Sabtu, 11 Oktober 2014

Home » » Memetik Hikmah dari Pendakian

Memetik Hikmah dari Pendakian

Aktivitas seperti biasa kami jalankan (shalat, membaca lantunan ayat suci, makan, tidur). Tidak ada hal apapun pada saat malam itu sampai pagi menjelang. Lalu kami memutuskan untuk turun pagi itu



Mafaza-Online.Com | PECINTA ALAM - Kamis, pukul 17.00-21.00 wib 3 tahun silam, senja sudah mulai nampak. Rintikan hujan serta petir dan deru angin menyelimuti hati kami. Sore begitu gelap, tak seperti biasanya. Entah berapa tanda alam yang kami saksikan dalam perjalanan pendakian kami. Entah berapa lentera yang pecah saat itu. Tanda alam yang paling kami ingat adalah, cacing yang ukurannya lebih besar menutupi jalan pendakian kami.

Sejam kemudian, kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Hari sudah mulai gelap, Saat itu pula halusinasi kami mulai berdatangan, seperti gemuruh orang berjalan, suara rerintihan, foto yang hanya bergambar warna seperti percikan air yang sangat banyak. Senja itu rasa takut mulai berdatangan.

Dengan menguatkan hati kami memberanikan diri untuk keluar mengambil air wudhu dalam hujan. Kami tunaikan kewajiban shalat berjama'ah dilanjutkan membaca lantunan ayat suci al Qur'an bersama.

Alhamdulilah halusinasi tadi semua menghilang dengan cepat. Gantinya suara satwa alam dan deru angin menemani senja kami.

Malam sudah menjemput. Tubuh sudah berbicara untuk di istirahatkan setelah sedikit hidangan malam buatan para srikandi hebat saat itu.

''Rasanya sangat nikmat ketika tubuh ini bisa tertidur...”

Namun ketika malam semakin larut, saat semua tertidur begitu pulasnya, aku menyaksikan seorang kawanku bangun dari tidur. Eh kok dia berbicara sendiri.

''Mungkin ngelindur,'' pikirku.

  
Pagi menyapa. Pendakian mulai direncanakan dari mulai cek peta, perlengkapan alat, P3K, dll. Kami menutup mulut atas kejadian sore tadi.

Hidangan pagi berupa aroma teh panas dan sedikit sengatan matahari mampu meluluhkan dingin yang masih menempel dalam tubuh. Kami mulai membicarakan perjalanan dan trek berikutnya yang akan ditempuh.

Tiga orang di antara kawan kami —terlihat dari raut mata yang seperti— menolak untuk melanjutkan perjalanan. Kami saat itu empat kawan termasuk saya sedikit memahami dari gerak gerik mata mereka. Kami beranikan berbicara kepada mereka.

"Kawan, apakah ada yang ingin disampaikan?"

"Semalam aku bermimpi, dalam mimpiku aku kehadiran sesosok kakek tua lalu ia berbicara kepadaku "Nak jika rombongan kalian tetap memaksakan melanjutkan perjalanan di antara kalian akan ada yang meninggal," kata Srikandi 1.

"Kawan, lalu apa yang ingin kamu sampaikan?" aku mengulang pertanyaan.

"Kawan, semalam aku juga bermimpi seperti apa yang disampaikan Srikandi 1 tadi,” jawaban kawan 1.

"Lantas, apa yang membuatmu diam ketika kami membicarakan lanjutan pendakian?" tanyaku.

"Kawan aku bertemu langsung dengan kakek itu dan dia berbicara sama dengan apa yang mereka katakan kepada kalian,” jawaban kawan 2.

Kawan 2 ini yang saya lihat semalam berbicara sendiri yang saya anggap ngelindur.

Seketika hening ....
Dengan nada yang sedikit lantang kami berempat —yang tidak mengalami kejadian apa-apa pada saat malam itu— sepakat untuk menghentikan pendakian walaupun perbekalan kami dibilang cukup untuk 5 hari berada di hutan.

Mereka lega melihat kami yang tidak egois.

  

Rencana pendakian kami ubah menjadi pembersihan sampah yang ada di area camp. Kami memutuskan untuk nge-camp disitu sampai besok pagi.

Siang menjelang. Seregu pendaki berdatangan menghampiri, kami bertegur sapa.

Sedikit obrolan pembuka dari kami berbalas, "Mas-mba kalo bisa jangan muncak, di puncak sedang ada badai, teman kami terjatuh alhamdulilah tidak apa-apa saat kami turun tadi," mereka menginfokan.

Kami berinisatif mengobati teman dari rombongan itu, sedikit luka kecil terlihat di bagian lengan dan kaki. Sedikit untuk pegangan di jalan kami memberi seperempat perbekalan makanan kami.

Lalu mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan turun dari puncak sambil membawa plastik besar berisi sampah.

Tegur sapa yang sangat khas dan iklhas dari mereka.

Sore mulai menjelang kami memutuskan untuk bermalam lagi

Aktivitas seperti biasa kami jalankan (shalat, membaca lantunan ayat suci, makan, tidur). Tidak ada hal apapun pada saat malam itu sampai pagi menjelang. Lalu kami memutuskan untuk turun pagi itu.

Next cerita ....
Kami sampai di basecamp, dengan gembira mantan Ketua Mapala kami menghampiri dan mengucapkan "Alhamdulilah kalian selamat, gimana perjalanannya?"

Salah satu dari kami membuka jawaban, "Alhamdulilah semua lancar namun kami tidak sampai kepuncak itu."

"Hahaha, alhamdulilah suatu saat nanti kalian menemukan jawabannya sendiri tidak harus saya paparkan oke,” katanya menyisakan Tanya dibenak kami. “o ya teman kos kalian semua kawatir sama kalian mereka bilang perasaan kami tidak enak cepat kabari mereka….”

Next cerita….
Kami sampai di kos-kosan dalam letih sahabat-sahabat kos menghampiri kami dengan raut mata yang sedikit berkaca menandakan bahagia mendapati kami yang masih utuh.

Aku mencoba memetik hikmah dari perjalanan ini

Sedikit pesan :
-Hilangkan rasa keegoisan individu kita dalam pendakian

-Beribadahlah

-Usir rasa takut dalam pendakian

-Selalu tenang dalam pendakian

-Ingatlah selalu membawa P3K yang lengkap

-Pahami raut mata kawan kalian

-Memahami satu sama lain

-Jujurlah jika perasaan kalian tidak enak ataupun sudah cape

-Lengkapilah alat pendakian

-Safety diri

-Saling memahami satu sama lain

-Saling berbagi

Salam sejati para pendaki....

Teguh Fetra | FB




Hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah ikut berdakwah
 


Share this article :

Poskan Komentar