Senin, 21 April 2014

Home » » Surahman : Politisasi UN, Kemendikbud Harus Lakukan Investigasi

Surahman : Politisasi UN, Kemendikbud Harus Lakukan Investigasi

Materi biografi singkat tentang, salah satu calon presiden pada Pilpres 9 Juli 2014, dapat di artikan sebagai salah satu bentuk kampanye terselubung



 


Anggota Komisi X DPR RI DR. Surahman Hidayat,MA
 
Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Munculnya konten soal ujian berbau politik pada Ujian Nasional (UN) menuai respon dari berbagai pihak. Sejumlah pihak menyebut, materi biografi singkat tentang, salah satu calon presiden pada Pilpres 9 Juli 2014, dapat di artikan sebagai salah satu bentuk kampanye terselubung.

Surahman Hidayat, anggota Komisi X DPR RI, menyatakan bahwa kejadian ini dapat mencoreng kredibilitas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penyelenggara UN. “Kredibilitas Kemendikbud dipertaruhkan. Mengingat pada Konvensi Ujian Nasional, akhir September tahun lalu, dicanangkan penyelenggaraan UN yang bermartabat: kredibel, reliabel, dan akuntabel,” kata Surahman.

Kemendikbud sebenarnya telah mengadopsi soal-soal berstandar internasional sekelas Programme International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), tetapi hal ini tetap saja terjadi.

“Mengapa dengan konsep kualitas soal UN kelas dunia, bisa muncul materi berbau kampanye dan politik praktis sampai tiga kali dalam lembar soal UN,” heran Surahman.

Surahman berasumsi bahwa Kemendikbud  tentu tidak sembarangan menunjuk tim penyusun soal-soal UN. Mereka adalah guru-guru berprestasi, dosen, dan para ahli yang berpengalaman di bidangnya, yang memiliki visi, kredibilitas, dan integritas yang tidak diragukan.

“Kemendikbud harus melakukan investigasi kasus ini untuk mengetahui motif dan memastikan dunia pendidikan benar-benar steril, tidak ditumpangi oleh kepentingan politik tertentu. Kemendikbud juga harus arif menjaga etika dan menyadari momentum politik yang sensitif menjelang pilpres, materi UN tidak berspekulasi politik,” pungkas Surahman.

Peserta ujian SMA dan sederajat adalah pemilih pemula pada Pilpres 9 Juli mendatang. Sebanyak 18.334.458 adalah pemilih pemula, atau 10 persen dari daftar pemilih tetap 186.569.233 orang. Para siswa ujian UN SMA dan sederajat ini juga diyakini memilih atas dasar pertimbangan rasional, karenanya tidak sepantasnya UN dijadikan instrumen “rasional” untuk menanamkan nilai, membangun mindset dan memengaruhi, apalagi menggiring pilihan politik para pemilih pemula. 




Silakan klik:





Share this article :

Poskan Komentar