Rabu, 27 Agustus 2014

Home » » Keajaiban di Festival Lima Gunung Kabupaten Magelang

Keajaiban di Festival Lima Gunung Kabupaten Magelang

Anak-anak mementaskan tari Grasak Bocah saat tampil di Festival Lima Gunung XIII di Dusun Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (24/8/2014). Festival tahunan yang telah berlangsung selama 13 tahun ini menjadi tempat berkesenian warga desa. Dari berkesenian itu mereka saling membangun relasi kekeluargaan dan kebersamaan | (FOTO: KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA)


  
Mafaza-Online.Com | PENTAS - TRUNTUNG dan trethek merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat. Alat musik ini dimainkan secara bergantian oleh warga Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan kelompok Sapu Jagad Squad dari Solo. Dengan pentas yang diberi judul Harajukunan Trethek Truntung, lebih dari 20 orang terlibat, menampilkan musik rancak dan harmonis. Paduan yang begitu pas itu hanya dipersiapkan dalam waktu selang beberapa jam sebelum pentas.

Namun, di luar dugaan, Sapu Jagad Squad (SJS) tampil heboh, dengan baju, make up wajah dan rambut warna-warni, ala harajuku. Sebaliknya, warga Dusun Warangan yang berdiri di pentas tampil biasa saja, dengan kaus sekadarnya.

Pentas kesenian ini tampil membuka acara Festival Lima Gunung (FLG) XIII bertema ”Topo Ing Rame”, yang diselenggarakan di bawah naungan pohon-pohon cengkeh di Dusun Warangan. Acara tahunan FLG ini diselenggarakan oleh seniman yang tergabung dalam Kelompok Seniman Lima Gunung (KLG) di Kabupaten Magelang. Kali ini, pentas kesenian itu digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (24/8/2014).

Ketua SJS, Eko Supendi, mengatakan, dia dan rombongan sebenarnya sudah datang sejak Jumat (22/8/2014) dengan maksud ingin berlatih musik. Mereka mempersiapkan pementasan bersama dengan Handoko, salah seorang seniman tari dan musik di Dusun Warangan. Namun, apa daya, latihan batal karena Handoko masih sibuk mengurusi teknis penyelenggaraan FLG.

”Kami baru bisa latihan bersama pada Sabtu pagi. Setelah sharing, mengungkapkan ide masing-masing, dan berlatih sekitar tiga empat jam, enggak lama-lama kami pun bisa saling mencocokkan irama satu sama lain,” ujarnya. Harajukunan Trethek Truntung tampil pada Sabtu pukul 14.20.

ISI Surakarta

SJS adalah kelompok manajemen pementasan. Anggota SJS adalah alumni dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

SJS bukanlah satu-satunya ”pendatang” dalam FLG XIII. Dari 33 kelompok kesenian yang tampil, ada sedikitnya 10 ”bintang tamu” lainnya dan semuanya datang mendadak, satu malam sebelum, dan bahkan ada yang datang tepat pada hari H, gilirannya untuk tampil. Tanpa rangkaian proses geladi bersih, geladi kotor yang umumnya, menjadi ”prosedur umum” sebuah seni pertunjukan, semua seniman tetap tampil maksimal. Sulit dipercaya, tetapi penonton nyata menikmatinya.

Tak hanya dari proses persiapan pentas keseniannya, ”keajaiban” FLG juga terjadi pada persiapan soal dana. Ketua Komunitas Lima Gunung, Supadi Haryanto, mengatakan, ia sulit untuk menggambarkan berapa nominal dana yang dihabiskan karena tidak pernah ada hitung-hitungan yang tepat soal itu.


”Semua warga, semua seniman, semua yang terlibat sebagai panitia, pada intinya membantu, memberikan apa yang bisa diberikan secara sukarela,” ujarnya.

Supadi mengatakan, sejak 2008, Komunitas Lima Gunung sepakat untuk menyelenggarakan FLG secara mandiri. Karena itu, sejak FLG VIII hingga sekarang tak pernah ada selembar surat proposal pun melayang untuk meminta sumbangan.

Biaya sendiri

Karena ketiadaan dana, Supadi mengatakan, syarat bagi kelompok kesenian yang akan terlibat relatif sederhana. ”Mereka yang mau pentas di FLG harus mau menanggung biaya akomodasi sendiri karena kami tidak menyediakannya,” ujarnya.

Sutanto Mendut, budayawan yang sering kali disebut sebagai Presiden Lima Gunung, mengatakan, penyelenggaraan FLG sekaligus menjadi kritik keras untuk jajaran aparat pemerintah, yang sering kali membicarakan kegiatan, festival, sebagai aktivitas yang melulu berelasi dengan uang.

”Festival yang diselenggarakan pemerintah akhirnya menjadi acara yang tanpa spirit karena tidak dilakukan dengan hati,” ujarnya.

Sutanto mengatakan, FLG bisa terselenggara hingga sekarang karena didukung oleh kekuatan persahabatan di antara mereka. Tidak hanya hubungan antarseniman Komunitas Lima Gunung yang sudah terjalin sejak 17 tahun lalu, acara ini juga bisa terus ada dan terlaksana karena dukungan dan persahabatan dengan warga di kawasan lima gunung, tokoh-tokoh seniman lain, dan para wartawan.

Sutradara film Garin Nugroho, yang ikut hadir menjadi penonton, mengatakan, masyarakat gunung menjadi elemen penting untuk kehidupan bangsa, di mana dari gununglah masyarakat bisa mengubah kebudayaan di sejumlah tempat.

Lebih khusus lagi, menurut Garin, masyarakat lima gunung di Magelang yang dinamis, dengan berbagai aktivitas di dalamnya, adalah simbol dari perjuangan yang tidak pernah mati.

”Perlu ada kegilaan agar komunitas kesenian ini bisa terus langgeng seperti ini,” ujarnya.

Supadi mengatakan, penyelenggaraan Festival Lima Gunung hingga tahun ke-13 ini menggambarkan perjalanan yang penuh, di mana para seniman, dan siapa pun yang terlibat hanya ingin menyebarkan kebahagiaan dan menolong orang lain tanpa pamrih.

Dan Festival Lima Gunung di Dusun Warangan, Kabupaten Magelang, sudah menjalankan fungsinya menebarkan senyum ceria kepada ratusan orang yang menontonnya. Para seniman menjalankan misinya dan mereka yang terlibat mendapatkan tebaran kebahagiaan dan kegilaan mereka. Sesederhana itu saja.

Regina Rukmorini | KOMPAS CETAK



Silakan klik: 
 
Share this article :

Poskan Komentar