Jumat, 22 November 2013

Home » » Berawal dari Iseng, Dokter Helmy Membuat Mobil Berbahan Bakar Angin

Berawal dari Iseng, Dokter Helmy Membuat Mobil Berbahan Bakar Angin

dr Helmy Djafar bersama mobil bertenaga angin hasil karyanya | (foto.tribun)
Mafaza-Online.Com | IPTEK - Semakin banyak orang kini berusaha mencari terobosan guna membuat energi alternatif. Hal itu setidaknya dipengaruhi melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian hari dirasa semakin mencekik.

Salah satu terobosan dilakukan seorang dokter di Surabaya, Helmy Djafar. Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mencoba sebuah riset mengenai mobil berbahan bakar angin.

Awalnya Helmy hanya sekedar hobi utak atik pada 15 tahun lalu. Ketika itu ia memiliki prototipe mobil terbang yang digerakkan dengan gelombang suara.

"Saya suka utak-atik, jadi masih bentuk mainan digerakkan dengan suara," kata Helmy saat berkunjung ke kantor redaksi, Jumat(8/11/2013) malam.

Usai sering melakukan banyak uji coba, pria 44 tahun itu lalu mengajak beberapa temannya seperti Adang Mansur, M Iksan dan Sumadji. Mereka bertiga kemudian membuat konsep mengenai mobil berbahan bakar angin.

Mobil tersebut didesain dengan menggunakan alat bantu berupa tabung oksigen berisi 56 liter. Lalu, mereka mencari sebuah mobil bekas bermerk Daihatsu Hi Jet senilai Rp 7,5 juta dan dibongkar seluruh mesinnya serta hanya disisakan sasis, kemudi serta persnelingnya.

Satu tabung berisi angin tersebut kata Helmy bisa menempuh jarak tiga sampai empat kilometer.

"Coba kalau bagian lekukan tempat duduk kita kasih tabung, lalu diatas kita kasih tabung jadi total 24, maka tinggal dikali tiga saja jarak tempuhnya," kata Helmy.

Memang, lanjut Helmy mobil karyanya tersebut jauh dari kata sempurna. Akan tetapi terdapat banyak keuntungan apabila nantinya benar-benar dipasarkan ke seluruh rakyat Indonesia dengan harga yang murah, meski biaya produksinya sangat mahal, mencapai Rp 300 Juta.

"Total biaya riset sampai 300 juta, ratusan kali gagal," kata Helmy.

Mobil berbahan bakar udara ini lanjut Helmy juga sangat irit dibandingkan dengan mobil listrik. Tiap 10 kilometer biaya yang dihabiskan tidak lebih dari Rp 100.

Tidak hanya itu, emisi gas buang dari kendaraan ini juga bisa dimanfaatkan menjadi pendingin ruangan atau AC yang dipakai di dalam mobil.

"Ini udara biasa posisinya dimampatkan, outputnya jadi AC dingin. Jadi, mesinnya kalau habis dipakai, pertama itu ada bunga esnya," katanya. (tribun)


Silakan di Klik:
 ⌣»̶•̵̭̌•̵✽̤̈M-STORE LengkapiKebutuhanAnda✽̤̈•̵•̵̭̌«̶⌣


Share this article :

Poskan Komentar