Rabu, 01 Oktober 2014

Home » » Silatnas MIUMI: Harus Segera dikeluarkan Fatwa Gender

Silatnas MIUMI: Harus Segera dikeluarkan Fatwa Gender

Ulama perlu memahami akar persoalan umat Islam di Indonesia, yakni kelemahan ilmu pengatahuan




MIUMI | (Ilustrasi)
Mafaza-Online.Com | BANGIL - Silaturrahim Nasional ke-2 Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) memantapkan pembahasan dan penggodokan fatwa tentang paham Kesetaraan Gender, Bangil, Jawa Timur), 4 Dzulhijjah 1435 H bertepatan dengan 29 September 2014. Disamping membahas fatwa Gender, Silatnas MIUMI kali ini juga membahas tentang upaya penyatuan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Silatnas berlangsung di Hotel Dalwa (Hotel milik pesantren Darul Lughah wad-Da’wah, Bangil, Jawa Timur, salah satu pesantren besar di Jawa Timur. Disamping dihadiri perwakilan MIUMI dari berbagai daerah (Sumatra, Sulawesi, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Yogya, dan sebagainya), Silatnas juga dihadiri sejumlah intelektual dan ulama muda yang sudah dikenal kepakarannya dalam berbagai bidang.

Silatnas dihadiri, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (pakar filsafat dan pemikiran Islam), KH Bachtiar Nasir (pakar Ilmu al-Quran), Dr. Zainuddin MZ (pakar hadits, ketua MIUMI Jatim), Dr. Ahmad Zain an-Najah (pakar syariat Islam, Ketua Majelis Fatwa DDII), Kyai Muh. Idrus Romli (ulama muda NU, pakar fiqih dan aliran keagamaan), Ust. Farid A. Okbah (pakar aliran keagamaan), Dr. Jeje Zainuddin (pakar Syariat Islam dari Persis), Dr. KH Fauzi A. Tijani (pimpinan pesantren al-Amin Perinduan Madura), Dr. Syamsuddin Arif (pakar Filsafat dan pemikiran Islam, dosen Casis-UTM), Dr. Adian Husaini (Ketua Program Doktor Pendidikan Islam—UIKA Bogor), KH Adnin Armas (pakar Filsafat dan pemikiran Islam), Dr. Rahmat Fadhil (pakar syariat Islam, Ketua MIUMI Makasar), H. Fahmi Salim MA (pakar Tafsir al-Quran, ketua MIUMI DKI),  H. Tiar Anwar Bahtiar (pakar sejarah), dan lain-lain.

Pada 2012, MIUMI telah menyampaikan pandangannya tentang RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) ke Komisi VIII DPR-RI, dengan membawa lebih dari 10.000 lembar pernyataan dari berbagai daerah yang menolak RUU KKG. Ketika itu, MIUMI juga menghadirkan sejumlah pakar dari IPB, Universitas Muhammadiyah Jakarta, INSISTS, dan sebagainya.

Setelah menyimak perkembangan paham Kesetaraan Gender (KG) yang semakin massif dikembangkan, khususnya di lembaga-lembaga Pendidikan, MIUMI memandang perlu dikeluarkannya fatwa tentang paham tersebut.
Draft fatwa KG dibahas dan diberi masukan oleh para pakar dan ulama muda yang hadir dalam Silatnas MIUMI tersebut. Selanjutnya, draft tersebut akan dimintakan pandangan dan dukungan dari berbagai tokoh dan ulama Islam di berbagai daerah.

Disamping membahas fatwa Gender, Silatnas MIUMI kali ini juga membahas tentang upaya penyatuan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Meskipun draft fatwa sudah disiapkan, akan tetapi peserta Silatnas berpendapat, bahwa draft tersebut dibahas secara internal MIUMI terlebih dahulu.

Diharapkan, MIUMI secara sungguh-sungguh mendorong pihak pemerintah dan pimpinan Ormas Islam khususnya, agar mereka bersedia menyepakati satu kriteria agar bisa mengawali Ramadhan, dan berhari raya pada hari dan tanggal yang sama. Sebab, di seluruh dunia Islam, tidak ditemukan perbedaan di tengah umat Islam, di satu Negara, dalam penentuan ibadah tahunan umat Islam tersebut.

Pada Silatnas MIUMI ke-2 juga dilakukan pelantikan beberapa perwakilan MIUMI di wilayah Jawa Timur, seperti MIUMI Malang, Pasuruan, Kediri, Jombang, Madura, Jember, Mojokerto. Nganjuk, dan sebagainya. Hadir juga memberi sambutan pimpinan MUI Jawa Timur, diwakili oleh KH Abdurrahman Nafis.

Ketua Umum MIUMI, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, selama sambutannya menekankan perlunya ulama memahami akar persoalan umat Islam di Indonesia, yakni kelemahan ilmu pengatahuan. “Kelemahan ilmu itulah yang menyebabkan umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan eksternal yang muncul dari peradaban lain, melalui arus globalisasi, westernisasi, liberalisasi, sekulerisasi, yang disertai dengan paham pluralisme, humanisme, hedonisme, materialisme, dan dampak-dampak yang diakibatkan oleh paham-paham tersebut,” jelasnya. 

Disamping perlunya meningkatkan pemahaman yang benar tentang Islam dan tantangannya, Dr. Hamid Zarkasyi pun mengajak MIUMI untuk semakin meningkatkan  perannya dalam mensinergikan potensi umat Islam dalam rangka mewujudkan Indonesia yang semakin beradab.

Kepada para peserta Silatnas, Sekjen MIUMI KH Bachtiar Nasir menyampaikan harapan sejumlah ulama internasional, saat beliau berkumpul bersama mereka di rumah Syekh Yusuf Qaradhawi, di Qatar.  Mereka berharap, dari Indonesia akan muncul ulama-ulama yang mampu berperan bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional.

“Karena itulah, salah satu program utama MIUMI adalah pemberdayaan keilmuan dan kepemimpinan ulama, melalui program kaderisasi ulama,” ujar Bahtiar Nasir.

Juga ditekankan agar para kader-kader ulama menjaga silaturrahim dan berhati-hati dalam menerima informasi yang dapat memecah belah diantara mereka, sehingga melemahkan potensi mereka.

Para peserta bersepakat untuk tetap menjaga ukhuwah, bersatu dalam paham ahlussunnah wal-jamaah, tidak terjebak ke dalam perselisihan masalah furu’iyyah, meskipun mereka menyadari perbedaan di antara mereka.



Silakan klik: Buku: Fiqih Demokrasi
Share this article :

Poskan Komentar