Minggu, 06 Juli 2014

Home » » Pelatihan Jurnalistik JITU

Pelatihan Jurnalistik JITU

Jurnalis dari 11 Media Islam Pelajari 'In Depth Reporting' di Bandung


  
Mafaza-Online.Com | BANDUNG – Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...! Gema takbir dari para Jurnalis Muslim yang hadir sebagai peserta, mengawali sesi pertama training jurnalistik yang digagas Jurnalis Islam Bersatu (JITU), sebuah wadah para Jurnalis Islam dari berbagai Media Islam, baik media cetak, elektronik, maupun online.

Materi pertamanya In Depth Reporting atau Pelaporan Mendalam, Selasa (24/06/2014). Hadir sebagai pembicara adalah Ustadz Artawijaya, Penulis Buku dan Wartawan Senior dari Majalah Sabiliku Bangkit.

Bertempat disebuah guest yang berudara sejuk, tepatnya terletak di Jalan Geger Kalong Hilir, Bandung, para peserta yang berjumlah 23 orang perwakilan dari berbagai Media Islam duduk melingkar dengan beberapa meja. Sehingga suasana santai dan sederhana sangat terasa dalam training yang berlangsung selama dua hari ini. Apalagi diselingi joke yang membuat pembicara dan para peserta tersenyum.

Dua puluh tiga peserta dari 11 media dan 1 organizer tersebut merupakan perwakilan jurnalis dari media Islam yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yaitu:

Voa-islam.com, Alhikmah.co, Arrahmah.com, Islampos.com, Suara-islam.com, Salam-online.com, Kiblat.net, Hidayatullah.com, Idc.news.com, Muslimdaily.net, Jurnalislam.com serta BumiSyam Organizer.

Sebelum memparkan materinya, Artawijaya meminta pandangan dari para peserta apa yang dimaksud Pers Islam. Dari jawaban peserta yang merupakan perwakilan dari media-media Islam yang hadir, dapat ditarik kesimpulam bahwa Pers Islam yaitu Pers yang menyebarkan nilai-nilai Islam, menggerakan masyarakat untuk bergerak melaksakan nilai-nilai Islam, Pers Islam sebagai amar ma’ruf nahi munkar, Pers Islam dalam kegiatan atau proses produksi selalu berpijak pada al-Qur’an dan as-Sunnah, Pers Islam adalah Pers dengan Islamic world view atau cara pandang Islam dalam melihat sebuah peristiwa.

Setelah mendengar pandangan para Jurnalis Muslim tentang Pers Islam, sebagai pengantar Artawijaya menyampaikan tentang para ulama dahulu yang menjadi dai sekaligus juga penulis. Sebagai contoh Ia menyebut Imam Malik, Buya Hamka, Natsir, Isa Anshari, sebagai sosok dai sekaligus juga penulis.

“Kalau Imam Malik tidak bisa nulis, maka tidak akan lahir yang namanya kitab Al-Muwatha” katanya.

Artawijaya memaparkan materinya dimulai dari apa saja tugas-tugas dari seorang jurnalis. Menurutnya tugas seorang jurnalis (Muslim) adalah membuktikan informasi yang didapat dengan menemukan kebenaran atau faktanya, karena fakta tidak ditemukan di belakang meja namun fakta didapatkan di jantung peristiwa.

Jurnalis adalah seorang generalis. Ia harus banyak tahu meskipun dalam sedikit hal. Berbeda dengan seorang spesialis ia hanya banyak tahu dalam satu hal. Untuk itu, seorang jurnalis harus rajin membaca. Baik dari buku, jurnal, koran, majalah, ataupun internet. Selain membaca, jurnalis juga harus banyak mendengar ketika orang membicarakan informasi.


    ...Jurnalis adalah seorang generalis. Ia harus banyak tahu meskipun dalam sedikit hal. Berbeda dengan seorang spesialis ia hanya banyak tahu dalam satu hal...

Kemudian, yang dibutuhkan bagi seorang jurnalis adalah vitalitas, mental pantang menyerah dalam memburu narasumber. Terakhir, seorang jurnalis harus memahami elemen-elemen jurnalisme seperti berpegang teguh pada kebenaran, menjaga independensi, menyediakan ruang publik untuk diskusi, seperti surat pembaca atau kolom komentar dalam media online, serta memberitakan hal-hal yang penting untuk kepentingan publik atau umat.

In depth reporting sendiri oleh Artawijaya dalam kesempatan training ini diartikan sebagai peliputan mendalam yang melibatkan banyak narasumber (cover all side) dalam mengumpulkan fakta-fakta. Sering juga disebut dengan istilah “Reportase Madya” atau “Reportase Lanjutan” dari reportase sebelumnya yang bersifat permulaan yang hanya mengedepankan cover both side. In depth reporting saat ini banyak ditulis dengan menggunakan gaya feature (news feature) atau jurnalisme bertutur (narrative journalism), yang sekarang terkenal dengan istilah “Jurnalisme Sastrawi”.

Perbedaan antara in depth reporting dengan investigation reporting (laporan investigasi) juga dipaparkan dengan cukup jelas oleh Ustadz Artawijaya. Perbedaannya, jika dalam in depth reporting fakta-fakta yang ada tidak ditutup-tutupi alias akses terbuka. Sedangkan dalam investigation reporting fakta-fakta disembunyikan, kemudian akses ke narasumber tertutup, sulit, bahkan dihalang-halangi. Investigation reporting biasanya terkait dengan isu publik yang sangat besar dan berdampak luas, seperti korupsi atau adanya sebuah skandal.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang jurnalis sebelum melakukan reportase mendalam? Ustadz Artawijaya menjelaskan. Pertama, melakukan riset terkait tema yang akan menjadi objek peliputan. Kedua, menginventarisir hal-hal yang menjadi fact news (fakta berita). Ketiga, menentukan narasumber yang tepat. Keempat, mengenal atau mempelajari situasi dan kondisi lapangan.

Selanjutnya apa yang harus dilakukan di lapangan saat melakukan reportase? Alumnui Pesantren Persis Bangil memaparkan yang harus dilakukan adalah memburu narasumber dengan segala kemampuan atau pantang menyerah sehingga tercipta cover all side. Mencatat hal-hal baru yang ditemukan di lapangan, disiplin melakukan verifikasi, serta mencari sisi-sisi unik dan menarik dalam peliputan.

Tujuan dari in depth reporting yaitu berusaha membongkar berita dari sisi “ada apanya”. Sementara reportase biasa menuliskan berita sekedar “apa adanya”. Agar mudah dipahami oleh para peserta, materi-materi teoritis tersebut dijelaskan dengan pengalaman-pengalaman Ustadz Artawijaya saat menjadi wartawan di majalah Sabili selama kurang lebih 8 tahun. Pengalaman-pengalamannya ketika sebelum, saat melaporkan reportase di lapangan, ia jadikan contoh. Terutama pengalamannya ketika memburu narasumber

Misalnya, Ia mencontohkan ketika itu para wartawan tidak dibolehkan untuk mewawancarai Ustadz Abu Bakar Baasyir yang berada dakam penjara. Namun, ia tidak patah arang, ia kemudian memasukkan tape recordernya ke dalam rantang seorang ibu yang saat itu bersamaan sedang menjenguk Ustadz Abu. Tape recorder itu akhirnya bisa masuk, karena sang Ibu yang membawa rantang itu tidak diperiksa oleh petugas. Wawancara pun bisa dilakukan dengan Ustadz Abu, yang ketika itu memasukkan tape recorder ke dalam saku gamisnya, serta wawancara dilakukan seperti orang yang sedang mengobrol.

Penulis buku Jaringan Yahudi Internasional ini juga membagi tips bagaimana ketika Jurnalis Muslim kesulitan ketika akan mewawancarai orang-orang yang bersebrangan dan berbeda pemikiran dengannya, seperti mewawancarai tokoh-tokoh dari Jaringan Islam Liberal. Ustadz Artawijaya membagi pengalamannya.

Saat Ia berencana mewawancarai seorang tokoh perempuan liberal Musdah Mulia, pada awalnya Musda menolaknya, mungkin karena dirinya merupakan wartawan dari majalah Sabili yang dikenal sering menyerang pemikiran-pemikiran dari JIL. Namun, Ia tak patah arang,

Ia berstrategi dengan mengatakan kepada Musda, jika dia tidak bersedia diwawancara maka jangan salahkan jika media Islam menghakimi Anda dengan satu pihak. Ketika Ia berkata seperti itu, akhirnya tokoh liberal itu bersedia untuk diwawancarai, walaupun ketika hari wawancaranya Ia harus menunggunya sekitar 2 jam, dan mendapatkan “comelan” pula.

Selain itu, Ustadz Artawiaya juga menceritakan pengalamannya ketika dirinya meliput di daerah-daerah konflik seperti Poso, Ambon, Aceh, bahkan di Jakarta. Ia berpesan ketika akan meliput di daerah konflik, maka persiapkanlah semuanya dengan baik. Mulai dari persiapan mental sampai dengan persiapan yang bersifat teknis.

Ia berpesan kepada para Jurnalis Muslim yang hadir dalam training jurnalistik dan umumnya kepada semua Jurnalis Muslim, untuk selalu bersabar dan pantang menyerah ketika dalam memburu narasumber, serta harus berani untuk terjun ke lapangan. Kemudian yang tidak kalah penting, seorang Jurnalis Muslim harus menimbang-nimbang dulu ketika akan menyebarkan sebuah berita. Pikirkan maslahat dan mudharatnya utamanya bagi umat Islam.

Penulis buku Belajar Dari Partai Masyumi ini pada akhirnya berharap setelah mengikuti ini, tulisan-tulisan dari Jurnalis-Jurnalis Muslim semakin berkualitas. Tulisan-tulisan yang berkualitas otomatis akan meningkatkan profesionalitas media-media Islam. Ketika sudah profesionalitas, media Islam bukan hanya akan dibaca oleh umat Islam saja, tapi orang-orang yang anti Islam-pun akan membaca media Islam dan tidak akan meremehkannya.

“Jurnalis Muslim itu lebih hebat dari Jurnalis Sekuler” tegas Ustadz Artawijaya kepada para peserta.

Pada hari berikutnya Rabu (25/06/2014) materi yang dipelajari dalam training para Jurnalis Muslim adalah “Mengemas Isu, Membingkai Peristiwa, serta Menuliskannya dengan Segera” yang disampaikan oleh Dery Fitriadi, Jurnalis dari Inilah.com. Dilanjut dengan materi “Meliput di Wilayah Konflik” yang akan disampaikan oleh H. Usep Romli, Jurnalis Senior, Mantar Redaktur Harian Umum Pikiran Rakyat, pernah meliput Irak dan juga mewawancarai (Alm) Abdul Aziz Rantisi (Komandan Izudin Al Qassam HAMAS). Kegiatan ini sendiri yang dimulai dari pada 23 Juni 2014, akan berakhir pada 25 Juni 2014.

“Kegiatan ini tentu saja membuat kami para Jurnalis Muslim, selain mendapatkan ilmu yang banyak dari pemateri, tapi juga semakin bersemangat untuk berdakwah melalui tulisan dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar” pungkas peserta dari Voa-islam.

ADI|VOA-ISLAM.COM




Silakan klik:   
 

Share this article :

Poskan Komentar