Rabu, 23 April 2014

Home » » Nasib Orang yang Melupakan Agama Allah

Nasib Orang yang Melupakan Agama Allah

Agama diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan di muka bumi ini sehingga konsekuensinya adalah Allah memberikan balasan di dunia dan akhirat


 
Mafaza-Online.Com | TAKWIN - Ketika seseorang menjalankan agama dengan baik dan sungguh-sungguh maka pahala itu tidak sebatas menunggu di akhirat kelak tapi seiring ia tunduk kepada Agama Allah maka akan segera meraih keberuntungan sepanjang kehidupan di dunia ini. Oleh karenanya mari kita rasakan kenikmatan di balik bimbingan Agama Allah ini. Sebab Allah telah memperingatkan bahwa siapa yang mengingkari, menolak ajakan dan peringatan Allah dan Rasul-Nya saw maka ia akan mendapatkan balasan di akhirat kelak.

Dalam Surat Thoha: 124-126 Allah SWT berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". “Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaha [22] : 125-126).

Allah SWT mengingatkan kepada orang-orang yang berpaling dari peringatan-Nya (yakni agama yang diturunkan Allah) bahwa ia akan mendapatkan 2 sangsi. Sangsi pertama adalah di dunia berupa kehidupan yang sempit (sulit).

Ayat ini menggunakan kata ‘Ma’isyah’ [مَعِيشَةً] yakni bentuk umum dari kehidupan umat manusia yang banyak aspeknya. Ketika kehidupan yang bersifat umum (global) menjadi sulit maka betapa rugi ia. Artinya barang siapa yang berpaling dari peringatan, seruan dan agama Allah SWT, maka seluruh aspek kehidupannya menjadi sempit (mengalami kesulitan).

Dalam kehidupan ada sisi-sisi kehidupan rumah tangga, ekonomi, sosial, dan lainnya. Sehingga istilah ‘Maisyatan dhonka’ [مَعِيشَةً ضَنكًا] dalam konteks yang makro seperti berbangsa dan bernegara, menjauhi atau melupakan Agama Allah dapat menyebabkan bangunan kehidupan bernegara menjadi rapuh, selalu dirongrong berbagai macam bentuk gangguan yang menghinakan bangsa itu sendiri.

Inilah yang disebut sebagai krisis multi dimensi, yakni kehidupan global yang dibelit dengan berbagai persoalan yang tidak ada ujungnya. Yang demikian itu merupakan akibat seseorang atau bangsa ini berpaling dari agama Allah, yang diawali dengan kondisi hati yang tertutup, menolak, lalai dari peringatan Allah. Kehidupannya menjadi sulit meski hartanya banyak. Hatinya kerdil, hampa, tidak ada ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki.

Kita telah menyaksikan bagaimana itu semua terjadi pada kondisi umat secara umum. Keberkahan betapa sulit diraih. Rizki dalam bentuk benda bisa banyak melimpah tapi tidak ada keberkahan di dalamnya. Inilah yang membuat jiwa (hati) tidak bahagia dan damai secara hakiki. Sebab ini adalah konsekuensi yang terjadi pada siapapun baik individu maupun kolektif yang berani berpaling dari agama Allah.

Agama Allah adalah karunia terbesar dan sempurna. Agama merupakan petunjuk bagi manusia untuk mengenal Allah. Di saat mendekat kepada Allah maka Allah turunkan ketenangan dan kedamaian yang hakiki.

Konsekuensi kedua adalah yang akan diterima di alam akhirat yang belum pernah kita lewati. Wanahsyuruhu yawmal qiyaamati a’maa [وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى]. Allah akan himpun orang-orang yang berpaling dari Agama Allah dengan keadaan buta. Buta dari pertolongan (syafa’at) Allah, sebab saat ia melihat amal-amalnya yang akan dipertanggungjawabkan begitu banyak kekurangan dan kekeliruannya, begitu banyak dosa-dosa yang telah dilakukan dan tidak ada yang menolongnya. Ia terlunta-lunta, buta, sulit bergerak dan bingung untuk melangkah.

Itulah konsekuensi kedua yang akan diterima di mahsyar nanti ketika alam jagad raya hancur, kemudian semua manusia dibangkitkan dalam kubur dan dihimpunkan di padang mahsyar. Disitulah manusia akan mendapatkan balasan jaza-aw wifaaqoo jaza-ul awfaa, balasan yang setimpal dan sesungguhnya. Sekecil apapun amal baik atau buruk akan diperlihatkan.

Ketika ia buta tidak ada tempat untuk berlindung dan bernaung. Inilah kondisi yang amat memprihatinkan sebab kehidupan yang dihadapinya abadi. Kemudian ia bertanya kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku mengapa aku dikumpulkan di mahsyar ini dalam keadaan buta padahal aku ketika di dunia bisa melihat?’ Inilah pertanyaan yang diajukan mereka yang telah berputus asa.

Allah menjawab hanya satu kali, ‘Demikianlah, sebab telah datang ketika di dunia ayat-ayat Kami, tanda-tanda bahwa Kami ada (eksis), Kami adalah sebagai Tuhan. Telah datang Agama, petunjuk, dan orang-orang yang menyampaikan risalah kepada engkau, bahkan kondisi ini telah disampaikan ketika di dunia. Tapi bagaimana sikap engkau? Engkau melupakannya, pura-pura tidak dengar, apriori, tidak mau merespon ajakan Allah yang mulia ini. Dan demikianlah pada hari ini merupakan balasan, engkau dilupakan Aku.

Bayangkan hari itu adalah hari pembalasan, sedang ia dalam keadaan buta karena ketika di dunia ia tidak peduli (respon) dengan agama. Pantas pada hari itu ia dibiarkan (dilupakan) oleh Allah. Betapa menyakitkan yang ia rasakan pada saat itu sementara orang-orang lain sedang merasakan kebahagiaan beserta dengan pembimbingnya, para Nabi, Shidhiqin, Syuhada dan Shalihin.

Inilah konsekuensi yang dipertegas Allah bahwa hidup ini bukanlah milik kita. Hidup ini adalah anugerah Allah SWT. Apabila hidup ini milik kita maka pertahankan sampai apanpun. Tapi karena kehidupan ini adalah semata-mata anugerah Allah maka kita mesti tunduk pada aturan Allah. Sebab aturan Allah SWT bertujuan untuk membahagiakan kita sendiri sebagai ciptaan-Nya.

Mudah-mudahan kita terhindar dari ancaman berat tersebut, dan termasuk orang-orang yang merespon Agama Allah dengan  hati yang tulus, pasrah yang total. Yakinkan bahwa di balik Agama Allah ini justru terdapat kebahagiaan, dan bukan keuntungan untuk Allah taai untuk hamba-hamba-Nya. Allah ingin membahagiakan hamba-hamba-Nya sejak di dunia ini hingga akhirat yang abadi.

Syaikh Muhammad Faturahman MAg
Sumber: Khutbah, 15 November 2013




Silakan klik:  
Share this article :

Poskan Komentar