Kamis, 17 April 2014

Home » » Rizal Ramli: Presiden 2014 Harus Berkarakter!

Rizal Ramli: Presiden 2014 Harus Berkarakter!


Dengan sistem Presidensial, kedudukan Presiden sangat kuat


 
Mafaza-Online.Com | NASIONAL- Calon Presiden Konvensi Rakyat 2014 Riza Ramli mengingatkan, bahwa Indonesia sampai saat ini menganut sistem Presidensial. Konstitusi juga memberi Presiden hak prerogatif dalam memilih para menteri sebagai pembantunya. Ke depan, kita memerlukan Presiden yang memiliki karakter kuat agar mampu membawa Indonesia menjadi negara maju dan disegani yang rakyatnya sejahtera.

“Dengan memiliki karakter yang kuat, Presiden bisa memimpin kabinet secara efektif. Para menteri akan terpacu untuk bekerja sekuat tenaga untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia,” ujar Rizal Ramli kepada wartawan, Selasa (15/4)

Sebelumnya banyak kalangan menilai karakter dan leadership Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) amat lemah. Hal itu antara lain ditandai dengan tidak efektifnya kinerja kabinet kendati telah berkuasa hampir 10 tahun. Masing-masing menteri bekerja sesuai dengan agenda pribadi dan partai tempat mereka berasal. Akibatnya tidak ada koordinasi di antara para menteri. Bahkan banyak di antara mereka yang justru tersandung masalah hukum karena korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Terkait hal itu, Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid yang sukses mengebut pembahasan APBN hanya dalam tempo tiga hari ini berpendapat, semua masalah tersebut bisa dicegah sejak awal kalau Presiden punya karaketer yang kuat. Dengan dukungan rakyat yang sangat besar saat Pilpres, ditambah hak prerogatif yang diberikan konstitusi, seharusnya membuat Presiden bisa memilih para menterinya tanpa tersandera kepentingan parpol lain. Begitu seorang menteri dianggap tidak performed atau ditenggarai bermasalah dengan hukum, Presiden bisa langsung menonaktifkan.

“Sayangnya selama 10 tahun terakhir ini kita punya Presiden yang lemah karakternya. Kita masih ingat, bagaimana rekrutmen calon menteri jadi sangat heboh seperti sinetron saja. Ada wawancara, tes kesehatan, tes psikologi, kontrak politik, dan lainnya. Hasilnya, tetap saja kabinet tidak efektif. Bahkan banyak menteri kemudian bermasalah dengan hukum.  Semua itu sama sekali tidak perlu, kalau saja Presiden punya karakter yang kuat,” tukas Kepala Bulog era Gus Dur yang berhasil meningkatkan efisiensi besar-besaran lembaga yang di masa lalu pernah dikenal paling korup kedua setelah Pertamina tersebut.

Dia menambahkan, tidak semestinya Presiden disibukkan dengan semua heboh dan kontrak politik saat merekrut para menteri. Itu semua tugas konsultan, bukan Presiden. Seorang Presiden harus mampu ‘membaca’ orang, sehingga bisa memilih para pembantunya dengan tepat, sesuai dengan integritas dan kapasitasnya.

Masih seputar syarat Presiden Indonesia ke depan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini menyebutkan, selain karakter masih ada tiga lain. Yaitu, punya visi, kompetensi, dan popularitas. Karakter, visi, dan kompetensi tidak bisa direkayasa. Tiga syarat itulah yang telah melahirkan  para pemimpin  besar dunia.  Mereka di antaranya Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya.

“Kalau pemimpin hanya mengandalkan popularitas, maka kita akan terjebak seperti di Filipina. Di sana, pemimpin hanya dari kalangan keluarga kaya atau artis saja. Rakyat mengabaikan integritas, kompetensi, dan rekam jejak sang capres. Akibatnya, Filipina tidak pernah menjadi bangsa besar dan kuat,” kata capres yang di kalangan Nahdiyin akrab disapa Gus Romli ini. 




Silakan klik:  
Share this article :

Poskan Komentar