddin, Sang Pembebas Al Aqsha

Merindukan Sosok Shalahuddin, Sang Pembebas Al Aqsha

Ingat! Tanggal 2 Oktober Hari Pembebasan Yerusalem





Silakan klik:
Lengkapi Kebutuhan Anda
Ilustrasi
Mafaza-Online.Com | IBROH – Selayaknya, tanggal 2 Oktober ini, umat Islam mengenang sebuah pertempuran besar yang menggelorakan semangat juang pemuda Islam. Perang dahsyat dalam upaya merebut Al Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Saat yang tepat juga untuk meneladani model pejuang sejati. Sosok yang bekerja keras mengeluarkan bangsa dari krisis moral. Ia tak lain, Yusuf bin Ayyub, yang lebih dikenal dengan sebutan An-Nashir Shalahuddin Al-Ayyubi. Pejuang gigih yang berhasil memenangkan pertempuran Hittin.

Umat Islam sebelum masa pemerintahan Shalahuddin mengeluhkan ketidakadilan, korupsi ada di mana-mana. Begitu Shalahuddin mengambil alih kementerian di Mesir, ia mengambil langkah positif yang signifikan dalam menyatukan umat Islam. Ia canangkan program “Perbaikan Akidah”. Program yang tepat karena keimanan sebagian besar umat Islam pada masa itu sudah rusak. Shalahuddin melihat akan bahaya kerusakan akidah dan moralitas itu mengarah pada perpecahan umat Islam.

Sebagai langkah pertama dalam memperbaiki aqidah, Shalahuddin mendirikan sekolah-sekolah yang bermazhab ahlus sunnah wal jama’ah. Sebelum Shalahuddin memimpin, Mesir dikuasai Daulah Fathimiyah yang berhaluan syiah. Fathimiyah diperangi hingga ke akar-akarnya. Waspada jangan jangan ketika menyerang pasukan salibis di Palestina, Syiah Fathimiyah menusuk dari belakang. Selain menghancurkan dinasti ini dari sisi militer, Shalahuddin juga mengubah keyakinan masyarakat Mesir ketika itu.

Tidak mudah mengubah mazhab dari syiah ke ahlus sunnah karena paham Fathimiyah telah mengakar lebih dari dua ratus tahun. Tak aneh kalau kita jumpai, sampai saat ini di Mesir masih ada orang yang berpaham syi’ah ala Fathimiyah.

Sukses dengan langkah pertama, Shalahuddin bergerak menuju langkah kedua, yaitu “Menyatukan Wilayah Muslim”. Sang Panglima berupaya menghadapi musuh-musuh Islam dalam satu barisan. Tidak boleh ada pertikaian dalam barisan tersebut.

Mempersatukan, langkah ini bukannya sepi dari masalah. Ia juga menemukan banyak sekali halang rintang hingga ia mendapat ujian aksi pembunuhan terhadap dirinya. Tapi Allah menyelamatkannya dari ujian tersebut. Begitulah Shalahuddin mengerahkan upaya besar untuk menyatukan Umat Islam.

Setelah umat Islam bersatu, Shalahuddin mulai menghadapi musuh. Dipihak lawan terjadi aksi mobilisasi. Tentara Salib dari seluruh negara Eropa berkumpul melawan pejuang Muslim. Pertempuran antara pasukan salib dan pasukan Shalahuddin banyak sekali. Pasukan Shalahuddin lebih banyak memenangkan pertempuran. Diantara yang tercatat sebagai pertempuran besar adalah pertempuran di Hittin kemudian diikuti dengan penaklukan Al-Quds (Yerusalem).


Langkah pertama Shalahuddin adalah menyatukan umat Islam, kemudian keluar bersama-sama  menggempur pasukan salib

Diantara kejadian masyhur dalam pembebasan Al-Quds adalah peristiwa gencatan senjata antara Shalahuddin dan Arnat, seorang pemimpin salib wilayah Karak. Salah satu poin dalam gencatan senjata tersebut dibolehkannya kafilah Islam dalam bergerak antara Mesir dan Syam. Tapi, poin ini dikhianati Arnat. Mereka menghadang kafilah kaum muslimin dan menyita semua barang-barang serta menangkap para pemudanya. Lebih dari itu, mereka menghina kaum muslimin dan Nabi Muhammad saw. Kejadian itu terjadi pada tahun 572 H. “Jika kalian percaya kepada Muhammad maka panggillah ia sekarang untuk membebaskan kalian,” sesumbar Arnat.

Shalahuddin mengetahui pengkhianatan dan pelecehan kepada Rasulullah saw, memuncaklah amarahnya. Ia bersumpah —apabila Allah SWT memenangkan pertempuran ini— ia sendiri yang akan membunuh Arnat dengan tangannya.

Shalahuddin menyiapkan pasukannya dan ‘membakar’ semangat mereka. Setelah musyawarah dilakukan sesuai perintah Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan bermusyawarahlah kalian dalam berbagai urusan…” (QS. Ali Imran: 159), mereka sepakat untuk keluar berperang menghadapi musuh setelah shalat Jum’at. Saat keluar, mereka meneriakkan takbir, berserah diri dihadapan Allah SWT seraya memohon kemenangan.

Bertemulah dua pasukan, terjadi pertempuran dahsyat. Allah Ta’ala memenuhi janjinya sebagaimana firman Allah: “Jika kalian menolong agama Allah niscaya Allah akan memenangkan kalian” (QS. Muhammad: 7). Dan firman Allah: “dan telah dibenarkan janji Kami memenangkan orang-orang mukmin” (QS. Ar-Ruum: 47). Allah menuliskan kemenangan bagi umat Islam dan ini merupakan kemenangan besar.

Pertempuran usai, Shalahuddin pun sujud syukur atas kemenangan yang telah Allah SWT berikan. Beliau mencari Arnat yang telah menghina Rasulullah saw. Setelah bertemu, Shalahuddin menawarinya untuk masuk Islam tapi Arnat menolak. Maka Shalahuddin memenuhi sumpahnya.

Kemenangan besar dalam pembebasan Masjid Al-Aqsha itu terjadi pada tanggal 27 Rajab 583 H./ 2 Oktober 1187 M, yaitu setelah 88 tahun di bawah kuasa salibis. Bulan Rajab adalah bulan kemenangan dalam pembebasan Masjid Al-Aqsha. Kemenangan pertama pada peristiwa Isra’, kemudian Umar menaklukkannya setelah enam belas tahun. Dan Shalahuddin membebaskannya dari tentara salib pada bulan yang sama.

Momentum bulan Rajab adalah momentum kemenangan. Sesungguhnya jalan kemenangan itu terbentuk dari keimanan kepada Allah SWT. Lalu persatuan antara umat Islam yang tidak dapat dipecah dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Setelah keimanan dan persatuan dapat berpadu, maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkannya.

Kini, kawasan masjid Al-Aqsha dijajah zionis. Mesir dikendalikan oleh boneka zionis. Suriah masih dicekam perang dalam negeri karena perbedaan akidah. Umat Islam merindukan sosok Shalahuddin yang akan membebaskan masjid Al-Aqsha di masa mendatang.

Semoga Allah SWT segera menghadirkan sosok itu dan senantiasa memberikan kemenangan kepada umat Islam. Sehingga kita dapat melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsha dalam kondisi sudah merdeka.

Tentang Salman Alfarisy, Lc.
Lahir bulan Mei 1982 di Jakarta. Alumni Al-Azhar Mesir 2003. Pernah mengikuti pelatihan fatwa intensif selama tiga tahun di Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta’ al-Mishriyyah) hingga tahun 2010. Sekarang diamanahkan sebagai Sekretaris Umum Asia Pacific Community for Palestine (ASPAC For PALESTINE).



Silakan klik:
Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah


Share this article :

Poskan Komentar