Minggu, 14 September 2014

Home » » Budaya Turis Arab di Puncak Lahirkan Generasi Tanpa Harga Diri

Budaya Turis Arab di Puncak Lahirkan Generasi Tanpa Harga Diri

Persoalan akulturasi budaya tidak bisa untuk dicegah. Namun, masyarakat harus diberi pendidikan agar mampu menyaring unsur-unsur negatif yang datang dari budaya lain


  
Mafaza-Online.Com | FEATURE - Aroma budaya Arab di kawasan Puncak Bogor Jawa Barat semakin terasa kuat. Hal itu ditandai oleh beberapa fenomena kawin kontrak dan maraknya adat-istiadat berbau Arab yang mulai dianut masyarakat sekitar.
Sosiolog Musni Umar menyatakan perlu adanya perlawanan terhadap dominasi budaya Timur Tengah itu. Peran pemerintah sangat penting dalam proses perlawanan melalui penguatan budaya lokal.

"Budaya mereka itu (Arab) juga harus dilawan dengan adanya penguatan budaya lokal. Barangkali itu tugas pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan cendekiawan untuk memberi nilai-nilai kepada masyarakat kita agar tidak jadi korban," kata Musni Umar saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (13/9).

Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini menjelaskan persoalan akulturasi budaya tidak bisa untuk dicegah. Namun, masyarakat harus diberi pendidikan agar mampu menyaring unsur-unsur negatif yang datang dari budaya lain.

"Akulturasi budaya dengan masyarakat lokal itu sama sekali tidak bisa kita hindari. Pemerintah wajib memperkuat identitas lokal dengan pengetahuan yang terus-menerus bukan melarang tapi mencegah hal-hal negatif," terang dia.

Masih menurutnya, unsur-unsur negatif budaya Arab ini belum tentu disadari oleh Pemerintah Indonesia. Puluhan tahun ke depan dimungkinkan muncul generasi yang tak jelas identitas keluarganya.

"Persoalannya apakah ini sudah disadari atau belum. Dampaknya ke depan, 20 tahun lagi lahir generasi yang tidak jelas orang tuanya, dalam arti akibat kawinnya tidak jelas, anak akan kehilangan harga diri dan identitas," pungkas dia.

MERDEKA.COM


Silakan klik: 
 

Share this article :

+ komentar + 1 comment

Anonim
23 Oktober 2015 14.28

Imperialisme / Kolonialisme Arab di Jalur Puncak Jawa Barat?


Ada fenomena menarik untuk disimak anak bangsa, boleh dibilang Jalur Puncak Jawa Barat sedang dijajah bangsa Arab. Mungkin daerah lain akan menyusul. Ini ulangan sejarah.

Imperialisme / kolonialisme Arab telah berlangsung lama. Yang paling spektakuler terjadi pada abad-7, gerak maju mereka mencakup seantero wilayah dari Iberia (Eropa Barat) hinga Turkistan (Asia Tengah). Pesisir di Samudera Hindia dari Afrika Timur hingga Nusantara juga sempat lama mereka kuasai.

Kehadiran imperialisme / kolonialisme Barat sempat mendesak imperialisme / kolonialisme Arab, namun (pengaruh) imperialisme/ kolonialisme Arab tidak pernah sungguh-sungguh lenyap. Kadang kedua fihak berperang, kadang berdagang. Kadang bertanding, kadang bersanding. Ini juga terjadi di Nusantara.

Kini, abad-21 imperialisme / kolonialisme Arab bangkit kembali dengan jargon / kedok / bonceng “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah – yang dicanangkan sejak 1400 H / 1980 M. Mereka berperan penting secara langsung maupun tidak langsung dengan kasus ekstrimisme, radikalisme, anarkisme, vandalisme dan terorisme di sejumlah negeri – termasuk NKRI.

Walau latar belakang sejarahnya telah lama saya kenal, namun (masih) cukup mengejutkan saya. Tak disangka ternyata berbagai berita terkait kawin kontrak dan prostitusi di Puncak ada lebih banyak dibanding yang saya duga. Dan telah berlangsung relative cukup lama. Sekian lama saya mengenal imperialisme / kolonialisme Arab (hanya) hadir di pesisir Nusantara. Dan Jalur Puncak bukanlah pesisir, tapi pedalaman. Ternyata mereka telah merambah ke pedalaman.

Saya simak, bangsa ini sekian lama mengidap mental “Arab minded”. Apa yang dari Arab(i) mereka anggap Islam(i), apa yang dilakukan orang Arab dianggapnya halal – termasuk kawin kontrak dan prostitusi. Orang Indonesia diperlakukan seenaknya di Arabia, orang Arab diperlakukan enak di Indonesia. Arab hidup dicium tangannya, Arab mati dikeramatkan kuburnya.

Perlu dingat lagi, bahwa sejumlah agama, nabi, wahyu atau hal semacam itu - khususnya Nabi Muhammad SAAW dan al-Qur-an - itu hadir duluan di (dunia) Arab karena mereka (sangat) barbar. Butuh nabi dan malaikat langsung hadir ke tengah mereka. Jika bangsa sebarbar Arab dapat dibina, maka in syaa Allaah bangsa-bangsa lain – termasuk bangsa Indonesia - relatif lebih mudah dibina.

Contoh gamblangnya, mereka gemar menumpahkan darah sejak zaman batu hingga kini, abad dua puluh satu. Simak yang terjadi semisal di Yaman, Suriah, Iraq kini. Itu kisah lama. Yang tidak tahan, mengungsi keluar negeri – antara lain ke Nusantara. Kini, pengungsi terbanyak sedunia adalah bangsa Arab.

Kembali ke inti masalah. Jalur Puncak adalah jalur bersejarah, terkait erat dengan sejarah perjuangan nasional Indonesia. Jalur tersebut termasuk “De Groote Post” (Jalan Raya Pos) yang dibangun dengan korban besar rakyat atas perintah Gubernur Jenderal Hermann Willem Daendels (1808-11). Ketika Revolusi Nasional Indonesia 1945, jalur tersebut termasuk medan perang yang minta korban warga dan pejuang melawan penjajah. Betapa memilukan dan memalukan jika jalur tersebut kembali dijajah asing.

Jagalah wilayah NKRI dari setiap bentuk imperialisme / kolonialisme!


Salam “MERDEKA” dari seorang anggota keluarga Pejuang 1945!



Ganie, Indra – Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

Terimakasih Anonim atas Komentarnya di Budaya Turis Arab di Puncak Lahirkan Generasi Tanpa Harga Diri

Poskan Komentar