Minggu, 01 September 2013

Home » » Pemerintah Alami Defisit Kepercayaan

Pemerintah Alami Defisit Kepercayaan

Berbagai indikator makro ekonomi terus merosot

Mafaza-Online.Com | JAKARTA - Tugas utama pemerintah sampai akhir Desember ini adalah harus mampu menurunkan Quatro-Deficits (Empat Defisit)  yang kini terjadi. Empat defisit sekaligus itulah yang terus menekan nilai tukar rupiah, sekaligus membuat ekonomi nasional dalam status ‘lampu kuning’, sehingga Rupiah anjlok ke Rp 11.350/US$. Jika tidak segera diatasi, bukan mustahil Indonesia akan masuk ke status ‘lampu merah’ seperti yang terjadi pada saat krisis moneter tahun 1998. Itulah paparan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli saat bicara di Metro TV, Rabu malam (28/8).

Pemerintah, masih kata Rizal Ramli, harus bisa menekan empat deficit itu secepatnya. Defisit transaksi berjalan, misalnya, kalau sekarang -US$9,8 miliar, maka pada akhir tahun minimal harus tinggal setengahnya, sekitar -US$5 miliar. Kalau  pemerintah bisa menekan quatro-deficit seperti itu, baru orang percaya pemerintah credible.

Tapi masalahnya, selama ini terbukti pemerintah tidak mampu fokus. Padahal keempat defisit tersebut tidak terjadi dalam semalam. Tanda-tanda kemerosotannya telah terjadi selama 2 tahun terakhir. Tidak ada antisipasi, tidak ada kebijakan alternatif, baru kaget setelah terjadi.


“Presiden dan para menterinya justru sibuk melakukan pencitraan untuk kepentingan 2014. Akibatnya rakyat yang menjadi korban,” ungkap Rizal Ramli.

Kondisi saat ini berbeda dengan tahun 2008 ketika terjadi krisis ekonomi Amerika. Pada saat itu, seluruh indikator fundamental ekonomi makro Indonesia positif. Apalagi rasio ekspor/GDP Indonesia hanya 25% sehingga krisis 2008 tidak terlalu berdampak terhadap ekonomi Indonesia.

Saat ini nyaris semua indikator fundamental ekonomi Indonesia negatif (defisit), ditambah dengan berakhirnya siklus booming komoditas dan pengurangan ekspansi likuiditas di Amerika. Faktor-faktor internal dan eksternal itulah yang menyebabkan rupiah bisa terjun ke 13.000-14.000 per dollar, kecuali defisit transaksi berjalan bisa dikurangi setengahnya sampai akhir Desember 2013.

Menurut calon presiden paling ideal versi The President Centre ini, bukti tidak fokusnya pemerintah dapat dilihat dari stimulus ekonomi yang baru diterbitkan ternyata tidak ada gregetnya. Semuanya serba biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Akibatnya, para pelaku ekonomi malah memberikan respon negatif.

Quatro-deficits sekaligus yang dimaksudkannya itu adalah defisit Neraca Perdagangan sebesar -U$6 miliar, defisit Neraca Pembayaran -U$9,8 miliar, deficit Balance Of Payments -U$6,6 miliar pada Q1-2013, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp2.100 triliun. Ini benar-benar bahaya.

Selama tiga bulan terakhir cadangan devisa sudah berkurang  –US$14,6 miliar. Kemerosotannya lebih besar,  -US$20 miliar, jika dibandingkan posisi akhir tahun lalu. Sampai 31 Juli 2013 cadangan devisa tinggal US$92,7 miliar. Padahal, sampai akhir Agustus 2011 cadangan devisa masih US$124,6 miliar.

Pertanyaannya, masih kata Rizal Ramli, kemana saja pemerintah kita selama ini? Kok bisa, memburuknya berbagai indikator makro itu dibiarkan saja terus terjadi? Apa karena SBY dan para menterinya sibuk berpolitik? Yang pasti, akibat pemerintah "telmi" alias telat mikir, rakyat jadi korban. Setelah terpukul naiknya harga pada Ronde 1 akibat kenaikan harga BBM dan bulan puasa, rakyat kembali terpukul akibat kenaikan harga pangan Ronde 2 sebesar 10-15% karena anjloknya nilai tukar Rupiah.

“Saya sudah sarankan sejumlah langkah untuk menurunkan harga pangan sejak tiga bulan lalu ke Kepala Bulog, Menteri Perdagangan dan melalui media masa. Namun saran-saran itu  diabaikan,” ungkap Rizal Ramli.

Sedangkan menyangkut terus melemahnya rupiah, Capres yang di kalangan Nahdiyin akrab disapa Gus Romli ini menyatakan, hal itu lebih banyak disebabkan memburuknya indikator-indikator makro ekonomi. Ditambah dengan besarnya jatuh tempo utang dolar pemerintah dan swasta, sekitar $27 milyar, dalam waktu dekat ini, rupiah pun semakin tertekan.

Sehubungan dengan itu, dia berpendapat upaya Bank Indonesia (BI) yang terus-menerus melakukan intervensi dengan menjual dolar hanya akan sia-sia. Langkah itu ibarat ‘menggarami laut’ yang justru berakibat makin tergerusnya devisa.

Masalah yang dihadapi Indonesia memang sangat berat. Pasalnya, quatro defisits itu juga ditambah dengan defisit kepercayaan dan kredibilitas atas kesungguhan dan kemampuan pemerintah menyelesaikan masalah. Perlu dicatat pada tahun 1998, defisit kepercayaan di tengah-tengah kemerosotan ekonomi makro serta gejolak eksternal, akhirnya berujung pada perubahan politik. 



MafazaOnline Peduli (MOP)MOP Adalah dana yang dihimpun dari pembaca. Untuk membantu dakwah Islam.

Mari bersinergi, Kirim bantuan melalui
Bank Muamalat Norek: 020 896 7284
Syariah Mandiri norek 069 703 1963.
BCA norek 412 1181 643
a/n Eman Mulyatman


Setelah transfer kirim sms konfirmasi ke 0878 7648 7687 Dengan format: Nama/Alamat/Jumlah/Bank/Peruntukkan (Pilih salah satu)
1. Desa Binaan 2. Motor Dai 3. Peralatan Shalat 4. Wakaf Al-Qur’an
5. Beasiswa 6. Dunia Islam

Syukran Jazakumullah Khairan Katsira

Klik Juga 

Pusat Penjualan Herbal Berizin Resmi dan Berkhasiat
Share this article :

Posting Komentar